Silence

Ini seharusnya hanya jadi tinjauan film biasa. Saya akan menceritakan latar belakang kenapa awalnya Silence menarik perhatian saya, lalu saya mengulas mengenai betapa menyentuh ceritanya atau betapa bagus akting para pemerannya; Film ini memang memberi tanda centang pada dua hal tersebut. Namun Silence bukan film biasa, dan saya tidak bisa dalam posisi untuk menilai film ini hanya dari kaca mata yang biasa.

Catatan: Dalam tulisan ini saya ingin menceritakan beberapa hal mengenai film Silence, tapi saya berusaha agar tidak membocorkan aspek-aspek plot yang penting. Bagaimanapun juga, sila berhenti membaca di sini jika ingin menonton film ini dengan perspektif yang masih ‘segar’.

Silence berkisah tentang perjalanan dua pastor Jesuit, Sebastiao Rodrigues (Andrew Garfield) dan Fransisco Garupe (Adam Driver) di tanah Jepang yang penguasanya tidak ramah terhadap para misionaris Eropa. Dua padre ini secara khusus ingin ke Jepang untuk mencari mentor mereka, pastor Cristovao Ferreira (Liam Neeson); Hilang kontak selama bertahun-tahun, Ferreira dikabarkan telah menyangkal imannya dan bahkan telah menikah dengan gadis Jepang. Rodrigues dan Garupe tak ingin mempercayai fitnah itu begitu saja, dan ingin melihat kebenarannya sendiri meski ancamannya nyawa.

Sebagian besar durasi Silence (terutama di separuh awal) adalah fantasi saya (dan mungkin sebagian besar orang yang Katolik sejak kecil) mengenai cerita-cerita para martir dan santo-santa yang diwujudkan ke layar lebar. Duet Rodrigues dan Garupe adalah ideal yang saya bayangkan mengenai romo-romo di paroki rintisan yang harus berkutat dengan medan yang berat, fasilitas seadanya, dan iman semata sebagai tumpuan harapan. Para ‘kirishitan‘ -umat Katolik Jepang yang harus sembunyi-sembunyi beriman dan beribadah- juga mengingatkan saya akan kisah komunitas Kristen generasi awal yang ditindas dan diburu oleh imperium Romawi.

Simbol dan Substansinya

Dengan konteks Jepang abad ke-17 yang paranoid dengan pengaruh asing, sungguh menyusahkan hati melihat orang-orang malang ini kemudian dipaksa untuk meninggalkan agamanya, meski ‘hanya’ secara permukaan: Penguasa setempat seringkali melakukan sidak dan meminta semua penduduk desa untuk menginjak fumi-e, sebuah papan kayu kecil bergambarkan Yesus atau Maria, sebagai bukti bahwa mereka bukan orang Kristen. Jika terlihat keengganan sedikit saja, maka beragam siksaan menanti hingga nantinya mayat mereka dibakar agar tak bisa dimakamkan secara Kristen.

Buat saya yang liberal dan hidup relatif bebas di abad ke-21 ini, awalnya saya tidak terlalu menganggap konflik ini benar-benar serius. Sudahlah, injak saja gambarnya untuk menyelamatkan diri dan keluarga. Bukankah kita sudah diajarkan bahwa segala ikonografi itu hanya gambar yang membantu ritual kita saja? Perasaan saya itu rupanya sama seperti yang diutarakan oleh seorang abdi negara di desa Tomogi yang bertugas mengadministrasikan penginjakan fumi-e ini: Sudahlah, injak saja gambarnya. Ini cuma simbolik. Kalian bisa menginjaknya cepat-cepat, tak harus pas di tengah-tengahnya. Benar bahwa sebagian besar penduduk desa pada akhirnya melakukannya, tapi toh fakta sejarah mencatat ratusan lebih kirishitan di Jepang rela mati atas tindakan yang simbolik ini.

Mungkin… mungkin karena buat kita orang Katolik, simbol bukan berarti tak bernilai. Iman kita, Rodrigues dan Garupe, orang-orang kirishitan di desa terpencil Jepang, mempercayai roti dan anggur -sebuah simbol pengorbanan Yesus- bisa berubah substansinya menjadi daging dan darah Yesus sendiri dalam ritual misa yang juga penuh simbol-simbol. Menolak simbol, meski di bawah tekanan, dengan demikian bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan rasa enak hati berbungkus dalih. Apalagi jika kita melihatnya dalam konteks masa itu ketika Kekatolikan masih sangat konservatif dan tradisional, di mana doa-doa dan misa masih harus dilakukan dalam bahasa latin.

Menyangkal Di Hadapan Manusia

Bagi para kirishitan yang rela mati karena menolak menginjak fumi-e, sikap itu bukanlah sekedar simbolik, melainkan tindakan murtad yang nyata. Lagi-lagi, bias liberal saya tampil lagi di sini. Jika nyawa saya atau keluarga berada di bawah ancaman, saya tidak akan banyak membantah jika dipaksa menyatakan murtad. Buat saya, yang terpenting adalah nyawa manusia yang konkrit – tak sebanding dengan iman yang abstrak, apalagi jika hanya sebatas ekspresi keimanan di bibir. Mungkin inilah yang dirasakan Pastor Rodrigues ketika dari kejauhan melihat sejumlah penduduk desa diikat dalam tikar jerami dan ditenggelamkan hidup-hidup. Murtadlah! Kenapa kalian tidak murtad saja!?

Di sisi lain, saya juga mengerti sentimen emosional yang dirasakan mereka yang mempertahankan imannya. Kita, orang-orang Katolik, dibesarkan dengan glorifikasi para martir yang menolak murtad dan rela menderita atau mati sebagai orang yang percaya; Mungkin sembilan puluh persen orang Katolik (termasuk saya) diberi nama sama seperti para martir itu, dan nama adalah doa dan harapan dari para tetua kita. Murtad, dengan demikian, terasa seperti dosa berat yang tak termaafkan. Terlebih lagi, keteguhan iman dalam siksaan adalah sikap yang dipuji oleh Yesus sendiri, sebagaimana tertulis di Injil Matius 10:16-33. Dua ayat terakhir terutamanya:

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.

Penderitaan KE PAradiso

Tak mengherankan jika kemudian Monika, seorang kirishitan yang tertangkap oleh inkuisitor, bertanya dengan gembira pada pastor Rodrigues: Setelah ini, kita akan pergi ke paraiso (surga) kan? Bagi mereka, janji akan masuk surga sebagai pengikut Yesus yang mati mempertahankan imannya adalah pelepasan yang melegakan setelah hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Pastor Rodrigues, seingat saya, tidak menjawab apa-apa.

Bagi pastor Rodrigues, menjadi martir tentulah sudah menjadi bagian dari risiko pekerjaannya. Bagaimanapun juga, ia dan Garupe sukarela menawarkan diri menyelundup masuk ke Jepang yang menghargai tiap pastor yang tertangkap dengan tiga ratus keping perak. Tapi di sana, ia baru menyadari bahwa legenda para martir itu adalah… legenda. Kisah yang belum tentu nyata atau tidak, tapi yang pasti sudah penuh polesan dan bumbu. Nyatanya, tak terlihat kemuliaan sedikitpun dalam penderitaan para kirishitan. Yang lebih menyakitkan hatinya lagi, orang-orang itu disiksa dan mati tak hanya demi iman mereka, tapi juga untuk melindungi ia dan Garupe.

Mereka berdua sejak sekolah seminari telah ditempa mentalnya untuk mendedikasikan hidup mereka untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar. Mereka telah mempersiapkan diri untuk berkomitmen total melayani, dan mati, demi umatnya. Tapi di Tomogi mereka mendapati bahwa orang lainlah yang menderita dan mati demi mereka. Apakah etis bagi para padre itu untuk terus melanjutkan misi dengan kehidupan para penduduk desa sebagai korbannya? Dalam kondisi yang pedih ini pastor Rodrigues mencoba untuk tetap bertekun dalam doa, tapi situasi yang terus memburuk tak memberinya banyak harapan.

I pray but I am lost. Am I just praying to silence?

Kita, Kichijiro

Maka di tengah para karakter yang beriman penuh seperti mereka, Kichijiro (Tadanobu Asano) adalah karakter yang paling berkesan bagi saya. Kichijiro adalah pemabuk yang ditemui Rodrigues dan Garupe di sebuah rumah tuak di Makau saat mereka mencari seorang pemandu yang bisa membantu mereka menemukan Ferreira. Seorang kirishitan, Kichijiro bisa selamat karena ia tanpa ragu menginjak fumi-e ketika diminta. Dalam sebuah sesi sakramen pengakuan dosa bersama pastor Rodrigues, ia mengungkapkan bahwa alasannya kabur dari Jepang adalah karena melihat istri dan anaknya menolak menginjak fumi-e dan kemudian dibakar hidup-hidup.

Apakah setelah itu Kichijiro menjadi penganut yang teguh beriman? Tidak. Sepanjang film kita berkali-kali melihat Kichijiro dengan begitu gampang menyangkal imannya setiap kali merasa sedikit terancam, dan berkali-kali pula kita melihat Kichijiro merunduk-runduk di hadapan pastor Rodrigues meminta satu lagi sesi sakramen pengakuan dosa agar Tuhan mengampuni kesalahannya. Rangkaian adegan ini disuguhi dengan begitu komikal (termasuk ekspresi pastor Rodrigues yang bete tapi tak bisa apa-apa karena sudah tugasnya memberi sakramen pengakuan dosa jika diminta), sehingga menjadi salah satu aspek lelucon yang ringan dari film yang suram dan berat ini.

Di balik segala kelucuan itu, Kichijiro mungkin adalah perwakilan yang realistis dari kebanyakan umat beriman angin-anginan macam saya. Seperti Kichijiro, kita seringkali jatuh dalam dosa karena kelakuan dan kelalaian kita. Namun Kichijiro juga sadar akan kelemahannya (dan ia kesal dengan Tuhan karena menciptakannya seperti itu) dan sepenuh hati memohon ampun atas dosa-dosanya begitu ia sadar akan apa yang telah ia perbuat. Tapi bisakah saya tafsirkan permohonannya sebagai sepenuh hati jika kemudian ia membuat kesalahan yang sama lagi dan lagi? Pastor Rodrigues bahkan menanyakan hal yang lebih radikal lagi: Apakah Yesus dilahirkan ke dunia, menderita, dan mati demi menebus dosa orang-orang labil semacam Kichijiro ini?

Afterwords

Film Silence adalah adaptasi dari sebuah novel berjudul Chinmoku, terbit tahun 1966 oleh Shusaku Endo. Saya tidak pernah membaca novelnya, tapi istri pernah membaca terjemahan Indonesianya beberapa tahun yang lalu. Katanya, membaca novel itu mengubah pandangannya mengenai iman dan ekspresinya. Iapun mendorong saya untuk membaca Chinmoku sebelum menonton film adaptasinya, tapi saya belum jua membacanya sampai kami menonton Silence beberapa minggu yang lalu.

Berdurasi hampir tiga jam, Silence bukanlah film yang mudah untuk ditonton. Istri saya sekali dua kali mengeluh kapan film ini akan selesai. Saya juga berpikir begitu, tapi bukan karena kami merasa film ini membosankan atau tidak menarik. Sebaliknya, film ini menggelisahkan; Membuat gatal bagian kepala yang suka otomatis berpikir sendiri ketika kita berada di bawah pancuran kamar mandi atau ketika tidak bisa tidur di tengah malam. Silence tidak sampai menggubah ulang struktur keimanan saya, tapi menonton film ini seperti melakukan refleksi spiritual intens yang tak pernah saya alami sebelumnya.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s