Web Log: November 2016

Hikayat Siput Melawan Sultan (Tirto.id) – Saya baru tahu ada kebijakan yang sebegitu diskriminatif ini: Warga ‘nonpribumi’ (pada praktiknya, warga keturunan Tionghoa) dilarang memiliki tanah dengan sertifikat hak milik di Yogyakarta. Kalaupun pada awalnya kebijakan ini ada dasarnya, sudah bukan zamannya lagi ada yang seperti ini.

Bukan Soal Agama, Tapi Atas Nama (Hikmat Darmawan) – Sebuah kontra opini yang menggugat opini bahwa “agama jangan dibawa-bawa dalam berpolitik”. Tidak efektif dalam membendung masuknya fundamentalisme agama; Lebih produktif untuk memasukkan agama secara moderat dan ramah agar bisa berkontribusi secara positif dalam politik.

Tolong, Buku Saya Diobral di Gramedia Big Sale (Triani Retno) – Sebagai penggemar buku murah, obralan Gramedia tentu menyenangkan saya. Ini ada satu tulisan yang membikin pilu dari perspektif yang lain, yaitu seorang penulis. Rupanya ada proses dan pertimbangan yang panjang sebelum sebuah buku sampai di obralan, dan nasib buku-buku itu setelahnya lebih menyesakkan lagi.

Sejarah Mengapa Orang Indonesia Tidak Bisa Antre (Kompasiana/Motulz) – Sebuah anekdot yang mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah dasar historis dan sosiologisnya valid – tapi jika benar, ini bisa menjelaskan banyak hal: Kesulitan mengantre adalah masalah hasrat untuk ingin terlihat memiliki akses dan prioritas.

Resurrecting gods: Where discarded deities wait for shelter (India Samvad) – Ruang kosong yang makin langka di Hong Kong membuat semakin banyak patung-patung Buddhis dan dewa-dewa Taois yang dibuang. Uniknya ada relawan yang mengumpulkan dan merawat mereka karena tak tega patung-patung itu dianggap sampah.

How free college tuition in one country exposes unexpected pros and cons (The Hechinger Report/John Marcus) – Kuliah gratis terdengar menyenangkan, dan Jerman sering dijadikan contoh positif mengenai pendidikan tinggi gratis ini. Tapi gaji dosen tetap harus dibayar, pun pemeliharaan dan peningkatan fasilitas perlu biaya. ‘Korbannya’ adalah pajak yang semakin tinggi, sehingga pada akhirnya mahasiswapun perlu kerja paruh waktu untuk menutupi sewa kos dan harga kebutuhan hidup yang meningkat.

Hari Santri: Pelecehan Seksual dan Wajah Layu Santri (GeoTimes/Aan Anshori) – Pelecehan seksual di lingkungan pesantren hampir tidak pernah diungkap secara sistematis, padahal yang terdata dan sudah diadili saja cukup banyak. Korbannyapun bisa mencakup santri laki-laki. Ada sedikit kerikuhan dalam menangani hal ini, karena menyangkut institusi terkait agama yang wajah publiknya cukup moderat dan ramah.

Why Size Matters (Inside Indonesia/Diana Pakasi) – Sebuah studi antropologis tentang praktik pembesaran penis yang banyak dilakukan oleh anak muda di Papua. Keterbatasan dan tantangan hidup Papua membuat mereka sulit memenuhi tuntutan masyarakat yang patriarkis untuk menjadi “laki-laki sejati” yang maskulin. Maka satu dari sedikit aspek yang relatif mudah ‘diperbaiki’ adalah perkara “kejantanan seksual.”

Dokumen Negara yang Hilang dan Manipulasi Sejarah (Tirto.id/Petrik Matanasi) – Hilangnya dokumen TPF Munir bukan peristiwa pertama dokumen negara hilang. Saya sudah lama tahu soal kontroversi Supersemar yang asli, tapi baru dari artikel ini saya tahu bahwa naskah proklamasi sempat lama hilang; Bahkan notulensi BPUPKI juga pernah hilang dan dalam ketiadaannya dimanipulasi oleh sejumlah pihak untuk merevisi sejarah.

Dengan Kompromi, Kita Melestarikan Budaya Pemerkosaan (Magdalene.co/Ellena Ekarahendy) – Buat kaum liberal, bahkan seni yang tidak kita sukai kontennya harus ditoleransi atas nama kebebasan berekspresi. Seorang feminis berargumen bahwa toleransi, atau kompromi, ini berarti kita sedang pelan-pelan memberi legitimasi pada budaya kekerasan seksual, meskipun itu sifatnya simbolik ‘saja’.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s