Film: Baby Driver (2017)

Edgar Wright adalah salah satu sutradara kesukaan saya. Trilogi Cornetto Tiga Rasa-nya – Shaun of the Dead (2004), Hot Fuzz (2007), dan World’s End (2013) – mungkin adalah prototip film komedi-drama-aksi yang nyaris sempurna baik dari segi cerita, penyutradaraan, maupun akting para pemerannya. Ketika Wright kembali dengan film bertema heist dan menjanjikan musik-musik keren yang terintegrasi dengan aksinya, saya sudah tak sabar untuk segera menonton Baby Driver begitu ia keluar di bioskop.

(Sayangnya saya baru sempat menonton film ini di minggu ketiga pemutarannya  karena berbagai kesibukan, tapi ya sudahlah…)

Tokoh utama film ini adalah si Baby (Ansel Elgort) – begitu ia dipanggil oleh bos dan rekan-rekannya – seorang anak muda pengemudi andal yang bertugas menjadi supir mobil para perampok; Baby sebenarnya terpaksa menjadi penjahat demi melunasi utang masa lalunya dengan Doc (Kevin Spacey), sang pemimpin sindikat perampokan. Dengan satu tugas terakhir di depan mata,  Baby berniat memulai hidup baru dengan gadis yang ia taksir, Debora (Lily James). Malangnya, Doc tak semudah itu melepaskan Baby dan memaksanya untuk melakukan satu perampokan lagi bersama Buddy (Jon Hamm), Darling (Eiza Gonzalez), dan Bats (Jamie Foxx).

Kisah tentang penjahat yang ingin bertobat sebenarnya bukan kisah yang orisinal amat, begitu juga dengan tokoh utama yang jatuh cinta dengan gadis baik-baik atau plot mengenai one last job sebelum pensiun yang tidak berjalan sesuai rencana. Ceritanya relatif standar, tapi Edgar Wright sekali lagi berhasil memberikan sentuhan khasnya yang membuat Baby Driver tampil beda dibanding film-film bertema sejenis. Ketika saya kira sudah bisa menebak alurnya, film ini memberikan kelokan kecil tak terduga yang membuat saya betah menonton sampai akhir meski tak ada plot twist yang besar. Ini juga didukung oleh para aktor dan aktris yang klop memerankan karakter bikinan Wright yang – meski tidak terlalu realistis – sangat dramatis, bahkan cenderung karikatural.

Sentuhan lain yang tak kalah uniknya adalah elemen musik yang tak terpisahkan dari unsur cerita dan visualnya. Baby diceritakan sebagai penderita tinnitus (telinga terus berdenging) akibat kecelakaan waktu kecil – untuk meredam dengingan itu, telinganya hampir tak pernah terlepas dari earphone yang tercolok ke iPod berisi lagu-lagu kesukaannya; Lagu-lagu inilah yang menjadi semacam aktor tak kasat mata dari Baby Driver. Agak meremehkan jika saya menyebut lagu-lagu tersebut menjadi musik latar belakang saja, karena justru merekalah yang memberi ‘nyawa’ setiap adegan di film ini. Hampir segala aksi dan interaksi manusia di Baby Driver disesuaikan dengan ketukan lagu; Wright yang piawai memanfaatkan bahasa visual film benar-benar gas pol mengeksploitasi keunggulannya itu untuk mempercantik film ini – sampai-sampai selesai menonton Baby Driver saya yakin banyak penonton lainnya tiba-tiba mendengar musik di dalam kepala yang siap mengisi aktivitas mereka seperti halnya Baby.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s