Melankoli Minoritas

Saya sedang mellow. Lagi. Sebenarnya pangkalnya bermula dari aksi demo 4 November. Meski saya sebenarnya tidak kuatir dengan aksi itu, mungkin saya sedikit ketularan mood istri saya yang resah seharian. Dia agak takut kejadian Mei 1998 terulang kembali, dan liburnya saya di hari itu (inisiatif kantor karena lokasinya berada tepat di belakang istana) tidak meredakan kegelisahannya.

hujan

Yah, saya bisa bilang apa. Mei 98 saya masih ada di Palembang, di mana kondisi relatif aman dari gejolak. Saya tidak bisa membayangkan ketegangan yang dialami istri saya dan keluarganya ketika melihat puluhan orang ramai-ramai lewat di depan rumahnya sembari membawa barang jarahan dari toko-toko di sekitaran Pondok Gede – mungkin sambil berharap tidak ada yang iseng berhenti dan mampir bertanya, “Eh, klean muslim apa bukan?”. Untung mertua saya tokonya toko besi industri yang tidak ‘seksi’ untuk dijarah.

Jadilah 4 November itu saya dan keluarga seharian di rumah saja menonton liputan demo via televisi. Semakin sore, suasana semakin nggak enak. Malam datang, dan hati makin berdebar-debar mendengar kabar ada perusuh di tempat lain, di daerah utara. Istri sempat bertanya apa perlu kami sekeluarga mengungsi ke rumah mertua di Pondok Gede; Saya jawab tidak, karena jalan raya adalah risiko dan kompleks daerah tempat tinggal saya di Pulo Mas rasanya adalah stronghold yang cukup aman.

Maka istri tidur menemani anak kami, dan saya masih terjaga sampai kira-kira jam 1 subuh, memonitor berita TV dan media sosial untuk dapat perkembangan terbaru. Sempat emosi dengan beberapa kawan di Facebook yang menganggap reaksi cemas sebagian orang mengenai demo itu lebay atau berlebihan. Tapi sudahlah, saya paham mereka, yang mayoritas dobel (suku dan agama), mungkin tak mudah berempati dengan kami minoritas yang kerap menghadapi diskriminasi mikro. Mungkin sama seperti saya yang penyembah tuhan tersalib ini sulit berempati dengan mereka yang ghiroh-nya berkobar-kobar karena merasa unsur penting agamanya dihina.

***

Beberapa hari setelah itu, istri saya bilang bahwa tidurnya selalu kurang nyenyak. Ia bermimpi dikejar-kejar oleh kerumunan orang. Tadinya saya berharap dengan sudah membaiknya keadaan, mudah-mudahan frekuensi mimpi buruk itu berkurang. Ndlalah, 8 November Donald Trump menang pemilu di Amerika Serikat. Kata istri saya, besok malamnya mimpinya berganti jadi dikejar-kejar oleh Trump.

Gara-gara Trump, saya memang jadi mellow lagi waktu itu. Tepatnya, gara-gara linimasa Twitter dan sebuah komunitas forum game berbasis di AS yang saya ikuti. Saya tidak begitu masalah dengan pemilih Hillary yang berduka; Yang bikin saya ngenes adalah ungkapan kecemasan dan ketakutan yang dirasakan orang-orang dengan label minoritas – muslim, LGBT, keturunan Afrika, Hispanik, Timur Tengah. Mereka merasa was-was dengan bangkitnya rezim yang selama kampanye tidak ramah dengan mereka, dan didukung oleh jutaan orang yang tidak suka dengan keberadaan mereka.

Untuk situasi ini, saya lebih mudah berempati, bahkan bersimpati dengan apa yang para minoritas itu rasakan. Tapi ya jadinya lebih mellow juga, apalagi ketika mendengar bahwa layanan konseling hotline untuk mereka yang berniat bunuh diri mendapat lebih banyak telepon dari biasanya di malam Trump memenangkan pemilu.

***

Skip skip ke bulan Desember. Natal sebentar lagi tiba. Istri sudah tidak galau, dan saya juga sudah tidak mellow. Aksi lanjutan 4 November di 2 Desember tidak lagi menguatirkan kami (kantor saya sih masih meliburkan karyawannya). Bahkan di hari itu saya dan istri pagi-pagi mengajak anak ke Mal Kelapa Gading untuk melihat kelinci; Sayang kelincinya baru dilepas jam 3 sore, jadi kami lihat-lihat merpati saja lalu makan siang.

Sepulang ke rumah kami memang sempat sepintas melihat siaran berita. Tidak ada yang istimewa (dalam artian yang bagus). Hari itu berlalu seperti biasanya, dan saya senang. Yang di monas happy, istri saya happy, semua happy.

Eh, lha kok ada saja kejadian yang bikin kacau. Selasa kemarin acara KKR Natalnya Stephen Tong di Bandung diminta dibubarkan oleh sebuah ormas, dengan alasan bahwa menurut peraturan harusnya beribadah itu hanya boleh di rumah ibadah dan tidak boleh di fasilitas umum. Ya sudah, muramlah istri saya lagi. Ikut mellow pula saya. Pelarangan ibadah dan penyulitan pembangunan gereja memang sudah hal biasa buat umat kresten, tapi mungkin karena momennya pas natalan membuat yang kemarin itu jadi lebih sulit diterima. Kejadian itu juga mengangkat lagi sentimen-sentimen negatif yang dirasakan sejak November macam cap kafir (yang selalu disuarakan dengan nada hinaan meski ada landasan teologisnya), kresten yang tak nasionalis dan agama penjajah, tukang murtadin orang, atau ketidakpantasan kaum kami untuk menjadi pemimpin daerah.

***

Jadi ya begitu. Saya lagi mellow. Istri juga sebegitu sendunya sampai bikin status di Facebook meminta peneguhan bahwa teman-teman muslimnya masih menerima dia sebagai bagian dari orang Indonesia. Tapi yang lebih menyusahkan hati saya adalah ketika ia bertanya apakah anak kami akan baik-baik saja hidup di Indonesia untuk berpuluh-puluh tahun ke depan. Nggak apa-apa, jawab saya waktu itu. Baru sekarang saya sadar bahwa mewujudkannya akan lebih sukar dari sekedar mengatakannya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s