Film: Kingsman: The Golden Circle (2017)

Film Kingsman: The Secret Service (2015) mungkin adalah salah satu film aksi paling menghibur dalam sepuluh tahun terakhir ini. Matthew Vaughn – sebelumnya menyutradarai X Men: First Class dan Kick-Ass – di mata saya berhasil memadukan parodi genre film spionase yang kocak dengan adegan-adegan aksi yang stylish namun tetap berbobot. Ketika Kingsman: The Golden Circle diumumkan untuk dirilis tahun ini, saya senang tapi cukup cemas juga: Dengan The Secret Service yang cerita dan aksinya sudah sangat over the top, saya kuatirnya The Golden Circle akan berusaha melampaui itu dan jatuhnya malah jadi canggung dan terlihat konyol.

The Golden Circle masih menceritakan soal Eggsy (Taron Egerton), agen rahasia baru dalam Kingsman – sebuah agensi mata-mata independen Inggris yang menyamar sebagai toko penjahit kelas atas. Kisah dimulai saat seorang mantan calon agen Kingsman direkrut The Golden Circle – bandar narkoba terbesar di dunia yang dipimpin oleh Poppy Adams (Julianne Moore) – untuk menyerang markas Kingsman. Eggsy dan analis Kingsman, Merlin (Mark Strong) sampai harus meminta bantuan para Statesman, ‘sepupu’ Kingsman di tanah Amerika untuk memburu organisasi ini. Dalam misinya, mereka ditemani oleh agen Tequila (Channing Tatum), Whiskey (Pedro Pascal), dan Ginger Ale (Halle Berry), juga agen Galahad (Colin Firth) yang pernah jadi mentor Eggsy.

Seusai menonton The Golden Circle, saya bisa mengatakan semangat Kingsman dalam beberapa hal masih dipertahankan oleh Vaughn dalam film ini: Lelucon yang agak ofensif dan cenderung tidak politically correct serta adegan-adegan aksi yang dinamis dan disorot dengan bersih tanpa banyak cut atau kamera yang bergoyang-goyang. Meski tidak ada adegan yang sefantastis adegan ‘pembantaian di gereja’ atau sebrutal ‘aktivasi chip implan leher’ di The Secret Service, penonton yang mencari humor yang ‘nakal’ dan aksi-aksi yang keren tidak akan kecewa dengan The Golden Circle.

Yang mengecewakan saya karena tidak bisa dipertahankan oleh The Golden Circle, anehnya, justru adalah kekuatan ceritanya sendiri. The Golden Circle – organisasi antagonis film ini – tidak terasa lebih intimidatif dan menarik ketimbang Richmond Valentine di film pertama. Organisasi Statesman, yang banyak ditampilkan dalam trailer dan material promo lainnya, tidak digambarkan sebaik organisasi Kingsman pertama kali dibangun di The Secret Service. Karakter-karakter agen Statesmanpun tidak lebih dalam dari stereotip koboi Amerika; Contoh yang paling parah adalah karakter Tequila yang muncul beberapa menit, lalu dimasukkan ke kulkas sampai film hampir berakhir hanya sebagai hook untuk sekuel Kingsman berikutnya. Subplot berupa romansa Eggsy dengan putri kerajaan Swedia juga dampak emosionalnya kurang terasa dibanding perjalanan Eggsy menjadi seorang agen Kingsman di The Secret Service.

Jika sebelum menonton The Golden Circle saya kuatir film ini akan berusaha melampaui kehebohan The Secret Service dan gagal karenanya, setelah menonton film ini saya jadi punya pendapat sebaliknya: The Golden Circle bermain terlalu aman dan itu membuat hampir semua elemen di dalamnya terasa melempem dan kurang dimanfaatkan secara maksimal. Mungkin hanya dalam aspek aksinya film ini masih bisa tampil sejajar dengan pendahulunya, tapi itu saja masih jauh dari cukup untuk memuaskan saya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s