Antara Ahok dan Anies

Prakata: Ada banyak uneg-uneg saya mengenai pilkada DKI tahun ini. Tadinya mau bikin serangkaian tulisan untuk membahasnya satu persatu dengan mendetail, tapi – karena kesibukan dan kemalasan – tak terasa sudah masuk masa tenang putaran kedua; Besok malah sudah hari pencoblosan. Maka… ya sudah, daripada ditunda-tunda terus (dan jadi semakin tidak relevan, kecuali beberapa hal yang tampaknya masih sampai 2019), tampaknya semua harus ditumpahkan ke satu post ini saja.

Masalahnya Ahok Itu…

Saya kemungkinan besar akan memilih Ahok (lagi) di putaran kedua; Ini sekedar disclaimer saja agar jangan sampai ada yang salah mengira kalau saya adalah pemilih undecided yang sedang menimbang-nimbang dengan obyektif. Rekam jejaknya mayoritas bagus buat saya. Saya suka dengan hampir semua hal yang sudah ia lakukan untuk Jakarta, kecuali dua hal: Penggusuran dan reklamasi. Dua hal ini sebenarnya cukup dealbreaker buat saya, tapi dua calon lainnya tak punya rekam jejak di bidang ini; Dalam kampanye hanya karakter dan rekam jejaklah yang saya percaya, dan sisanya hanya janji-janji manis yang tidak bisa dipegang ketepatannya.

Karakter Ahok memang cukup bermasalah bagi saya, meski itu bukan hal yang sangat krusial. Dia idealis, galak, dan tanpa kompromi dalam melaksanakan idealismenya; Saya bahkan percaya bahwa dia tidak ada niatan untuk memperkaya diri sendiri dari jabatan gubernur ini. Masalahnya adalah, dia juga sadar akan persepsi kualitas itu; Merasa bersih membuat dia memiliki kepercayaan diri yang berlebihan dalam melakukan apapun yang ia ingin lakukan; Karena ia sungguh meyakini perbuatannya hanyalah untuk kebaikan Jakarta, maka ia tak ragu untuk membengkokkan norma atau peraturan yang dianggap menghalangi. Politikus lain mungkin akan berpikir seribu kali sebelum melakukan hal yang bisa mempengaruhi elektabilitas mereka, tapi Ahok dengan sikap holier than thou-nya bisa merasa enteng untuk mengabaikan kritik, tidak mendengarkan sudut pandang lain, atau tidak mempertimbangkan cara pendekatan yang berbeda.

Dan ngomong-ngomong tentang politikus lain, kekuatiran saya mengenai tokoh-tokoh politik yang mendukung Jokowi-JK juga berlaku dalam kasus Ahok ini. Tadinya saya berharap dengan mendukung Ahok lewat jalur independen, kampanye Ahok akan lebih ‘murni’ karena dilakukan dengan swadaya oleh masyarakat dan jauh dari gerigi mesin-mesin partai yang agresifnya suka norak. Sayangnya Ahok merasa dukungan partai – dengan segala intrik dan manuver kepentingan di dalamnya – masih ia perlukan untuk memenangkan pilkada ini. Satu-satunya harapan saya adalah rekam jejak Ahok yang ‘kutu loncat’ partai sejak dulu (hal yang baik menurut saya) membuat ia kali ini juga tidak perlu merasa berutang budi atau terbebani secara moral untuk memberi keuntungan bagi partai-partai pendukungnya.

Masalahnya Anies Itu…

Ah, Anies. Saya mungkin termasuk salah satu fans-nya dulu. Praktisi pendidikan yang visi dan idealismenya saya sukai. Rekam jejaknya sebagai menteri pendidikanpun juga cukup baik (lupakan reshuffle, itu keputusan politik). Tabir pencitraannya perlahan-lahan mulai hilang ketika saya sadar ia sebenarnya sama ambisius dan pragmatisnya seperti Ahok dalam meniti karir di pemerintahan; Ikut konvensi Partai Demokrat, masuk gerbong pendukung Jokowi-JK melawan Prabowo-Hatta, dan segera setelah dipecat dari kabinet langsung siap dipinang jadi cagub DKI oleh partainya Prabowo. Sayangnya Anies sejauh yang saya tahu belum pernah menunjukkan bahwa ia tak bisa disetir oleh partai. Ahok bisa dengan gampang membuang keanggotaan Gerindra-nya karena perbedaan prinsip; Bisakah Anies melakukan hal yang sama ketika suatu saat nanti momennya tiba?

Kalau hanya itu saja kelemahan Anies, mungkin pilkada ini akan terasa lebih menyenangkan buat saya; Sulit juga sih, karena berarti saya akan terbagi 50-50 antara memilih Ahok atau Anies. Sayangnya Anies melakukan kesalahan fatal yang dealbreaker buat saya – jauh lebih dealbreaker ketimbang Ahok dan penggusuran+reklamasinya: Anies menggandeng elemen fundamentalis agama dan memainkan politik identitas dengan memanfaatkan ‘bocor’-nya mulut Ahok. Mungkin di sini ada bias subyektif saya sebagai kelas menengah dengan agama minoritas, tapi begitu mendengar Anies silaturahmi ke Petamburan sebagai bagian dari kampanye, reaksi spontan saya adalah… fuck that shit. Keberpihakan Anies membuat keberpihakan saya jadi terang benderang: Tak akan sekali-kali saya memilih orang yang tega melakukan itu demi pilkada.

Masalahnya Pilkada DKI ini…

Dengan Ahok dan Anies, tadinya saya kira akan mendapati pilkada yang penuh dengan ‘festival gagasan’ (in Anies’s words) dan pertarungan dua orang terbaik dengan idealismenya tentang Jakarta 5 tahun ke depan. Tapi terima kasih pada orang-orang di sekeliling mereka yang culas dan pandai memanfaatkan kesempatan, yang kita terima adalah pilkada yang busuk dengan pemandu sorak tiap pihak saling melemparkan kotoran ke pihak lawannya.

Ilustrasi: Tubagus Arief Zulfianto (flickr)/Lisensi CC BY 2.0

Iklan

One comment

  1. Masalahnya kita ini.. suka sekali menjebakkan diri ke dalam hal-hal yang tidak substansial.. termasuk klaim-klaim yang jelas-jelas omong kosong.. Jadi ya gampang kemakan isu.. Kata saya sih 🙂

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s