Film: Wonder Woman (2017)

Setelah terombang-ambing oleh kehambaran Batman v Superman dan Suicide Squad, saya jadi tidak begitu bersemangat menyambut kedatangan Wonder Woman (2017). Kalau Zack Snyder dan Warner/DC tidak bisa membuat cerita yang apik mengenai pertarungan Ben Affleck kontra Henry Cavill, harapan apa yang bisa ditawarkan oleh Patty Jenkins dan Gal Gadot? Apalagi ekspektasi saya semakin mendekati nadir karena Diana tidak tampil dengan mengesankan saat penampilan perdananya di BvS. Hanya sepercik optimisme dari skor agregat ‘nyaris sempurna’ di Rotten Tomatoes yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk mencoba film ini.

Dibandingkan dengan Batman atau Superman, Wonder Woman adalah karakter yang cukup asing bagi saya – mungkin setara dengan superhero kelas menengah macam Guardians of the Galaxy atau Ant-Man dari grup Marvel. Jadi saya cukup senang melihat film ini menghabiskan seperempat pertama film mengenalkan Diana, pulau Themiscyra tempat ia dan suku Amazon tinggal, dan latar belakang mereka sebagai kaum abadi yang diciptakan Zeus untuk melawan pengaruh jahat dewa perang, Ares, terhadap umat manusia. Buat beberapa penonton mungkin segmen ini agak terlalu panjang dan membosankan, tapi menurut saya ini perlu untuk memantapkan fondasi karakter baru yang akan tampil dalam dua-tiga film lagi ke depannya.

Karakter Diana sebagai Wonder Woman juga ditampilkan dengan baik di film ini. Seorang nyaris-abadi dengan kekuatan super yang datang dari tanah asing terdengar sangat mirip dengan asal-usul Clark Kent/Superman, tapi Patty Jenkins dan para penulis skenarionya bisa memberikan spin yang berbeda pada Diana/Wonder Woman yang cerah, idealis, dan naif – lalu mengkontraskannya dengan kisah kebangkitan kembali Ares dengan setting Perang Dunia I yang gelap dan depresif. Dibandingkan dengan film-film pahlawan super lainnya, Wonder Woman memiliki dosis yang pas antara keceriaan dan keputusasaan; Tidak penuh dengan timpalan lelucon seperti The Avengers atau Civil War, tapi juga tidak terlalu abu-abu dan suram seperti Batman v Superman.

Satu hal lain yang menarik perhatian saya dari film ini adalah terasanya beberapa jejak-jejak Zack Snyder (yang di film ini mendapat kredit sebagai produser dan penulis cerita) – baik maupun buruknya. Sebagai fans penyutradaraan aksi Snyder yang stylish, brutal, dan penuh dengan slow motion, film ini punya sejumlah momen yang sama mengesankannya tapi tanpa terlalu berlama-lama seperti kebiasaan Snyder belakangan ini. Di sisi lain, aksi yang terjadi dalam klimaks film ini terjebak dalam kelemahan yang sama seperti klimaks Batman v Superman: Terlalu banyak CGI dan efek khusus yang menyilaukan mata yang justru mengaburkan aksinya sendiri.

Terlepas dari kelemahan itu, saya menikmati menonton Wonder Woman. Gal Gadot tampil menawan dan mampu membawakan peran Wonder Woman dalam debut pertamanya, dan chemistry-nya cukup bagus dengan Chris Pine yang kali ini berperan sebagai sidekick. Setelah kecewa dengan BvS dan Suicide Squad yang lumayan berantakan, cukup melegakan akhirnya bisa melihat lagi film baru dari era DC Extended Universe dengan cerita yang solid dan karakter yang berkelas.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s