Film: Spider-Man: Homecoming (2017)

Semenjak kemunculannya di Captain America: Civil War, Spider-Man versi terbaru ini menarik perhatian saya. Tom Holland tampak pas berperan sebagai Peter Parker yang masih remaja sekolahan, tapi saya agak was-was dengan bagaimana Sony akan memperlakukan film solonya di Spider-Man: Homecoming. Saya pribadi kurang menyukai film-film Spider-Man sebelumnya relatif dibanding film-film superhero lain, jadi saya sudah keburu pesimis duluan menantikan satu lagi reboot tokoh ini di layar lebar.

Ketika trailer dan sinopsis Homecoming mulai muncul, rasa pesimisme saya mulai membaik sedikit: Marvel Studios tampaknya terlibat cukup jauh dalam proses produksi film ini, dan ‘gaya penyutradaraan a la Marvel’ memang tampak dalam sekelumit adegan yang saya tonton. Di sisi lain, saya juga kuatir dengan betapa dominannya Tony Stark/Iron Man dalam poster-poster yang saya lihat; Saya takutnya film ini jadi semacam ‘tunggangan’ promo film Marvel berikutnya dan tidak bisa berdiri sendiri untuk mengeksplorasi cerita dan karakter Peter Parker dengan leluasa.

Untungnya, ketakutan saya ternyata tak beralasan. Kemunculan Tony Stark tidak terlalu banyak, namun pas di tiap titik-titik penting cerita. Pancaran karisma Robert Downey Jr. memang menonjol dan mengalahkan pesona akting Tom Holland, tapi inipun cocok dengan ceritanya: Tony Stark sebagai figur mentor yang berpengalaman, sementara Peter Parker sebagai anak SMA yang canggung dan masih harus beradaptasi dengan kekuatannya – juga harus berurusan dengan masalah-masalah khas anak SMA. Holland bisa memainkan perannya dengan natural tanpa terlalu berlebihan, dan untuk aspek ini saya rasa Holland lebih unggul dibanding Tobey Maguire atau Andrew Garfield.

Dari segi cerita, saya juga suka Homecoming yang lebih membumi – mungkin termasuk film superhero paling ringan dan fun dalam dua dekade ini. Setting sekolahan dan teman-teman biasa sesama anak SMA terasa menyegarkan setelah hampir semua film superhero sebelumnya dipenuhi orang dewasa dengan segala problematika dewasanya. Tokoh antagonis film ini, Adrian Toomes/Vulture, juga digambarkan sebagai penjahat dengan motif yang sederhana dan realistis; kemampuan Michael Keaton sebagai aktor dramatik yang mumpuni sangat membantu membuat momen-momen antara Vulture dan Spider-Man dalam film ini terasa cukup menegangkan.

Oh ya, satu hal terakhir yang saya suka dari Homecoming: Meski ini adalah film reboot dan menggambarkan awal karir Peter Parker sebagai Spider-Man, saya salut akan common sense yang dimiliki penulis skenario dan sutradaranya karena tidak untuk yang ketiga kalinya menceritakan bagaimana Parker digigit laba-laba atau bagaimana Paman Ben mati terbunuh. Akhirnya ada juga film superhero yang cukup percaya diri dengan pengetahuan dasar penontonnya dan tidak membuang-buang waktu mereka….

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s