Film: Ghost in the Shell (2017)

Satu-satunya Ghost in the Shell yang pernah saya tonton adalah serial animasi musim pertamanya, Stand Alone Complex. Bukan salah satu serial animasi terfavorit saya, tapi saya suka bagaimana ceritanya begitu impersonal; Alih-alih mengandalkan drama dan konflik antar protagonisnya, Motoko dan kawan-kawan di Section 9 ‘hanyalah’ pengamat dan partisipan dalam konflik yang terjadi di masyarakat akibat semakin kaburnya batas antara teknologi dan manusia. Dengan bias demikian, saya jadi agak pesimis ketika pertama kali melihat trailer dan membaca sinopsis film Ghost in the Shell (2017).

GitS versi Hollywood ini tampaknya mengambil sudut yang lebih pribadi. Mira Killian adalah Motoko di versi ini – manusia pertama dengan tubuh yang sepenuhnya sintetik karena tubuh aslinya hancur setelah kapal yang ia tumpangi bersama keluarganya dibom teroris. Hanka Robotics, perusahaan yang mensponsori penyelamatan Killian, kemudian mengarahkannya untuk bergabung dalam Section 9, sebuah biro anti-terorisme. Pada suatu insiden, mereka harus menyelidiki seorang hacker dengan kata sandi Kuze. Dalam penyelidikannya Killian menemukan bahwa Kuze mungkin terkait dengan masa lalunya yang gelap, dan ini membuat Killian mempertanyakan identitas dan ingatannya sendiri.

Saya sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan kalau film ini ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan sosio-filosofis yang berat, tapi… niat GitS untuk mengisahkan sesuatu yang lebih personal kayaknya tidak bisa diimbangi oleh skenario dan akting pemeran utamanya. Niatnya sendiri terasa tidak begitu fokus, karena sepertiga pertama film saya disuguhi cerita prosedural seperti Stand Alone Complex: Ada kejahatan siber, dan Section 9 ditugaskan menyelidikinya. Namun bahkan ketika GitS mulai fokus ke karakter Killian, ceritanya masih relatif dangkal; Killian yang mulai meragukan siapa sebenarnya diri aslinya – di balik cangkang tubuh buatan – mestinya bisa jadi adegan yang intens secara emosional, tapi film ini gagal menyampaikannya.

Berkaitan dengan itu, Scarlett Johannson sebagai Mira Killian juga kelihatannya salah casting sebagai ‘Motoko’ untuk film ini. Selain masalah whitewashing, aktingnya terasa… membingungkan? Mungkin Johannson mempelajari bagaimana ‘Motoko’ bersikap dari film dan serial animasinya, tapi penggambaran ‘Motoko’ di situ menurut saya kurang cocok disandingkan dengan tema cerita yang ingin disampaikan oleh film GitS yang ini. Di animasinya, Motoko yang sudah berusia matang, hidup lama sebagai manusia artifisial, berpengalaman tempur, dan sudah ajeg dengan identitasnya terasa pantas bersikap serba cool, calm, confident di segala situasi; Di film ini, sifat begitu terasa salah ketika disematkan pada Mira Killian yang baru setahun mendiami tubuh barunya dan masih gamang dengan realita di sekitarnya.

Mungkin satu-satunya hal positif yang bisa dilihat dari GitS adalah arahan visual cyberpunk yang mendekati sumber aslinya. Namun untuk yang lainnya, film ini jadi begitu mengecewakan karena terasa nanggung dan tidak otentik. GitS tampak kepayahan dalam menggunakan elemen-elemen serial Ghost in the Shell tanpa benar-benar paham maksud sebenarnya, dan pada akhirnya kembali berlindung dalam klise-klise khas Hollywood demi menarik perhatian penonton mainstream.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s