Film: Justice League (2017)

Meski saya cukup senang dengan penampilan Wonder Woman (2017), kesan buruk saya tentang Batman v Superman (2016) dan Suicide Squad (2016) tak pernah benar-benar hilang. Kesan itulah yang membuat saya sebenarnya jengah untuk menonton Justice League (2017) yang auranya terlihat lebih ke arah BvS ketimbang Wonder Woman. Tapi saya sudah telanjur tercebur terlalu dalam ke serial film superhero-superheroan ini. Biarpun DC atau Marvel membuat film yang terlihat sangat tidak menarik atau diresensi sangat buruk, rasanya saya harus tetap menontonnya di bioskop hanya agar terasa ‘lengkap’. Untuk Justice League ini, saya awalnya berharap agar DC, Warner, dan Zack Snyder mendengarkan umpan balik dari para penonton film-film DC sebelumnya.

Dalam Justice League, Bruce Wayne alias Batman merasa akan ada invasi makhluk angkasa luar ke bumi pasca matinya Superman di BvS. Merasa tak mampu menanganinya sendiri, Wayne berusaha merekrut para pahlawan super lainnya yang sempat diintai oleh Lex Luthor: Aquaman, Wonder Woman, The Flash, dan Cyborg. Mereka berlima harus menghadapi pemimpin invasi bernama Steppenwolf yang mencari tiga Motherbox, kotak berisi kekuatan yang bisa mematikan seisi planet. Ketika Steppenwolf terlalu kuat untuk mereka semua, satu-satunya harapan mereka adalah kembalinya Superman…

Dengan ekspektasi yang rendah sebelum menonton Justice League, boleh dibilang saya cukup terkejut bahwa film ini cukup… mendingan. Dari segi alur cerita, ada peningkatan kerapihan dibanding BvS yang kacau balau, sementara dari sisi eksplorasi karakter Justice League juga lebih baik dari Suicide Squad. Saya terutama senang karena film ini memberi porsi yang lumayan substansial untuk pendalaman para karakter baru (Aquaman, The Flash, dan Cyborg) dengan sifat-sifat uniknya serta tidak membuat para karakter lama (Batman, Wonder Woman, dan Superman) terlalu mendominasi cerita.

Untuk ceritanya sendiri, Justice League tampaknya dibuat lebih ‘cerah’ untuk menjawab kritik bahwa BvS terlalu suram. Ada lebih banyak humor dan canda di sini, terutama pada Aquaman dan The Flash yang auranya lebih mirip karakter dalam film Marvel; Bahkan Bruce Wayne, meski rautnya masih tetap sendu, juga lebih bisa bersosialiasi dan bekerja sama dengan yang lain. Yang masih mengecewakan adalah tokoh antagonis utama film ini, Steppenwolf, yang masih terjebak dalam klise antagonis film-film DC sebelumnya: Dangkal, kurang mengancam, dan terlalu banyak mengandalkan efek CGI.

Hal lain yang agak mengganggu saya adalah premis umum Justice League yang terasa begitu banal. Saya mungkin masih bisa maklum jika film ini keluar segera setelah The Dark Knight Rises (2012), ketika genre superhero masih dalam tahap tinggal landas. Tapi ketika di tahun itu Marvel juga merilis The Avengers, cerita yang lurus-lurus saja mengenai invasi makhluk asing di tahun 2017 (di tahun yang sama dengan Guardians of the Galaxy vol. 2, Logan, dan Spider-Man: Homecoming) membuat film ini terlihat begitu miskin kreativitas.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s