Web Log: Mei 2017

Marathon Man (Mark Singer/The New Yorker) – Judulnya sederhana, tapi percayalah; Ini adalah cerita detektif dan jurnalisme investigatif paling lucu dan memikat yang pernah saya baca. Siapa yang menyangka bahwa menyelidiki kemungkinan kecurangan yang terjadi di kompetisi maraton amatiran bisa menjadi begitu seru dan fantastis?

Kami Menjajal Paket Ransum TNI Supaya Kalian Tak Penasaran Dengan Rasanya (Renaldo Gabriel/VICE) – Lagi-lagi artikel nyentrik dari Vice Indonesia. Kali ini tentang jenis-jenis ransum TNI yang dijual di pasar abu-abu. Sayangnya tidak ada foto-foto yang lebih lengkap dan mendetail dari tiap menu ransumnya ketika sudah dipanaskan.

Typecast as a terrorist (Riz Ahmed/The Guardian) – Riz Ahmed, seorang aktor Inggris keturunan Pakistan, menceritakan pengalamannya traveling via pesawat di dunia pasca-9/11. Menarik melihat dia menganalogikan pemeriksaan imigrasi seperti ruang audisi film, dan bagaimana aktor seperti dia di dalam dua kesempatan itu harus tampil sebaik dan sealami mungkin untuk mengatasi stereotipe yang sudah mengakar.

Like start-ups, most intentional communities fail – why? (Alexa Clay/Aeon Essays) – Dari dulu saya selalu penasaran mengenai idealisme orang-orang yang menciptakan atau bergabung dengan komunitas buatan, dan bagaimana mereka menyelesaikan masalah-masalah di komunitas dengan bekal idealisme itu. Esai ini menunjukkan bagaimana komunitas-komunitas itu memiliki banyak kemiripan dengan organisasi start-up, termasuk tingkat kegagalan dan jenis-jenis tantangan yang harus dihadapi.

The tragedy of Argentina: A century of decline (The Economist) – Di awal abad ke-20, Argentina termasuk dalam sepuluh besar ekonomi dunia, melampaui Prancis, Jerman, dan Italia. Apa yang terjadi dengan Argentina selama sisa abad berikutnya? The Economist memberikan sejarah ekonomi singkat mengenai apa penyebab kemunduran negara ini, dan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk bangkit kembali.

Why Socialists Don’t Believe In Fun (George Orwell) – Sebuah esai singkat dari George Orwell di tahun 1943 mengenai keterbatasan fana manusia dalam menjabarkan dengan jelas apa itu utopia yang bernama ‘kebahagiaan kekal’. Orwell kemudian berargumen bahwa tujuan perjuangan sosialisme bukanlah untuk menciptakan masyarakat utopis.

The real objective of Socialism is human brotherhood. […] Men use up their lives in heart-breaking political struggles, or get themselves killed in civil wars, or tortured in the secret prisons of the Gestapo, not in order to establish some central-heated, air-conditioned, strip-lighted Paradise, but because they want a world in which human beings love one another instead of swindling and murdering one another.

The Law’s Emotion Problem (Lisa Feldman Barret/The New York Times) – Hakim sering disebut sebagai wakil Tuhan di dunia dalam memutus perkara bersalah atau tidaknya seseorang. Obyektif dan adil adalah kata kuncinya, tapi – seperti yang dijelaskan Lisa F. Barret dalam kolom ini – sejumlah penelitian menunjukkan bagaimana laporan saksi mata dan pertimbangan hakim diam-diam dipengaruhi emosi dan preferensi.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s