Film: Split (2017)

Ah, M. Night Shyamalan. Sutradara yang di masa keemasannya (The Sixth Sense, Unbreakable, Signs) ditahbiskan sebagai the next Spielberg. Entah karena keberatan gelar atau kegemarannya untuk mengandalkan plot twist dahsyat dalam setiap filmnya, lama kelamaan film-film Shyamalan jadi dianggap terlalu konyol dan kehilangan daya tariknya (Lady in the Water, The Happening, The Last Airbender). Tapi itu beberapa tahun yang lalu…

split

Shyamalan tampaknya mulai mengalami ‘kebangkitan kembali’ dengan The Visit (2015). Saya sudah menontonnya; sayang belum sempat diulas di blog ini. Tapi berbekal impresi yang bagus akan film itu, saya memutuskan untuk percaya pada Shyamalan sekali lagi dan menonton Split, film Shyamalan pertama yang saya tonton di bioskop. Selain alasan itu, sebagai peminat psikologi saya juga tertarik dengan premisnya mengenai Dennis, seorang penderita dissociative identity disorder dengan 23 kepribadian dalam satu tubuh yang menyekap tiga gadis remaja dengan alasan misterius.

Harus diakui, kali ini Shyamalan kembali tidak mengecewakan. Saya bisa merasakan ketegangan yang ditawarkan Split sejak menit-menit pertama ketika ketiga remaja itu diculik hingga detik-detik terakhir ketika klimaks film sudah lewat. Film ini juga berhasil menjalin beberapa subplot ke dalam cerita utamanya dengan rapih dan logis – seperti kisah masa kecil salah satu remaja yang disekap atau psikolog yang menangani kasus Dennis – sehingga ada variasi dalam alur cerita yang menambah rasa penasaran saya tanpa terlalu banyak mengendorkan ketegangannya.

Yang menjadi bintang utama dari Split tentu saja adalah James McAvoy sebagai ‘Dennis’ dan setidaknya delapan kepribadian lainnya yang ia perankan secara bergantian. McAvoy mampu menampilkan para ‘alter’ yang berbeda-beda watak, gestur, dan mimik wajahnya itu secara meyakinkan tanpa terlalu terlihat berlebihan. Bahkan ia tampil begitu mengesankan ketika beberapa kali mengubah-ubah ‘alter’ dalam satu adegan yang sama. Ini bukan berarti para pemeran lainnya berakting buruk sih, hanya saja… yah, karakter yang diperankan McAvoy memang dirancang untuk mendominasi film ini, dan ia sukses melakukannya.

Lalu bagaimana dengan twist fenomenal ala Shyamalan yang terkenal itu? Tentu untuk menghindari spoiler, tak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai itu. Cukuplah saya katakan bahwa itu tidak sepenting twist di film-filmnya sebelumnya, tapi para penikmat setia film-film Shyamalan akan terkejut senang melihatnya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s