Web Log: Juli 2017

Why do we work so hard (Ryan Avent/The Economist) – Sebuah esai mengenai esensi bekerja keras – zaman dulu dan sekarang. Konteksnya adalah kerja kerah putih profesional di negara maju, tapi sentimen yang dialami penulis rasanya juga dialami banyak orang di sini: Kerja bukan lagi sarana untuk mencapai tujuan-tujuan hidup, tapi sudah menjadi identitas kita dan hidup itu sendiri.

Conscious consumerism is a lie. Here’s a better way to help save the world (Alden Wicker/Quartz) – Judulnya agak bombastis dan berbau clickbait, tapi isinya saya setujui: gerakan hidup ramah lingkungan yang dilakukan secara pribadi berdampak sangat sedikit dan tak sebanding dengan sumber daya yang dikeluarkan. Akan lebih menggebrak jika perubahan dimulai dari atas melalui lobi-lobi dan aktivisme politik.

Why Are Young Moms So Sexualized in Indonesia? (AT Wargadiredja/VICE) – Sebuah usaha untuk memahami fenomena seksualisasi ‘mamah muda’. Sayang artikelnya hanya sebatas mewawancarai sejumlah perempuan yang termasuk golongan itu dan tidak benar-benar menjawab pertanyaan di judulnya.

Examining The ‘Kooks Burrito’ Uproar & The Fight Over Food Appropriation (Steve Bramucci/Uproxx) – Satu subset dari cultural appropration yang bikin saya berpikir. Kali ini soal makanan, budaya makanan, dan seberapa etis bagi orang dari budaya lain (seringkali dari budaya yang dominan/berkuasa) untuk mempelajari makanan dari budaya tertentu dan kemudian memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan.

The Internet sets writers free…to get new audiences, and also to “dive into a giant flaming garbage pile” (LH Owen/Nieman Lab) – Internet telah mengubah wajah banyak hal, termasuk pekerjaan menulis secara profesional. Simak sejumlah penulis berdiskusi mengenai kecemasan mereka akan kata yang dibayar terlalu murah, model bisnis era baru, dan ‘keharusan’ untuk mempromosikan diri di media sosial.

Pretentious Is Not A Sexual Orientation (Samantha Allen/The Daily Beast) – Sebuah nyinyiran terhadap orang-orang dan institusi yang menggunakan istilah ‘sapioseksual’ (‘orientasi seksual’ yang menganggap kecerdasan sebagai daya tarik seksual tersendiri) tanpa rasa ironi atau kesadaran diri sama sekali.

In praise of echo chambers (Emily Parker/The Washington Post)Echo chamber di media sosial – ketika linimasa Twitter dan Facebook kita dipenuhi hanya dengan status, post, atau share yang satu ideologi dengan kita, kerap dituding sebagai penyebab semakin tidak sehatnya percakapan politik di akar rumput. Penulis artikel ini berpendapat bahwa echo chamber justru penting untuk satu tujuan: Bersolidaritas dan berorganisasi dengan yang sehaluan untuk melakukan tindakan nyata.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s