Film: Jupiter Ascending (2015)

Seperti yang pernah saya sampaikan di ulasan film John Wick, The Matrix adalah cinta pertama sinematik saya. Jadi agak mengherankan sebenarnya bahwa saya tidak lagi mengikuti sepak terjang sutradaranya -duo Wachowski bersaudara- selepas The Matrix Revolution. Ada Speed Racer di hard disk eksternal saya dan DVD Cloud Atlas di bufet TV; Keduanya belum ditonton sampai sekarang. Beberapa minggu ini muncul Jupiter Ascending, film teranyar mereka, di saluran TV berbayar – sayapun belum tergerak untuk menontonnya sampai akhirnya saya punya waktu super-lowong dan malas melakukan kegiatan lain.

jupiterascending

Sembari menonton film ini, saya mau tak mau teringat lagi akan The Matrix karena garis besar ceritanya yang mirip: Jupiter dan Neo sama-sama orang biasa yang entah kenapa diburu oleh sekelompok orang dengan kemampuan tak lazim. Ada kelompok lain yang mencoba menyelamatkan mereka dari kelompok pertama, yang kemudian juga ‘membuka mata’ mereka akan realitas lain yang lebih luas di luar sana. Keduanya lalu didaulat sebagai Yang Terpilih – seseorang yang kualitas intrinsiknya dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung sejak lama.

Tapi The Matrix berhasil menyajikannya dengan penuh misteri dan daya pikat sejak awal.  Kenapa Neo diburu oleh para agen? Siapa Trinity, gadis misterius berpakaian serba hitam yang menolongnya? Dan apa maksud Morpheus yang menawarkan Neo untuk memilih pil biru atau pil merah? Sementara itu, informasi cerita yang ditahan di  Jupiter Ascending justru membuat awal filmnya jadi buram. Dialog-dialog antar karakter hanya membuat saya garuk-garuk kepala karena saya tidak punya konteks yang cukup untuk memahaminya. Alih-alih membuat saya makin penasaran, cerita yang mengambang di awal film ini hampir membuat saya berhenti menonton.

Baru menjelang pertengahan film kepingan-kepingan informasi mengenai Jupiter Ascending mulai bisa disatukan: House Abrasax adalah klan alien tua yang menguasai banyak planet di luar angkasa, termasuk bumi. Dulunya klan ini dipimpin oleh seorang ibu suri, tapi ia mati terbunuh dan aset klan dibagi ke ketiga anaknya yang tidak saling akur. Masalah mestinya selesai di situ, sampai muncul informasi bahwa susunan genetik sang ibu suri muncul kembali dalam diri seseorang di bumi – Jupiter, tentu saja. ‘Reinkarnasi’ genetik ini membuat Jupiter memiliki hak untuk mengklaim kembali warisan sang ibu suri. Maka ketiga anak Abrasax yang terancam posisinya menggunakan berbagai cara untuk membunuh Jupiter atau membuatnya berpihak pada mereka.

Dengan cerita yang penuh intrik politik dan pertikaian saudara semacam itu, Jupiter Ascending terasa tidak setia dengan kerumitan dunia yang ia bangun sendiri. Ketiga anak Abraxas digambarkan sebagai antagonis dengan motivasi yang sederhana dan karakterisasi yang tidak mendalam. Terlalu banyak menit film yang menurut saya mubazir dihabiskan untuk membangun jatuh cintanya Jupiter dengan Caine, seorang pengawal yang ditugaskan salah satu anak Abrasax untuk melindungi Jupiter.  Yang juga tidak menolong di sini adalah aktingnya Mila Kunis dan Channing Tatum sebagai Jupiter dan Caine yang begitu datar, sementara Eddie Redmayne sebagai salah satu anak Abraxas justru berakting dengan terlalu bersemangat bak tokoh jahat di film superhero.

Jika ada satu hal yang agak sedikit positif dari Jupiter Ascending, itu mungkin adalah desain visualnya. Desain pesawat luar angkasa, pakaian para tokohnya, dan arsitektur bangunannya memberikan keunikan tersendiri bagi dunia alien di film ini. Tapi untuk soal visual dalam segi aksi, menurut saya film ini agak kedodoran. Adegan aksinya terlalu berpanjang-panjang, tidak memiliki koreografi yang menarik, dan mungkin di bagian akhir film saja baru dilatarbelakangi oleh desain visual yang baik. Aksi yang berpanjang-panjang itu juga menurut saya membuat film ini kurang maksimal dalam menyampaikan ceritanya (yang sesungguhnya cukup bagus).

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s