Introspeksi Sesaat di Hari Blogger

Saya tidak pernah benar-benar percaya ketika Muhammad Nuh, Mendikbud di tahun 2007, mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Saya memang tidak hadir di pembukaan Pesta Blogger 2007 di mana ia memberikan sambutan (saya baru datang setahun setelahnya), tapi cetusan spontan itu terasa tidak otentik. Kesannya seperti lip service yang baru kepikiran 5 menit sebelum pentas untuk menyenangkan audiens pidatonya.

blog

Rupanya benar saja, tahun-tahun setelahnya Hari Blogger Nasional berlalu begitu saja tanpa ada perhatian yang berarti dari pemerintah. Secara swadaya, memang beberapa tahun kedepannya ada Pesta Blogger, sejumlah kompetisi ngeblog, atau acara-acara lainnya yang diadakan komunitas-komunitas lokal atau regional,  tapi… saya tidak ingin mengecilkan peran mereka atau meremehkan aktivitas mereka, tapi bisa dibilang semua yang sudah dilakukan para blogger secara gotong royong itu tak mampu mencegah menurunnya gairah ngeblog hanya dalam beberapa tahun saja.

Ke mana blogger-blogger yang sempat membuat blogosfir di era 2007-2010an begitu riuh? Sebagian besar pelan-pelan hijrah ke media sosial. Medsos macam Twitter atau Facebook waktu itu juga tampaknya sedang bertumbuh dengan cepat dan berekspansi dengan masif. Mereka menawarkan fitur-fitur yang sulit ditolak oleh orang-orang yang hanya ingin mengungkapkan pendapat atau menuliskan aktivitasnya dengan mudah dan cepat. Linimasa dan lingkar pertemanan atau follower membuat apapun yang mereka publikasikan cepat mendapat reaksi atau tanggapan dari pembaca.

Di saat yang sama, para penyedia layanan blog yang besar seperti WordPress.com atau Blogspot juga terasa tak tanggap dalam membaca ke mana angin perubahan berhembus; Mungkin cuma tumblr yang sejak awal konsisten mengembangkan fitur-fitur sosial dan komunitasnya. Pada akhirnya, pesona blog meredup – para blogger kini mungkin lebih aktif di laman media sosialnya masing-masing ketimbang di laman blognya sendiri. Sebenci apapun para blogger dengan Roy Suryo, mereka dengan sadar atau tidak telah membuat sindirannya -bahwa blog hanyalah trend sesaat- menjadi kenyataan.

Dan di sinilah saya, masih terseok-seok menjadi seorang blogger, berusaha menyelesaikan tulisan ini meski Hari Blogger Nasional sudah lewat sehari. Kenapa juga saya masih senang berusaha bertahan di medium yang tidak lagi hip, modern, dan trendi ini? Mungkin sebagian karena saya tidak pernah begitu nyaman dengan norma ‘berbagi status’ di media sosial; Saya suka menjadi silent reader atau berkomentar di status teman, atau bahkan terkadang sekali post satu dua status di Facebook atau Twitter, tapi mengisi linimasa setiap hari dengan pentulan-pentulan pikiran terasa…bukan saya banget.

Lagipula, blog itu bagi saya terasa rumahan, dengan atmosfer santai sore-sore di teras sambil ngemil pisang goreng. Ya, memang secara teknis saya masih numpang di domain dan server WordPress.com, tapi dari sisi pengunjung, blog ini secara khas adalah kapling saya yang -sampai batasan tertentu- bisa dihias, diatur, dan ditampilkan sesuka saya. Lebih enak rasanya mengekspresikan diri dalam teritori sendiri semacam ini ketimbang tampil bersama celotehan orang-orang lain dalam arus linimasa yang mengalir deras dan menenggelamkan twit atau status baru dalam hitungan menit.

Bukan berarti saya ngeblog tanpa hambatan juga sih. Ada blog bersama yang digarap dengan serius tapi kemudian saya tinggalkan. Blog serius lain untuk menopang kerjaan yang dibiarkan hiatus karena saya mengalami ‘krisis iman’. Blog ini juga sempat saya biarkan sekitar setahunan sebelum lanjut lagi, dan sampai sekarangpun pembaharuan isinya masih sporadis dan tidak seteratur atau sesering yang saya inginkan. Dan di luar sana ada begitu banyak kegiatan mengisi waktu luang lainnya macam menamatkan buku, serial anime, atau game yang berpotensi menarik saya dari kegiatan ngeblog ini.

Memang sudah banyak blog-blog serius, semi-serius, atau coba-coba yang saya telantarkan. Meskipun begitu, saya juga belum kapok-kapoknya membuat blog baru untuk bereksperimen atau mengeluarkan blog lama dari gudang dan menulis lagi di situ setelah sekian lama. Entah kenapa, saya selalu kembali lagi pada blog. Pada medium yang -untuk ukuran internet- sudah di pertengahan dewasa muda, mapan di ceruknya, namun gagal untuk menggapai cita-cita setinggi langit yang ia idamkan di masa muda.

Mungkin saya melihat diri saya sendiri dalam medium bernama blog itu. Mungkin saya punya keyakinan bahwa suatu saat, entah kapan, blog akan mengalami renaisans dan berhasil menggapai kejayaannya yang tertunda. Atau mungkin saya dan blog sudah kadung berteman, dan saya tidak bisa meninggalkannya begitu saja ketika ia sedang susah.

Ah, kenapa jadi sentimentil begini. Selamat hari blogger lah pokoknya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s