Film: Beauty and the Beast (2017)

Keputusan Disney mendaur ulang film-film animasi lamanya menjadi film live-action saya sikapi dengan bimbang. Saya suka Maleficent karena menambahkan twist baru dari perspektif yang berlawanan, tapi Cinderella terasa sangat biasa dan usang. Kini proyek terbaru Disney adalah Beauty and the Beast; Seperti sebagian besar film klasik Disney lainnya, saya belum pernah menonton film aslinya (meski tahu garis besar ceritanya), jadi saya tak punya nostalgia apa-apa tentang film ini. Saya hanya berharap lagu-lagu musikal dan Emma Watson cukup untuk menghibur saya.

Sayangnya, Beauty and the Beast lebih condong ke Cinderella ketimbang Maleficent. Tak ada pembaruan drastis dalam konsep yang ingin disampaikan; Tidak ada yang salah dengan genre putri-putrian sih, hanya saja saya pribadi tidak tergerak secara emosional dengan kisah yang sudah sering saya dengar dari buku-buku cerita sejak jaman SD.

Jika aspek-aspek lainnya dari film ini sangat cemerlang, mungkin saya tidak akan sebegini penggerutunya. Tapi Emma Watson sebagai Belle, yang saya harapkan jadi ujung tombak film ini, tampil dengan begitu membosankan dan tidak bersemangat. Aktingnya relatif biasa-biasa saja dan tidak menonjol dalam kapasitasnya sebagai pemeran utama; Hal yang sama juga berlaku untuk si pemeran Beast yang saya tak tahu namanya dan tak kenal tampangnya.

Yang memberi kesan positif di film ini bagi saya justru adalah para pemeran pendukung yang lain; Luke Evans dan Josh Gad sebagai antagonis Gaston dan pendampingnya LeFou, juga Ewan McGregor, Ian McKellen, dan Emma Thompson sebagai para pelayan di kastil Beast yang dikutuk jadi barang pajangan yang hidup. Merekalah yang memberi keceriaan yang sangat dibutuhkan bagi Beauty and the Beast, dan lagu-lagu yang mereka nyanyikanlah yang paling menghibur saya sepanjang menonton film ini.

Apakah Beauty and the Beast film yang jelek? Tidak sama sekali. Tapi ketika dua tokoh yang menjadi karakter utama dan subyek utama judul filmnya adalah hal yang paling tidak menarik dari film ini, slogan ‘A tale as old as time‘ bagi saya terdengar seperti bukan pujian.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s