Film: John Wick: Chapter 2 (2017)

Ketika sekuel John Wick diumumkan, saya bertekad untuk melihatnya di bioskop demi menebus rasa bersalah saya. John Wick – di luar dugaan – terlalu bagus untuk hanya ditunggu di kanal TV berbayar, jadi menonton John Wick: Chapter 2 segera adalah sebentuk apresiasi yang tertunda untuk orang-orang yang membuatnya. Tapi, ada sedikit kekuatiran juga; Film aksi beranggaran rendah yang mendapat sambutan baik biasanya justru menciptakan kelanjutan yang lebih jelek dari pendahulunya – satu contoh yang sempat saya ulas adalah Taken 2.

Syukurlah Chapter 2 berhasil lolos dari perangkap ‘kutukan’ itu. Film ini adalah John Wick 1 dalam dosis kedua yang lebih panjang dan keras. Hal-hal yang saya sukai dari film sebelumnya – aksi yang efisien, tata kamera yang rapih, cerita yang sederhana tapi efektif – semuanya ditingkatkan intensitasnya tanpa ada satu aspekpun yang dikurangi atau dikompromikan. Kira-kira apa-apa yang pernah saya ulas mengenai John Wick 1 kayaknya juga berlaku untuk Chapter 2 ini.

Satu hal khusus yang saya sukai adalah world building-nya. Dalam John Wick 1 saya disuguhi lika-liku organisasi pembunuh bayaran yang detail tapi misterius dan mengundang rasa penasaran. Chapter 2 mengabulkan permohonan saya dan mengajak penontonnya untuk lebih dalam menyelami setting yang fantastis ini. Mungkin efeknya seperti membaca atau menonton Harry Potter pertama kalinya; Ada ketakjuban akan deskripsi dunia para penyihir yang hidup bertautan dengan – namun tersembunyi dari – dunia sehari-hari kita yang normal dan membosankan. Chapter 2 juga terasa seperti itu, hanya saja tentang mafia alih-alih penyihir.

Jika ada satu hal yang agak mengganjal mengenai film ini, itu adalah variasi aksinya. Memang logika internalnya mengatakan bahwa Wick adalah pembunuh yang sangat ringkas, tidak mau berlama-lama dan mempersulit diri sendiri, dan juga tidak suka ‘pamer jurus’. Jadi wajar kalau sepanjang film ia akan menggunakan metode yang paling praktis dan sudah teruji: Langsung tembak di kepala jika bisa. Kalau agak sulit, tembak dulu di dada atau perut untuk melumpuhkan, lalu…tembak di kepala. Tidak rumit, tapi jadi mudah tertebak (bagi penonton) ketika Wick membunuh musuh keseratusnya dengan cara yang sama seperti musuh pertamanya. Ini tidak terlalu saya sadari di film pertama karena jumlah musuhnya lebih sedikit, tapi jumlah musuh yang berlipat ganda di Chapter 2 membuat monoton ini agak lebih tampak, terutama menjelang akhir film.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s