Yang Kaffah di Kafeteria

(Prakata: Tulisan ini saya mulai buat di Oktober 2016, jadi beberapa referensi kalau dibaca sekarang terasa agak… usang. Ya, ini risiko memendam tulisan terlalu lama di draft. Semoga intinya masih terasa relevan, apalagi Ahok masih dalam proses hukum.)

Gatal rasanya mau bicara tentang Ahok, atau pilkada DKI secara umum. Tapi itu nantilah, saya cuma mau ngomongin sebagian kecil dari ribut-ribut soal Al-Maidah 51 kemarin. Yang memantik saya untuk menulis ini adalah beberapa kenalan di timeline Facebook yang membagikan kultwit Felix Siauw. Biasalah orang HTI, mengajak pendengarnya untuk tidak setengah-setengah dalam mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah; Intinya, mengajak para muslim untuk beragama secara kaffah, salah satunya adalah dengan menerima dan menjalankan ayat Al-Maidah 51 yang mengharamkan non-muslim menjadi seorang pemimpin (dan tentu tujuan akhir yang secara implisit ditekankan adalah berdirinya khilafah di Indonesia).

cafeteria

Harus diakui bahwa Felix dan HTI cukup konsisten dalam menyuarakan soal kekaffahan beragama ini. Jauh sebelum hingar bingar pilkada DKI, mereka sudah mengumpulkan banyak pendukung dan penentang dengan rutin kultwit mengenai betapa wajibnya jilbab syari atau betapa haramnya konsep pacaran dan riba bunga bank. Jika rambut anda masih tergerai bebas, masih pacaran, dan masih nabung di bank konvensional, maka bagi Felix dan HTI anda masih muslim KTP, belum kaffah.

(Sedikit tangential: Kaffah. Saya suka betul kata itu: Kaffah. Entah persisnya kenapa, mungkin gara-gara dulu di tahun 2007-2008 di WordPress.com ini sempat banyak blog salafi yang muncul dan aktif mengundang ‘diskusi.’)

Tapi di sini saya tidak ingin membedah secara spesifik mengenai perkara teologis agama lain, toh siapalah saya yang orang luar ini sementara orang dalam yang lebih berkompeten justru menahan-nahan diri. Hanya saja, ribut-ribut di dapur tetangga sebelah itu kedengaran sampai ke sini, dan saya jadi teringat bahwa di kolam ini ada sentimen begitu juga meski ‘serupa tapi tak sama’.

Enter the Cafeteria

Katolik Kafeteria‘, lebih tepatnya. Istilah ini merujuk pada sebagian umat Katolik yang memandang dogma, doktrin, dan ritual Katolik sebagai kafeteria: Pilih-pilih mana makanan yang disukai dan tinggalkan yang tidak; Sebagian ajaran Gereja yang dirasa sreg di hati akan mereka terima, tapi sebagian lain yang tidak mereka setujui karena berbagai alasan akan dengan sengaja tak dihiraukan.

Dalam praktiknya, tiga besar menu kafeteria yang paling sering tak diacuhkan adalah pandangan moral Gereja yang masih relatif konservatif mengenai perceraian, aborsi, dan kontrasepsi buatan. Untuk skala pertentangan yang lebih kecil, banyak juga umat Katolik (terutama di belahan Barat) yang tidak sepaham dengan Gereja dalam hal hukuman mati, legalisasi pernikahan homoseksual, keharusan imam untuk selibat (tidak menikah), dan pengangkatan perempuan sebagai imam.

Kecenderungan untuk pilih-pilih ini berdampak juga secara politik. Survei di Amerika tahun lalu menunjukkan bahwa proporsi umat Katolik yang mendukung legalisasi pernikahan homoseksual dan aborsi tidak jauh berbeda dengan proporsi populasi pada umumnya. Lebih aktual lagi, calon wapres Pemilu Amerika Serikat dari partai Demokrat, Tim Kaine, juga dilabeli sebagai Katolik kafeteria oleh uskup Kansas karena Kaine, meski menentang hukuman mati, dalam hal pernikahan homoseksual dan aborsi ia mengikuti garis partai Demokrat yang memang lebih liberal.

Menariknya, dorongan untuk lebih kaffah dan menghindari kafeteria tidak begitu gencar dikumandangkan di umat Katolik. Ya tentu ada pembicaraan mengenai ini, dan bahkan Pauspun juga ikut berkomentar, tapi sejauh ini belum ada ormas atau LSM transnasional yang fokus mengurusi kemurnian akidah umat seperti Hizbut Tahrir. Inkuisisi Roma Pengawas doktrin iman gerejapun jarang bersuara lantang mengenai hal ini. Padahal Gereja Katolik ini organisasinya rapi dan sangat top-down sekali, jadi sebenarnya bisa saja bikin kampanye global secara masif dan sistematis untuk mendidik ulang umat dan mematikan benih-benih kecenderungan kafeteria di hati mereka.

Kenapa begitu ya? Mungkin karena Gereja Katolik ini sudah kadung gencar memajukan kasih sebagai salah satu pondasi ajaran moralnya. Jadi kelihatan agak hipokrit kalau aparatur gereja mau mengecam tren kafeteria ini (dan umat yang melakukannya) dengan keras. Memang setiap kali ada tokoh masyarakat yang menunjukkan gejala ini (seperti Tim Kaine di atas) pasti ada pastor atau uskup yang bersuara menyayangkannya, tapi rasanya tidak akan sampai menyuarakan ekskomunikasi, mengkafirkan, apalagi sampai mengutuk si pelanggar moral masuk neraka.

Memangnya kenapa kalau Kafeteria?

Ya nggak kenapa-kenapa juga sih. Sayapun dalam banyak hal punya sikap moral yang lebih… bebas dibandingkan ajaran moral resmi gereja – dan untuk itu saya sukarela menempatkan diri sebagai salah satu dari kaum ‘Katolik kafeteria’ itu. Hanya saja saya jadi kepikiran soal ini ketika isu-isu keagamaan yang berkembang sekarang mempertajam perbedaan antara yang konservatif dengan yang progresif – antara yang pembacaan kitabnya literal dengan yang menerjemahkan kitabnya secara liberal.

Padahal, milih-milih makanan di kafeteria adalah tingkah yang tak bisa terhindarkan sejak awal institusi agama mulai membentuk diri. Kitab suci, misalnya. Bahkan ketika ayatnya dipercaya turun langsung dari langit, toh proses kanonisasinya (mencari, memilah, dan memilih teks mana yang dianggap suci atau sekedar racauan) juga dilakukan dengan segala keterbatasan manusia; Kita (mungkin kecuali mereka yang sangat liberal) hanya bisa mengimani orang-orang yang terlibat dalam proses itu dibimbing oleh kekuatan ilahi dan dihindarkan dari kesalahan fatal.

Begitu juga dengan bagaimana kita membaca kitab dan menerjemahkannya dalam syahadat. Kita dengan literal menerima seorang Allah juga seorang manusia, bisa mati dipantek ke batang kayu, tapi tiga hari kemudian bangkit dari kubur. Namun ketika Allah-manusia yang sama memerintahkan untuk memberikan semua harta pada orang miskin untuk mengikutiNya, itu kita tafsirkan sebagai metafora; Saya selalu tertarik melihat bagaimana para pastor dengan segala pembenaran teologisnya mencoba menjelaskan apa maksud ayat itu sebenarnya ketika berkotbah di depan para umatnya yang kaya-raya.

Bagi kaum konservatif, hal semacam ini kayaknya tidak dianggap sebagai paradoks atau kontradiksi. Buat mereka, seleksi dogma yang dilakukan oleh umat awal bukanlah tindakan kafeteria, melainkan penetapan sebuah menu standar oleh otoritas institusi agama yang dipercaya keilmuan dan keimanannya. Yang kafeteria itu adalah kita, orang awam yang mencoba melangkahi kewenangan para tetua pendahulu dengan mengusulkan penyesuaian menu agar lebih cocok dengan kebutuhan gizi sekarang. Tapi mulai dari sini tampaknya saya hanya akan mengulang-ulang perdebatan usang (dan tak pernah selesai) antara yang di kiri dan di kanan.

Begitulah. Sedikit gumunan tangential mengenai ekses pilkada DKI ini. Dan karena pemilihan tinggal sebulan lagi, tampaknya saya harus mulai menyelesaikan tulisan mengenai itu sebelum isinya jadi basi beneran.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s