Film: Arrival (2016)

Setelah Passengers yang mengecewakan, saya jadi lebih berhati-hati dalam menyikapi film Arrival yang mendatangi (ha!) bioskop Indonesia tak lama setelah Passengers turun. Duo Chris Pratt dan Jennifer Lawrence tak sanggup menyelamatkan Passengers dari cerita yang buruk, jadi seberapa realistis saya harus berharap pada duet Amy Adams dan Jeremy Renner di Arrival? Apalagi, sejujurnya saya tidak begitu suka dengan kualitas akting Renner yang sejauh ini tidak begitu mengesankan saya.

arrival

Cerita Arrival dimulai dengan cukup biasa bagi genre film alien: Dua belas piring terbang raksasa mendarat tiba-tiba di berbagai belahan bumi. Selanjutnya… tidak terjadi apa-apa, kecuali sebuah pintu terbuka dalam interval tertentu. Louise Banks (Amy Adams), seorang ahli bahasa, direkrut bersama Ian Donnelly (Jeremy Renner), ahli fisika teoretis, oleh militer Amerika untuk melakukan kontak pertama dengan para alien tersebut. Tujuannya untuk menanyakan satu hal: Apa maksud mereka datang ke bumi?

Sampai di sini Arrival masih agak terdengar seperti reboot film Independence Day yang fenomenal di tahun 1996 itu. Untungnya film ini kemudian mengambil jalan yang – meski minim aksi – lebih elegan seperti Contact dan Close Encounters of the Third Kind. Maka yang saya dapati hampir sepanjang Arrival adalah usaha ilmiah Banks dan Donnelly untuk mempelajari bahasa tertulis yang digunakan para alien itu dan berkomunikasi dengan mereka; Ini adalah gaya pengisahan fiksi ilmiah yang saya sukai dan sedikit mengingatkan saya akan kerja para awak NASA dalam film The Martian.

Yang membuat Arrival lebih istimewa adalah unsur personalnya. Di awal film dan tersebar sporadis di sepanjang film, ada kilasan soal Banks dan anaknya Hannah – permainan mereka, interaksi mereka – hingga akhirnya Hannah harus meninggal muda di usia remaja karena penyakit genetis yang tak tersembuhkan. Awalnya saya kira ini subplot biasa untuk memberi film ini sedikit sentuhan kemanusiaan, sekaligus memberi latar belakang karakter Banks yang sepanjang film kelihatan sendu dan kerap melamun. Tapi Arrival berhasil secara cerdasnya menyatukan cerita – yang saya kira selingan – ini dengan kisah utamanya.

Sebagai satu-satunya karakter di Arrival yang kehidupan pribadinya dikupas, emosi film ini hampir sepenuhnya tergantung pada bagaimana Adams membawakan karakternya; Saya kira, Adams cukup brilian dalam melakukannya. Yang terasa agak mengganjal – seperti sudah bisa ditebak – adalah Jeremy Renner dan karakternya, Ian Donnelly. Donnelly, meski posisinya cukup penting dalam cerita, tidak digarap dengan mendalam. Ia terkesan hanya seperti tempelan yang tidak akan mengurangi kualitas Arrival jika karakternya dihilangkan. Renner dengan aktingnya yang begitu-begitu saja juga tidak membantu menambahkan kesan positif pada karakter ini.

Meski ada sedikit kekurangan, secara keseluruhan Arrival mungkin masuk dalam jajaran film fiksi ilmiah terbaik menurut saya. Dan yang jelas, Arrival adalah penawar racun yang sempurna untuk Passengers yang beberapa minggu sebelumnya saya tonton.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s