Film: The Lego Batman Movie (2017)

Meski bukan film sekuel, penilaian akan The Lego Batman Movie bersandar banyak pada pendahulunya, The Lego Movie. Saya termasuk di antara yang menganggap The Lego Movie adalah salah satu film terbaik sepanjang masa, jadi sejak awal saya sudah mengambil ancang-ancang bahwa Lego Batman tak akan mungkin bisa menyamainya. Meski saya menaruh harapan yang cukup realistis, sambutan yang positif mengenai film ini membuat saya penasaran: Sampai sejauh mana Lego Batman bisa mendekati The Lego Movie?

legobatman

Singkatnya: Tentu tidak. Berbeda dengan The Lego Movie yang lebih kreatif dan berani keluar pakem, Lego Batman tampil dengan lebih konvensional – dan saya memang tak mengharapkan lebih dari itu. Film ini berkisah seperti layaknya film Batman yang sudah-sudah: Joker membuat rencana jahat akan kota Gotham, dan semuanya tergantung kemauan Batman untuk bekerja dalam tim bersama Dick Grayson, Barbara Gordon, dan Alfred Pennyworth untuk mengatasinya.

Sekilas, cerita Lego Batman malah mengingatkan saya akan Batman Forever (1995) yang saya tonton di Laser Disc waktu kecil dulu, terutama soal bagaimana Batman/Bruce Wayne yang lebih suka bekerja sendiri harus ‘dipaksa’ berbagi tugas dengan Robin yang lebih muda. Tapi ini bukan berarti cerita film ini hanya setara film-film Batman campy besutan Joel Schumacher. Sebaliknya, saya ingin memakai topi hiperbola saya lagi dan mengklaim bahwa Lego Batman adalah film Batman terbaik kedua setelah The Dark Knight, dan… ya, ini berarti film ini – meski memiliki premis yang tradisional – dieksekusi dengan lebih kompeten dan solid dibanding dua film Christopher Nolan lainnya.

Agak mengejutkan saya juga untuk merasakan hal itu. Tadinya saya kira Lego Batman ‘hanyalah’ film parodi biasa dengan pesan-pesan moral; tak jauh bedalah dengan The Lego Movie. Memang, segala sindiran mengenai konsep Batman itu sendiri dan eksekusinya di layar lebar adalah satu hal kuat dari film ini yang membuat saya terpingkal-pingkal. Tapi di balik semua itu, film ini punya fondasi cerita dan karakter yang kuat untuk jadi film Batman yang ‘normal’. Buang semua parodi dan hal-hal yang tidak nyambung dengan semesta Batman, dan Warner/DC sebenarnya sudah punya kerangka yang bagus untuk membuat film live action yang berikutnya tanpa perlu mengalami kisruh tanpa henti.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s