Memperjuangkan Kebhinekaan

Akhirnya Ahok kalah, divonis bersalah, dan masuk penjara. Anies menang telak dan akan menjadi Gubernur Jakarta yang baru bulan Oktober 2017 nanti. Sebagai pemilih Ahok pas pilkada DKI kemarin, saya tidak begitu terkejut dengan hasilnya. Sebagai bukan-pendukung Ahok, mudah saja bagi saya untuk move on; Seburuk-buruknya kinerja Anies-Sandi, mereka mungkin akan main aman dan mengembalikan Jakarta ke status quo era Sutiyoso dan Fauzi Bowo. Tidak semengerikan Donald Trump jadi presiden AS, lah. Maka mari lupakan perseteruan pilkada dan bersatu membangun Jakarta, bukan begitu?

Kecuali satu hal yang masih mengganjal di ubun-ubun saya.

Saya sudah senewen dengan Anies sejak dia sowan ke Petamburan dan mengangkat ‘keunggulan’ keturunan Arab-Indonesia di hadapan tuan rumahnya. Tapi saya benar-benar terperangah ketika – dalam masa kampanye – ia berpidato begini:

Kebinekaan itu fakta, karena itu tidak usah diperjuangkan. Ada yang mengatakan memperjuangkan kemerdekaan, kemerdekaan itu fakta, fakta itu diterima, bukan diperjuangkan. Yang harus diperjuangkan bukan kebinekaan, (tapi) persatuan di dalam kebinekaan, itu yang harus diperjuangkan.

What the fuuuuuuuck. Ucapannya terdengar sangat ahistoris, tidak sensitif, dan…yah, terdengar seperti ignorant yang pergaulannya sempit dan tidak pernah baca berita alih-alih seorang doktor lulusan universitas top luar negeri. Sepanjang kampanye, selama Ahok diadili, dan bahkan sampai sekarang, sejumlah pendukung dan simpatisannya ikut bergabung dalam narasi yang serupa: Bahwa kebhinnekaan dan toleransi di Indonesia dari dulu baik-baik saja sampai Ahok datang dan mengoyak-ngoyaknya.

Privilese sebagai suku dan penganut agama mayoritas memang bisa menutup mata lahir dan batin kita akan peristiwa diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami oleh mereka yang dilahirkan ke dalam suku dan agama minoritas; Saya mengatakan itu dengan kesadaran bahwa sayapun memiliki privilese suku mayoritas. Tapi sisi minoritas di diri saya untungnya membuka mata saya bahwa sudah sejak lama kebhinnekaan dan toleransi antara yang berbeda menyimpan sisi gelap yang terus dicoba ditutupi, bukannya dibuka dan diselesaikan sampai akar masalahnya. Pidato Anies yang problematik itu mengingatkan saya kembali akan pentingnya satu hal:

Kebhinnekaan di negara ini masih harus terus diperjuangkan, karena akan selalu ada pihak-pihak yang mencoba menekan dan menghilangkannya.

Ya, kenyataan bahwa ada bermacam ragam agama di Indonesia ini adalah fakta. Tapi kebhinnekaan perlu diperjuangkan ketika di beberapa daerah tempat ibadah minoritas masih membutuhkan belasan tahun hanya untuk mengeluarkan IMB; Ketika umat setempat menggunakan rumah tinggal atau ruko sebagai tempat ibadah sementara, mereka diprotes karena melanggar peruntukan tata ruang. Kebhinnekaan perlu diperjuangkan karena ketika tempat ibadah sudah berdiri memenuhi prosedurpun, orang dari luar daerah bisa datang berdemo menuntut izin pendiriannya dicabut dan mengklaim bahwa prosedurnya tidak sah atau penuh tipu daya.

Jangankan memperjuangkan benda yang konkrit seperti rumah ibadah; Kebhinnekaan perlu diperjuangkan ketika penganut ‘aliran kepercayaan’ (sebenarnya agama juga) harus mengadu sampai ke MK agar institusi pemerintah mengakui agama mereka di dalam kolom KTP. Bukan hanya sekedar masalah tanda setrip di kolom agama KTP saja – perlakuan berbeda itu ujungnya membuat mereka rentan terhadap diskriminasi dan stigma dari aparat negara ketika ingin mengurus administrasi kependudukan.

Kebhinnekaan juga perlu diperjuangkan ketika ada pihak-pihak yang ingin memaksakan tafsir kitabnya ke isi kepala orang-orang lain yang mungkin tak sepaham. Yang menjadi masalah bukan karena mereka merasa tafsirnya paling benar atau orang yang tafsirnya berbeda itu dianggap bid’ah atau kafir – klaim kebenaran absolut seperti itu lumrah saja dalam beragama; Kebhinnekaan perlu diperjuangkan ketika mereka yang tafsirnya minoritas diobrak-abrik tempat tinggal dan kehidupannya, bahkan diancam nyawa dan eksistensinya, oleh mereka yang tafsirnya mayoritas.

Itu baru membahas satu aspek dari kebhinnekaan Indonesia ini; Saya membicarakan soal agama duluan karena itu hal yang cukup personal buat saya. Dari segi suku atau ekonomi, sebenarnya banyak hal yang ingin saya tuliskan mengenai itu, tapi memikirkan dan mendaftarnya di dalam kepala saja sudah membuat saya capek…

Sesungguhnya bukan maksud saya untuk membuat orang pesimis dengan kebhinnekaan yang ada sekarang. Dengan keanekaragaman yang dimiliki Indonesia, saya masih bersyukur masih lebih banyak orang-orang yang memelihara kebhinnekaan di sana-sini sehingga secara keseluruhan negara ini tidak jatuh dalam kekacauan berkepanjangan seperti di Suriah. Tapi saya pribadi merasa belakangan ini semakin gencar gerakan untuk menormalisasi keseragaman dan memberi stigma pada perbedaan, dan omongan calon gubernur (sekarang gubernur terpilih) Anies saat kampanye itu justru menjadi bahan bakar yang berbahaya bagi perjuangan kebhinnekaan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s