Ranked Voting Sebagai Alternatif Sistem Pemilu

Pemilu AS baru saja berlalu, dan Pilkada DKI masih beberapa bulan lagi. Tapi yang masih nyata dari awal tahun sampai sekarang adalah keriuhan dukungannya. Mungkin sampai beberapa tahun ke depan bakal masih terasa juga dengingannya, mengingat begitulah yang terjadi pasca Pemilu Indonesia tahun 2014 yang lalu. Tampaknya dengan semakin banyak kandidat yang tampil sebagai maverick, pembaharu, dan anti status quo, iklim politik bergeser makin jauh dari tengah ke titik di mana pendukung satu kandidat merasa takut, marah, dan frustrasi dengan pendukung kandidat lainnya.

survei

Ilmuwan politik punya banyak teori dan penjelasan mengapa kita bisa sampai di posisi ini sekarang. Jelas ada banyak faktor penyebabnya yang berinteraksi dengan rumit, tapi di sini saya ingin menyoroti satu aspek saja yang -meski mungkin bukan faktor utama- menurut saya punya cukup andil yang lumayan dalam menciptakan atmosfer kampanye yang tegang dan penuh dengan permusuhan. Dan itu adalah bagaimana cara kita memilih kandidat yang kita inginkan.

Prinsip Satu Suara

Umumnya, sistem pemilu kita berpijak pada kaidah one man, one vote. Setiap warga negara yang berhak memilih memiliki satu suara yang akan dia berikan pada satu (pasang) kandidat pilihannya. Kandidat-kandidat lainnya akan mendapat nol suara dari orang itu, karena tidak ada satu orang yang memiliki dua suara atau lebih. Prinsip ini kita (atau setidaknya saya) percaya sebagai kebenaran mutlak yang tak pernah (dan tak perlu) dipertanyakan lagi. Pokoknya dari dulu ya begitu itu.

Padahal, mungkin, prinsip satu suara untuk satu kandidat itu yang bikin para calon pemilih entah terlalu fanatik atau terlalu apatis. Mungkin lho ya, karena ini lebih ke pengamatan-dan-refleksi saya yang belum lihat ada penelitian tentang ini. Saya merasa bahwa, dengan memberikan 100 persen suara kita (yang cuma satu thok) ke satu kandidat, kita jadi merasa total fokus berinvestasi untuk memenangkan satu kandidat itu dan mengabaikan hal-hal lain, seringkali termasuk kebenaran, akal sehat, obyektivitas, netralitas, dan perasaan orang-orang yang pilihannya berbeda dengan kita.

Dan seringkali pula, sebagian calon pemilih yang jenuh melihat kefanatikan itu pada akhirnya akan jatuh menjadi apatis dan memilih untuk membuang 100 persen suaranya ke laut dengan literally pergi berlibur ke Pulau Seribu atau Bali ketika hari pemilihan tiba.

Saya baru disadarkan bahwa ada cara lain dalam memilih ketika beberapa minggu yang lalu mendengarkan satu podcast dari Freakonomics (mungkin suatu saat saya harus bikin post tinjauan khusus tentang podcast ini) yang berjudul Ten Ideas to Make Politics Less Rotten. Salah satu ide yang dimunculkan adalah menggunakan sistem memilih dengan peringkat (ranked voting system) untuk memilih kandidat.

Memperingkat Kandidat

Dari tautan Wikipedia di atas sebenarnya sudah lengkap penjelasan mengenai sistem memilih ini, tapi saya akan mencoba membahasakannya dengan lebih sederhana agar mudah dimengerti oleh orang-orang yang jenuh membaca artikel panjang nan teknis dan berbahasa Inggris.

Ranked voting system gampangnya adalah sistem di mana setiap pemilih dalam pemilu memberikan peringkat atau ranking pada semua kandidat. Sebagaimana lazimnya ranking, maka selain pilihan pertama di peringkat pertama, pemilih harus menentukan pula kandidat mana yang pantas menempati peringkat kedua, ketiga, dan seterusnya. Jadi jika ada tiga kandidat dalam sebuah pemilu (sebut saja kandidatnya A, B, dan C), maka di bilik suara setiap pemilih harus menentukan di kertas suara siapa kandidat yang menjadi pilihan pertama mereka, siapa yang menjadi pilihan kedua, dan siapa yang menjadi pilihan paling bontot.

Jadi bisa saja satu pendukung kandidat C memilih dengan peringkat (pertama-kedua-terakhir) C-A-B sementara pendukung kandidat C yang lain memilih dengan urutan peringkat C-B-A.

Bagaimana cara menghitung suaranya? Laman Wikipedia mengenai ranked voting system menjelaskan beberapa metode, tapi untuk menjaga kesederhanaan saya akan menjelaskan dua metode yang paling mudah dipahami (sejujurnya karena metode ketiga itu, single transferable vote, masih belum begitu saya pahami juga).

Metode penghitungan yang pertama adalah borda count. Intinya, setiap peringkat memiliki nilai suaranya sendiri. Bisa saja peringkat pertama bernilai 3 poin, kedua bernilai 2 poin, dan ketiga bernilai 1 poin – atau ada juga yang memberi bobot peringkat pertama bernilai 1 poin, kedua bernilai 0.5 (1 per 2) poin, dan ketiga bernilai 0.33 (1 per 3) poin; Terserah kebijakan komisi pemilihan umumnya lah. Setelah total poin masing-masing kandidat dijumlahkan, maka kandidat dengan poin terbanyaklah yang menang.

Metode penghitungan kedua -yang agak sedikit lebih rumit- adalah instant-runoff. Dengan metode ini yang pertama kali dihitung hanya pilihan pertama para pemilih. Jika 50 persen lebih pemilih memilih satu kandidat sebagai peringkat pertamanya, maka kandidat tersebut otomatis menang. Tapi jika tidak ada suara mayoritas, maka penghitungan langsung berlanjut ke tahap kedua.

Di tahap kedua ini kandidat yang paling sedikit dipilih sebagai peringkat pertama dieliminasi. Tapi tentu saja para pendukung kandidat ini, misalnya kandidat C sebagai pilihan pertama, juga memilih kandidat A atau B sebagai pilihan kedua mereka. Di sinilah suara mereka masih diperhitungkan: Hasil pilihan kedua mereka (entah untuk kandidat A atau B) akan ditambahkan ke suara kedua kandidat lainnya sehingga salah satu mencapai suara 50 persen lebih.

Jika ada empat, lima, atau lebih kandidat, tahap kedua ini bisa berlangsung beberapa kali karena satu kandidat terbawah harus dieliminasi dalam tiap tahap.

Kenapa Harus Repot-Repot

Ya, setelah saya berbusa-busa menuliskan panjang lebar mengenai ranked voting system, tentu saya harus menjelaskan apa lebihnya menggunakan cara memilih dengan peringkat ini ketimbang mencoblos kumis satu kandidat saja.

Pertama, sistem ini mendukung iklim kampanye yang ramah dan merangkul serta ‘menghukum’ kampanye yang sifatnya negatif dan konfrontatif. Semua (atau hampir semua) kandidat boleh mengaku bahwa mereka santun, tapi faktanya mereka semua punya tim sukses dan juru kampanye yang nyinyir, ditambah dengan pasukan buzzer yang membuat kampanye hitam dengan membuat dan menyebarkan kabar fitnah, hoax, dan opini yang bernada pembunuhan karakter.

Sebagai contoh: Jika kampanye atau pendukung kandidat A banyak menjelek-jelekkan kandidat B, kandidat A akan ‘dihukum’ para pendukung kandidat B dengan menempatkan kandidat A pada peringkat terakhir dalam pilihan mereka; Ini secara tak langsung menguntungkan kandidat C yang otomatis oleh pendukung kandidat B akan ditempatkan di peringkat kedua – dengan asumsi bahwa kampanye atau pendukung kandidat C tidak ikut-ikutan menyerang kandidat B.

Maka harapannya suasana pemilu akan lebih bersahabat. Para kandidat, tim sukses, juru kampanye, simpatisan atau buzzer untuk kandidat A akan mengambil nada suara yang lebih positif dalam berkampanye. Harapannya, meski kecil kemungkinannya mereka bisa mengubah pendukung kandidat B atau C menjadi pendukung A, setidaknya mereka ingin membujuk agar para pendukung kandidat B atau C ini masih mau menempatkan kandidat A di peringkat kedua mereka. Ini tentu juga diharapkan oleh kandidat B dan C terhadap pendukung kandidat lainnya.

Kedua, ranked voting system membuat kita, sebagai pemilih, tidak hanya sibuk memikirkan mengenai kandidat pilihan pertama kita saja. Dengan sistem ‘coblos kumis’ sebelumnya, kita bisa memilih satu calon kandidat dengan alasan primordial (suku, agama, golongan) atau tanpa banyak pertimbangan (hanya karena ia pernah melakukan satu hal positif yang kita suka), lalu sepanjang masa kampanye berlangsung kita bisa total mengabaikan calon kandidat lain atau hanya membaca-baca propaganda negatif mengenai mereka saja untuk memperteguh pilihan kita.

Sistem ini mengajak kita untuk memperhatikan kandidat-kandidat lain yang bukan pilihan pertama kita, karena kita tetap harus menempatkan mereka dalam sebuah peringkat. Dengan ini, kita lebih ‘dipaksa’ untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dari para kandidat, apa saja kelebihan yang mereka miliki, dan apa yang membuat mereka pantas duduk di peringkat kedua dan bukan yang terakhir. Harapannya, dengan begitu kita jadi tidak begitu gampang melabel kandidat yang bukan pilihan pertama kita -juga para pendukungnya- sebagai ‘setan alas penghancur bangsa.’

Keterbatasan dan Kenyataan

Tentu ada juga keterbatasan dari sistem ini. Yang paling jelas terlihat adalah cara pemberian peringkat yang tak sesederhana mencoblos. Perlu lebih banyak pertimbangan, dan ini mungkin akan menjadi masalah bagi pemilih dengan pendidikan rendah atau yang sudah sangat lanjut usia. Satu-satunya solusi untuk ini adalah edukasi terus-menerus mengenai cara memilih yang baru, dan itu pastinya tidak mudah.

Keterbatasan lainnya adalah baru jalannya sistem ini kalau sejak awal kandidatnya ada tiga atau lebih. Kalau semua partai-partai berkomplot untuk hanya mengusung koalisi dua kandidat saja, ya tentu peringkat yang diberikan para pemilih tidak ada bedanya dengan sistem mencoblos biasa. Satu usul yang mungkin bisa menjadi solusi adalah memperlonggar batas sebuah partai bisa mencalonkan kandidat, atau seenggaknya tidak mempersulit orang-orang yang mau menjadi kandidat independen.

Kesulitan lain adalah fitnah dan kampanye hitam. Ya, memang di atas saya menyebutkan bahwa harapannya ranked voting system ini bisa membuat masa kampanye lebih cerah. Tapi buzzer kandidat B yang culas bisa saja menyamar sebagai buzzer kandidat A dan menyebar fitnah dan hoax mengenai kandidat C – harapannya agar pendukung kandidat C menghukum kandidat A dan menempatkan kandidat B ke peringkat kedua. Ini saya juga masih bingung bagaimana menangkal dan mengatasinya jika timbul.

***

Anyway, ini hanya pemikiran saya saja mengenai alternatif cara memilih dalam pemilu yang… kayaknya sih lebih baik dari cara yang dipakai sekarang. Sebenarnya ada beberapa metode lain, seperti memberi nilai (ponten 1 sampai 10 untuk masing-masing kandidat) atau membagi nilai (setiap pemilih punya -misalnya- 5 suara, terserah mereka bagaimana membagi 5 suara ini ke tiap 3 kandidat). Hanya saja kayaknya ranked voting system ini yang paling sederhana dan bisa mencegah bias-bias fanatisme (kandidat pilihannya diberi ponten 10 atau 5 suara sekaligus, sementara kandidat lain diponten 1 atau tidak diberi suara sama sekali).

Mengenai penerapan ranked voting system ini, beberapa negara lain seperti Australia dan Irlandia sudah melakukannya, dan sepertinya tidak ada masalah sistematis yang berarti. Tapi saya sadar bahwa dalam konteks Indonesia ide ini baru sebatas angan-angan saya saja. Tidak apa, seenggaknya untuk saat ini saya hanya ingin mengenalkan ada cara lain di luar sana yang mungkin belum disadari oleh banyak orang.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s