Web Log: November 2017

Co-Parenting With Alexa (Rachel Botsman/New York Times) – Dengan hadirnya Alexa, Siri, dan pelbagai kecerdasan buatan lainnya yang ditujukan untuk penggunaan sehari-hari, orangtua kini mendapat satu lagi tantangan terbaru dalam mengasuh anak di zaman modern: Bagaimana berinteraksi dengan para AI ini tanpa menyerahkan keputusan seluruh hidup kita pada mereka.

The Ulangan was Easy (Abdul Gaffar Karim) – Cerita lama – tapi selalu aktual – mengenai adaptasi yang dialami anak-anak seusia SD yang harus pindah dari sekolah di luar negeri ke sekolah Indonesia. Semua stereotipe sekolah luar negeri dan sekolah Indonesia ada di cerita ini, dan patut disimak pula bagian keduanya.

The Forgotten Female Programmers Who Created Modern Tech (Laura Sydell/NPR) – Zaman sekarang dunia pemrograman dianggap sebagai dunianya laki-laki, tapi beberapa dekade yang lalu pemrograman dianggap sebagai ranahnya perempuan; Karena terkait dengan bahasa (yang lagi-lagi adalah stereotipe keunggulan wanita), dan para pria menganggap mengoprek hardware itu lebih jantan ketimbang mengoprek software.

How Twitter Fuels Anxiety (Laura Turner/The Atlantic) – Salah satu hal negatif dari terlibat dalam Twitter adalah kecemasan yang bisa ditimbulkannya. Rasa iri (ditambah insecurity) terhadap orang-orang yang terlihat lebih sukses dalam hidup, juga kecemasan eksistensial membaca berita-berita negatif yang berseliweran di linimasa. Satu kutipan yang cukup menampar kita-kita yang terlalu sering mengecek Twitter:

“If you’re checking Twitter a hundred times a day, what are you avoiding doing?”

Did the World Get Aung San Suu Kyi Wrong? (Amanda Taub & Max Fisher/New York Times) – Aung Saan Suu Kyi adalah anggota terbaru dalam daftar para pemimpin pro-demokrasi yang didukung oleh ‘Barat’ untuk mereformasi negerinya… dan ternyata mereka tidak sesuci atau seidealis yang dikira orang. Berangkat dari pandangan yang simplistik dan dangkal bahwa satu orang terpilih bisa mengubah segalanya.

Bosses want capitalism for themselves and feudalism for their workers (Matt O’Brien/Washington Post) – Grundelan soal bagaimana perusahaan mengekang ‘pasar bebas tenaga kerja’; Ketimbang meredam turnover dengan gaji dan benefit lebih tinggi, perusahaan mewajibkan klausa non-competition bahkan pada pekerja kelas bawah untuk menahan mereka dari mencari pekerjaan dengan kondisi dan penghasilan yang lebih baik. Ada beberapa kutipan segar yang saya sukai:

It’s a reminder that economics isn’t just about supply and demand. It’s also about who has the power to make demands.

The important thing to understand is that capitalists don’t believe in capitalism. They believe in profits. There’s a difference. Capitalism is about free competition, while profitability, taken to the extreme, is about the lack of it.

Indonesia’s ‘Instamoms’ are Pushing a Life of Luxury Few Can Afford (Audy Bernardus/VICE) – Dengan sosial media, pamer anak tak lagi hanya sebatas kepada satu dua tetangga atau saudara-saudara di arisan keluarga. Jika dulu ajang pamer ini hanya berbuah iri hati dan nyinyiran, sekarang para selebgram bisa membuat ribuan pengikutnya terinspirasi atau merasa insecure dengan pola pengasuhan mereka sendiri.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s