Film: Logan (2017)

X-Men bukanlah serial film superhero favorit saya. Buruknya Fantastic Four dan X-Men: Apocalypse hanya menegaskan bahwa Disney dalam segala segi jauh lebih perhatian dalam menangani adaptasi komik Marvel dibandingkan Fox. Tapi saya senang Fox mulai berani mengambil risiko yang kemudian membuahkan hasil yang baik: Deadpool, film tentang seorang antihero nyentrik, diterima dengan positif oleh kritikus dan penonton di tahun 2016 lalu. Kali ini Fox juga mencoba keluar dari pakem dengan Logan, film spin-off dengan fokus pada Wolverine yang tampak super suram.

Yang bikin Logan kelihatan berbeda bukanlah perkara Wolverine sebagai bintang utamanya, karena sebenarnya sudah ada X-Men Origins: Wolverine (2009) dan The Wolverine (2013). Yang membuat film ini tidak biasa adalah atmosfernya yang terasa sangat sendu dibandingkan film-film di semesta X-Men sebelumnya. Sebenarnya saya agak jeri dengan sudut pandang cerita yang serius begini. Tak semua orang bisa seperti Christopher Nolan yang mampu membangun cerita Batman yang cukup realistis; jatuhnya bisa seperti ketika Zack Snyder membuat Batman v Superman terlalu gelap hingga akhirnya justru malah jadi konyol dan menggelikan.

Untungnya, kekuatiran saya terbantahkan. Meski sepanjang film ini saya disuguhi penderitaan Wolverine dan Profesor X yang tersiksa secara lahir batin, semuanya ada dalam proporsi yang pas untuk membangun cerita yang begitu emosional dan kuat. Dan, wow, mungkin ini adalah kali pertama saya merasa unsur dramatik dalam sebuah film superhero lebih memikat ketimbang elemen aksinya; Bukan berarti aksi-aksi di film ini buruk – jauh dari itu – tapi Logan mungkin bisa memotong 90 persen adegan laga Wolverine dan daya tarik film ini tak akan banyak berkurang.

Yang mendukung penitikberatan pada drama ini tentu saja adalah akting yang brilian dari Hugh Jackman dan Patrick Stewart. Keduanya masing-masing berhasil memerankan tokoh pahlawan super ikonik yang sudah lewat masa senja dan tinggal menunggu mati saja. Tapi yang membuat Logan istimewa adalah chemistry antara keduanya ketika berada dalam adegan yang sama; Itu, diramu dengan dialog yang solid dan penyampaian yang cemerlang, membuat interaksi keduanya di film ini begitu otentik dan menyentuh hati. Meski mereka sudah belasan kali memainkan peran Wolverine dan Profesor X, mungkin inilah kali pertama saya bisa benar-benar merasakan totalitas mereka berdua.

Hal tambahan dari Logan yang sempat membuat saya ragu adalah karakter mutan cilik Laura/X-23 yang diperankan oleh pendatang baru berumur 11 tahun, Dafne Keen. Film-film X-Men sebelumnya saja terasa kekanak-kanakan meski dibintangi orang-orang dewasa, jadi saya agak bimbang bagaimana karakter ini akan nyambung dengan premis film ini yang jauh lebih brutal. Di sini lagi-lagi Logan sukses meredakan kekuatiran saya. Saya salut kepada sutradaranya karena tidak mengkompromikan visinya dengan kehadiran karakter Laura, malah karakter tersebut adalah aspek yang esensial bagi kisah yang ingin disampaikan film ini. Saya juga acungkan jempol untuk Dafne Keen yang berakting bagus, walau saya agak kuatir sebenarnya karena ia begitu menghayati adegan yang berdarah-darah sampai film ini diberi rating dewasa karenanya.

Jika ada satu hal yang agak lemah dari film ini, itu mungkin adalah tokoh-tokoh antagonisnya. Kali ini Wolverine harus menghadapi Transigen, perusahaan bioteknologi misterius yang ‘menciptakan’ Laura/X-23 dan ingin mengambilnya kembali dari tangan Wolverine. Dibanding film-film X-Men lainnya, mungkin Zander Rice dan Donald Pierce (kepala Transigen dan tukang pukulnya) adalah lawan yang paling tidak memorable dalam sejarah film superhero. Tak berkepribadian unik dan motifnya simpel – bertolak belakang 180 derajat dengan pendalaman karakter Wolverine yang kompleks dan penuh nuansa. Tapi dengan segala konflik internal yang dialami oleh Logan, sejujurnya saya tidak terlalu merasakan kekurangan ini ketika sedang menontonnya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s