Film: Guardians of the Galaxy vol. 2

Guardians of the Galaxy yang pertama berhasil memikat hati saya dengan karakterisasi yang kuat dan humor yang segar. Maka saya jadi agak cemas juga mengira-ngira apakah sekuelnya ini bisa membawa sesuatu yang baru dan melampaui standar yang ditetapkan pendahulunya, atau terjebak dengan pengulangan sama yang lebih ‘aman’ namun miskin kreativitas. Saya juga kuatir akankah kisah film ini akan dikompromikan untuk menjadi ‘penghubung’ bagi film-film Marvel selanjutnya seperti Thor 3 atau The Avengers 3.

Untungnya, sebagian besar kekuatiran saya tidak terbukti. GotG 2, sama seperti film sebelumnya, berhasil menumpukan kekuatan ceritanya pada chemistry antar karakternya. Setelah para tokoh dikenalkan latar belakangnya di film pertama, di film ini konflik, hubungan, dan masa lalu mereka ditampilkan dengan lebih personal. Bagi saya plot utama GotG 2 – tentang Peter Quill yang ditemukan oleh ayah aliennya yang dulu meninggalkannya – justru malah lebih tertutupi oleh subplot yang lebih emosional pada rivalitas Gamora dan Nebula serta koneksi yang tak terduga antara Yondu dan Rocket.

Hal lain yang cukup melegakan adalah cerita film ini yang berdiri sendiri dan tidak dipaksakan untuk disangkutpautkan dengan film-film Marvel sebelumnya dan yang akan datang, padahal di tahun ini juga ada Thor 3: Ragnarok yang juga banyak mengambil tempat di angkasa luar (dalam artian di luar Asgard dan bumi). Mungkin ini adalah keputusan sutradara dan penulis skenarionya yang ingin penonton fokus pada karakter yang ada di depan mereka dan tidak teralihkan perhatiannya, dan saya mengamini keputusan itu.

Saking padatnya GotG 2 akan eksplorasi karakter, kelemahan dari film pertama terlihat lebih menonjol di sekuelnya ini: Setting luar angkasa fantastis yang sayangnya justru disia-siakan dan tidak dimanfaatkan dengan sepenuhnya karena tidak ada waktu untuk dijelajahi dengan lebih mendalam. Satu dua hal yang tampaknya menarik cuma tampil sebagai cameo sekilas atau easter egg yang ditampilkan beberapa detik di ujung film di sela-sela credit title. Tapi, jika ini aspek yang harus dikorbankan untuk mendapatkan cerita sebagus GotG 2, saya tidak terlalu keberatan dengannya.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s