Film: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Meski saya menyukai serial Harry Potter, saya bukan seorang potterhead. Paparan saya terhadap potterverse hanya terbatas pada film Harry Potter 1-7 yang selalu ditayangkan ulang di WarnerTV setiap beberapa bulan. Tapi bahkan untuk seseorang yang tidak pernah membaca bukunya, saya bisa melihat film-film tersebut (khususnya mulai film ke-4 dan seterusnya) agak terpatah-patah penuturannya; Seolah-olah ada bagian penting cerita di buku yang tak dimasukkan ke film karena keterbatasan durasi tayang.

Karena itu, saya cukup tertarik menonton Fantastic Beasts and Where to Find Them. Dengan skenario yang ditulis langsung oleh JK Rowling dan tanpa beban adaptasi dari buku, apakah kali ini filmnya bisa memberikan kisah yang lebih komplet?

fantasticbeasts

Fantastic Beasts sudah membuat langkah yang tepat dengan mengambil jarak beberapa puluh tahun sebelum Harry Potter ada. Dengan karakter yang baru dan latar belakang yang juga baru (New York di tahun 1920-an), film ini bisa menawarkan sesuatu yang segar bagi mereka yang sudah agak jenuh dengan setting Hogwarts seusai tujuh film Harry Potter. Namun untuk para potterhead yang belum bosan dan ingin sesuatu yang lebih, Fantastic Beasts juga menyelipkan cukup fanservice sebagai bahan nostalgia atau spekulasi, tapi juga tidak berlebihan sehingga orang semi-awam seperti saya tidak harus banyak-banyak bertanya ke potterhead lain (seperti istri) sepanjang film.

Dari segi cerita, Fantastic Beasts saya kira cukup berhasil mengikuti jejak Harry Potter dalam menyeimbangkan antara cerita mandiri dalam film-nya sendiri dengan plot besar yang -menurut berita- direncanakan akan mencapai lima film. Cerita mengenai Newt Scamander yang mencari binatang-binatang fantastisnya yang kabur disampaikan sebagai ‘bungkus’ yang ringan dari jalinan konflik lokal dan regional yang lebih rumit dan gelap. Dan semuanya menurut saya sukses dieksekusi sebagai cara mengenalkan tokoh dan setting yang baru dari serial Fantastic Beasts, sekaligus memberikan landasan cerita yang solid untuk keempat film Fantastic Beasts berikutnya.

Berbicara tentang tokoh, saya tidak menduga bahwa seorang muggle (atau istilah Amerikanya, No-Maj) justru yang memberi warna khas di Fantastic Beasts. Eddie Redmayne memang berakting dengan cukup baik sebagai Newt, tapi yang menawan hati saya di film ini justru adalah Dan Fogler yang berperan sebagai Jacob Kowalski, seorang no-maj yang ikut terseret dalam pusaran cerita para penyihir karena kopernya tertukar dengan koper ajaib Newt. Ia berhasil membawakan diri sebagai no-maj lugu dan jenaka yang tiba-tiba terbuka wawasannya terhadap dunia sihir; Mungkin saya menyukainya karena Kowalksi sedikit banyak mewakili para penonton awam macam saya.

Jadi, kini saya bisa menjawab bahwa, ya, Fantastic Beasts telah memberikan saya kisah yang lebih komplet ketimbang beberapa film Harry Poter sebelumnya. Tak hanya itu, film ini juga dengan segala triknya masih bisa membuat saya terkagum-kagum dengan dunia sihir ciptaan JK Rowling, bahkan meskipun saya sudah entah berapa belas kali menonton ulang ketujuh film Harry Potter di televisi.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s