Film: Star Wars: The Last Jedi (2017)

Meskipun Star Wars adalah salah satu ikon paling terkenal dari budaya pop, entah kenapa saya tak pernah merasa antusias untuk mengikutinya. Trilogi pertama dan keduanya mungkin baru saya tonton sekitar lima tahunan yang lalu ketika mereka tayang maraton di kanal TV kabel – itupun tidak benar-benar niat menontonnya; Begitu pula dengan The Force Awakens. Lalu kenapa saya menonton The Last Jedi? Sejujurnya saya tidak akan berminat untuk menontonnya di bioskop jika saja istri  tidak kebetulan mendapat tiket screening gratis dari rekanannya dan menyuruh saya untuk menggantikannya.

Menonton The Force Awakens tidak membangkitkan antusiasme saya akan serial ini. Fans jadul yang sudah lama tidak menonton Star Wars di layar lebar mungkin banyak yang senang dengan buaian nostalgia yang diberikan JJ Abrams, tapi saya yang non-fans tidak begitu terkesan dengan ceritanya yang terlalu banyak mendaur ulang unsur-unsur lama dengan kemasan efek visual abad ke-21. Jadi semula saya menyangka bahwa The Last Jedi, seperti layaknya film-film tengah trilogi lainnya, hanya akan melanjutkan ‘visi-misi’ yang telah ditetapkan di film sebelumnya meski disutradarai oleh orang yang berbeda.

Dugaan saya salah. The Last Jedi rupanya punya cukup keberanian untuk menabrak pakem yang dikira penonton akan dilanjutkan dari The Force Awakens. Hal paling menonjol yang saya sukai dari terobosan ini adalah karakter Luke Skywalker. Ketika ia muncul di menit-menit terakhir TFA, film itu menampilkan Luke sebagai senjata pamungkas kubu Resistance. Finally, the living legend is back! Di awal cerita TLJ, harapan itu dilempar jauh-jauh dan saya melihat Luke sebagai seorang lansia dengan segala kepahitannya. Sebagian fans merasa karakterisasi itu salah, tapi menurut saya itu jauh lebih menarik ketimbang bagaimana karakter Han Solo tua digambarkan tanpa banyak perubahan di TFA; Ditambah pula, akting Mark Hamill yang prima dan suara seraknya yang kasar juga memperkuat kesan getir seorang Luke Skywalker.

Bagian substansial yang tak saya suka dari TLJ adalah subplot Finn dan Rose mencari seorang hacker legendaris ke planet kasino Canto Bight agar bisa menyusup ke kapal induk First Order. Meski saya suka karakter Finn dan Rose, saya merasa subplot ini ditarik terlalu jauh dengan alasan yang terlalu diada-adakan (dilihat dari luar cerita) sehingga membuat plot utama yang harusnya intens (sisa armada Resistance dengan bahan bakar minim harus mengindari kejaran First Order) menjadi tidak begitu terasa ketegangannya. Belum lagi film ini harus menyediakan ruang yang cukup untuk petualangan Rey dan Luke (dan Kylo secara tidak langsung), sehingga bagian pertengahan film ini menurut saya kurang fokus dalam menyajikan ceritanya.

Untungnya segala keruwetan itu bisa disatukan dengan rapih untuk sebuah klimaks yang sangat spektakuler dan memuaskan. Bahkan bisa dibilang terlalu spektakuler karena segala twist yang diberikan oleh The Last Jedi di sepertiga akhir filmnya lebih pantas untuk film terakhir trilogi ketimbang film pertengahan. Para fans, lagi-lagi, mungkin merasa kecewa karena sejumlah unsur plot yang mengambang dan tokoh yang masih misterius terasa disimpulkan terlalu cepat. Namun, bagi saya si penonton kasual, ini justru kejutan yang positif karena saya malah jadi penasaran bagaimana film Star Wars selanjutnya akan menangani konsekuensi yang ditimbulkan oleh cerita film ini.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s