Web Log: Januari 2017

Is Rohingya persecution caused by business interests rather than religion? (Saskia Sassen/The Guardian) – Satu sudut pandang alternatif yang mencerahkan mengenai konflik Rohingya di Myanmar. Tampaknya – seperti biasa – bukan sekedar masalah gesekan SARA, melainkan ada kepentingan ekonomi pemerintah militeristik yang ingin ‘membebaskan’ lahan dalam jumlah besar untuk kepentingan investor asing.

Experts warn Japan’s language schools are becoming a front for importing cheap labor (Tomohiro Osaki/The Japan Times) – Harus diakui ini adalah modus ‘penipuan’ yang jenius. Iming-imingi pelajar dari negara berkembang untuk sekolah bahasa di Jepang (biasanya dengan impian melanjutkan kuliah atau bekerja), dan di sana mereka ternyata – selain belajar bahasa pas-pasan –  dipaksa bekerja keras (sebagai pekerja ‘part time‘) sampai 72 jam per minggu untuk melunasi uang sekolah dan biaya hidup mereka.

“Think Different” is Bad Advice (Nir and Far) – Nasihat yang ringkas dan terasa mengena itu memang sebaiknya ditambahi banyak asterisk dan tulisan “syarat dan ketentuan berlaku” kecil di bawah. Salah satunya ya nasihat soal “berpikir berbeda” ini. Seperti biasa, yang bagus itu adalah yang jangan berlebihan – seperlunya saja. Atau istilah di artikel ini: Optimally distinct. Terlalu ekstrim malah membuat orang enggan membeli.

Amien Rais dan Lebensraum Tiongkok (Yurgen Alifia/Selasar) – Sentimen ‘anti-aseng’ belakangan ini sangat meresahkan saya, terutama karena itu juga diidap oleh orang-orang yang berpengaruh secara politik. Tulisan ini memberikan kritik soal itu dan juga membuka wawasan saya mengenai situasi geopolitik dan kebijakan luar negeri RRT, juga bagaimana kita – alih-alih bersikap fobia – sebaiknya menggunakan Tiongkok sebagai peluang dan pelajaran.

Mengapa Buku Indonesia (yang Baik) Tidak Terjual (dengan Baik) (M Aan Mansyur) – Introspeksi yang bagus dari penulis Aan Mansyur mengenai buku-buku Indonesia yang dianggap bagus tapi penjualannya jeblok. Saya terutama suka pada upayanya untuk menggeser perbincangan dari kerangka ‘siapa yang salah‘ ke ‘apa yang salah dan mengapa‘. Dan membenci atau mencibir penulis best-seller itu tidak akan menjawabnya.

Dilema Para Penulis ‘Pabrik Naskah’ Sinetron Indonesia (Arzia TW/Vice Indonesia) – Vice mengintip isi dapur para penulis naskah sinetron kejar tayang dan bagaimana mereka bekerja. Karena mereka tiap hari harus memproduksi naskah, tentu buruknya kualitas tak terhindarkan. Bahkan ketika mereka berusaha untuk menulis bagus, naskah yang mereka tulis bisa dikembalikan karena dianggap ‘terlalu cerdas’ untuk pangsa pasarnya.

Why America’s Restaurant Industry Is in a Bubble About to Burst (Kevin Alexander/Thrillist) – Liputan mengenai mengapa – menurut penulisnya – bubble industri restoran Amerika akan segera meletus. Upah, sewa tempat, dan harga bahan makanan terus naik, sementara persaingan dengan restoran sejenis semakin ketat dan tuntutan konsumen akan kualitas makanan dan pelayanan juga makin tinggi – padahal mereka juga protes ketika harga dinaikkan.

The Porn Business Isn’t Anything Like You Think It Is (Cade Metz/Wired) – Bisnis pornografi di era internet ini sudah tidak seperti dulu lagi. Di tengah banyaknya porno amatir yang disebar gratis oleh situs video yang mengandalkan iklan, Wired menyorot satu start-up yang membuat app store untuk layanan pornografi. Banyak tantangan yang harus mereka hadapi, terutama karena banyak aspek internet kini dikuasai para pemain besar (Google, Facebook, Apple) yang enggan berurusan dengan bisnis pornografi.

5 Pandangan Saya tentang Amerika yang Berubah Sejak Tinggal di Minnesota (Terry Perdanawati) – Pengamatan seorang Indonesia yang sedang tinggal di Amerika Serikat. Tidak ada yang baru bagi saya, tapi rasanya ini masih perlu dibaca oleh orang-orang yang masih punya pandangan penuh prasangka buruk mengenai Amerika Serikat.

Menjadi Republik Ormas, Membiakkan Paramiliter (Zen RS/Tirto.id) – Ormas yang akrab dengan militer bukanlah fenomena yang baru. Zen RS menyegarkan kembali ingatan saya bahwa sejatinya perjuangan kemerdekaan republik ini didukung oleh laskar-laskar yang lebih bermodalkan semangat juang ketimbang kompetensi bertempur atau kesamaan ideologi – dan efek negatifnya baru terasa setelah Indonesia merdeka.

What my kids learnt from kakak (Jane Ng/The Straits Times) – Esai seorang mantan majikan di Singapura yang berjanji untuk menghadiri wisuda ‘kakak’, mantan pembantu rumah tangganya, di Medan. Tulisan ini mengingatkan kita kembali bahwa perjuangan dan kerja keras buruh migran kita tak hanya diisi duka dan air mata, tapi juga kenangan, persahabatan, dan keluarga baru.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s