Web Log: September 2017

The Relativity of Wrong (Isaac Asimov/The Skeptical Inquirer) – Asimov membalas surat dari seorang ‘hater‘ yang beranggapan bahwa Asimov terlalu congkak karena pernah berpendapat bahwa kita hidup di abad di mana ilmuwan telah mengetahui hukum dasar yang melingkupi semesta – dan menurut si hater ini, semua ilmuwan dari tiap abad merasa telah memecahkan misteri alam, tapi mereka selalu kemudian terbukti salah.

How to Raise a Reader (Pamela Paul & Maria Russo/The New York Times) – Membaca adalah kegiatan yang penting nan bermanfaat, jadi membesarkan anak agar gemar membaca adalah salah satu hal yang wajib dilakukan. Bagaimana cara konkritnya? Artikel dari NYT ini memberi sejumlah poin yang perlu diperhatikan orangtua, tapi inti dasarnya adalah: Orangtuanya sendiri harus juga gemar membaca.

The Toxic Drama on YA Twitter (Kat Rosenfield/Vulture) – Ah, drama Twitter. Saya tahu komunitas pembaca buku fiksi dewasa muda (young adult) termasuk kategori pembaca yang paling… bersemangat, katakanlah begitu. Mereka bisa begitu brutal ketika menemukan buku yang dirasa tidak sesuai dengan standar moral mereka, bahkan ketika buku itu belum dirilis dan mayoritas belum membaca bukunya.

Populism fails to catch fire in Japan (Shotaro Tani/Nikkei Asian Review) – Di Amerika dan Eropa, wabah populisme sedang melanda iklim demokrasi mereka dan menjadi salah satu faktor bangkitnya alt-right dan terpilihnya Donald Trump. Di Jepang sendiri populisme tidak begitu populer (ha!) baik di tengah masyarakat maupun di antara para elit politiknya sendiri. Artikel ini mencoba menganalisis mengapa Jepang menjadi kasus unik. Salah satu penyebabnya adalah angka imigrasi yang sangat, sangat rendah.

Apakah Musik Indonesia bisa Mendunia? (Yuka Dian Narendra/Ruang Gramedia) – Dari dulu pemerintah dan sejumlah orang mengidam-idamkan musik (atau budaya Indonesia yang lebih luas) bisa mendunia seperti Amerika, Jepang, atau Korea. Menurut penulis artikel ini, mereka seringkali terlalu menyederhanakan cakupannya menjadi sekedar industri kreatif yang berorientasi pasar dan untung-rugi. Padahal, budaya-budaya lain yang mendunia memiliki landasan ideologi, sejarah, dan politik yang panjang.

In Japan, single mothers struggle with poverty and a ‘culture of shame’ (Anna Fifield/The Washington Post) – Meski tidak buruk-buruk amat, kondisi ekonomi yang stagnan dan budaya yang sangat patriarkal membuat para ibu yang menjadi orangtua tunggal memiliki hidup yang sulit. Berdampak ke anak-anaknya yang memiliki masalah perilaku dan sulit melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi untuk lolos dari kemiskinan.

Alasanku Membenci Pemuja Gaya Hidup Backpacker (Renaldo Gabriel/VICE) – Sebuah curahan hati orang Jakarta/Bali mengenai lanskap daerahnya yang berubah setelah diserbu para turis backpacker dari mancanegara maupun negeri sendiri. Bukan kontra terhadap pariwisata per se sih (meski gentrifikasi sempat disebut), cuma kritik/nyinyiran terhadap motif backpacking yang dianggap terlalu mulia.

The Falling Man: An Unforgettable Story (Tom Junod/Esquire) – Salah satu foto paling mencekam dari tragedi 9/11 adalah foto seorang laki-laki yang terjun bebas dari menara WTC – terperangkap antara api dan asap dari gedung yang akan rubuh di atasnya dan gravitasi di bawahnya. Artikel longform ini dengan puitis dan emosional menceritakan asal-usul foto itu, reaksi media dan publik pasca-9/11 terhadapnya, dan juga usaha jurnalisnya untuk mencari identitas subyek foto yang kontroversial itu.

6 Life Changing Lessons for Creatives From Neil Gaiman (Colton Swabb) – Parafrase dari pidato lama Neil Gaiman pada tahun 2012 mengenai hal-hal yang ia pelajari selama hidup sebagai seniman dan pekerja kreatif. Saya terutama suka dengan bagian akhirnya:

“People get hired because somehow they get hired. You get work however you get work. Most people get work because their work is good. They are easy to get along with. And because they deliver the work on time. And the secret is… you don’t even need all three. Two out of three is fine. People will tolerate how unpleasant you are if your work is good and you deliver it on time. People will forgive the lateness of your work if you’re good and they like you. And you don’t have to be as good as everyone else if you’re on time and it’s always a pleasure to hear from you.”

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s