Web Log: September 2016

Gaijin Penjual Buku Terakhir (The Dusty Sneakers) – Kisah mengenai Nick, seorang gaijin (orang asing dari kaca mata Jepang) yang memiliki toko buku independen di Tokyo. Saya suka dengan gaya si penulis menceritakan kembali percakapan dengan Nick mengenai perjalanan hidupnya, suka duka memiliki toko buku, dan cerita-cerita ngalor ngidulnya.

A Critic’s Lonely Quest: Revealing the Whole Truth About Mother Teresa (Kai Schultz/The New York Times) – Seorang dokter yang ingin mengkritik – dari segi medis dan budaya – bagaimana Bunda Teresa dan yayasannya menjalankan misi amalnya. Perjuangan yang sulit dan sangat tidak populer karena Bunda Teresa memiliki citra yang begitu positif baik di Kalkuta maupun di dunia internasional.

We Ask Our Kids The Same 3 Questions Every Night (Meg Conley/HuffPost) – Setiap makan malam, ibu dengan dua putri ini menanyakan 3 pertanyaan yang sama ke anak-anaknya: How were you brave today? How were you kind today? How did you fail today? Mungkin ini bisa menjadi satu aktivitas rutin bersama yang patut ditiru.

Gusur, Rusunawa, dan Ketidakadilan Ruang (Evi Mariani) – Sebuah artikel yang penuh dengan tautan lengkap mengenai berbagai permasalahan dalam penggusuran paksa dan rusunawa yang dianggap menjadi solusinya. Membereskan kota memang tidak pernah mudah, dan pola pikir yang menggampangkan segalanya membuat penguasa dan pendukungnya tidak mau melihat ‘the devil in the details.’

Impoverished Migrants Are Catching Hawaii’s Prized Seafood, Report Finds (Martha Mendoza dan Margie Mason/AP via TIME) – Rupanya di Hawaii banyak pekerja ‘ilegal’ di industri penangkapan ikan yang berasal dari Indonesia. Meski kondisi kerjanya buruk dan melanggar prinsip ketenagakerjaan internasional, kehadiran mereka ditoleransi secara legal oleh hukum setempat selama mereka tidak menginjakkan kaki di tanah Hawaii.

The Age of the Wordless Logo (Kalle Oskari Matilla/The Atlantic) – Paparan mengenai trend terbaru di dunia pemasaran: Debranding. Dengan membuat logo brand jadi sangat sederhana dan meminggirkan elemen verbalnya (seperti nama produk atau perusahaan), diharapkan atensi konsumen terhadap logo bersifat lebih aktif dan lebih personal.

Why ‘Star Trek’ was so important to Martin Luther King Jr. (Elahe Izadi/The Washington Post) – Anekdot yang menarik mengenai betapa representasi minoritas di budaya pop bisa menjadi pendukung yang baik bagi perjuangan isu yang lebih serius. MLK menyadari betapa kuatnya potensi televisi dalam membentuk persepsi masyarakat.

Why Leadership Training Fails—and What to Do About It (Beer, Finnstrom, dan Schrader/Harvard Business Review) – Program pelatihan karyawan untuk meningkatkan produktivitas seringkali gagal atau hanya berumur pendek. Salah dua sebab utamanya adalah sistem organisasi yang menghambat perubahan atau level manajemen senior yang tidak mendukung perubahan yang mungkin terjadi.

White House women want to be in the room where it happens (Juliet Eilperin/The Washington Post) – Gambaran mengenai betapa susahnya staf perempuan untuk diikutsertakan dan didengar di ruang-ruang rapat politik Gedung Putih. Mereka kemudian bekerja sama membuat strategi yang dinamakan “amplification” agar pendapat mereka lebih diperhatikan dan tidak ‘dibajak’ oleh staf laki-laki sebagai ide mereka sendiri.

Nakam – The Jewish Revenge Plan to Kill off Six Million Germans (Nikola Budanovic/War History Online) – Satu fragmen mengejutkan dari sejarah Perang Dunia II yang baru saya tahu. Untungnya rencana itu batal dan digantikan dengan meracuni seribuan tahanan SS. Saya juga baru tahu bahwa – dibandingkan dengan jumlah anggota aktif Nazi – sangat sedikit dari mereka yang diadili karena kejahatan perangnya.

Should Indonesian smokers pay more for health costs? (Krisna Hort/Indonesia at Melbourne) – Solusi potensial terkait dengan wacana menaikkan harga rokok, yaitu dengan mengalokasikan pemasukan tambahan dari cukai rokok untuk menutup defisit yang dialami BPJS Kesehatan. Pasalnya, banyak juga dana asuransi kesehatan yang terpakai untuk mengobati penyakit-penyakit yang umum ditimbulkan akibat rokok.

This free online encyclopedia has achieved what Wikipedia can only dream of (Nikhil Sonnad/Quartz) – Stanford University menciptakan sebuah ensiklopedia filsafat gratis yang otoritatif, lengkap, dan mutakhir. Judulnya agak bombastis karena sejauh ini sulit mereplikasi kesuksesan pembuatan ensiklopedia ini ke bidang ilmu pengetahuan yang lain, apalagi ke pengetahuan populer yang luas seperti yang dilakukan Wikipedia.

Occupy Wall Street: Where Are They Now? (Accra Shep/The New York Times) – Sebuah esai foto mengenai sejumlah aktivis Occupy Wall Street lima tahun yang lalu dan apa yang mereka lakukan sekarang. Ada beberapa yang sudah move on dan melanjutkan hidup, tapi ada banyak pula yang masih setia dengan kehidupan pergerakan.

Problem Papua dan Rapuhnya Relasi Kebangsaan (Arie Ruhyanto/CNN Indonesia) – Sebuah kolom opini dari seorang dosen politik dan pemerintahan mengenai ‘problem Papua.’ Masalahnya bukan sekedar ketimpangan infrastruktur, melainkan juga relasi sosial yang timpang di dalam Papua dan antara suku Papua dengan suku yang lain.

Mencurigai Negara (Zen RS/Tirto.id) – Opini yang -seperti biasa- lugas dan mencerahkan dari Zen RS. Saya kutipkan paragraf pertamanya saja.

Pendukung penggusuran sering mengingatkan: orang miskin belum tentu benar. Saya kira peringatan macam itu tidak terlalu tepat, atau malah kurang jujur. Jika ingin lebih tepat, atau mau jujur, katakan saja begini: orang miskin hampir pasti salah.

The Myth of the Ethical Shopper (Michael Hobbes/HuffPost) – Tulisan yang sangat komprehensif mengenai sulitnya berbelanja secara etis di abad ini. Ada beberapa masalah utamanya. Yang pertama adalah supply chain yang makin kompleks dengan semakin banyak lapisan sub-sub-sub-subkontraktor. Yang kedua adalah pasar negara maju (di mana pemerintah dan konsumennya paling peduli soal etika produksi) tidak lagi menjadi pasar yang signifikan proporsinya.

Making Sense of Modern Pornography (Katrina Forrester/The New Yorker) – Kisah industri pornografi konvensional yang makin terpinggirkan di era internet ini. Tinggal sedikit produksi profesional dengan nama-nama aktris porno yang terkenal; Kini yang diminati adalah rekaman amatir oleh pemeran yang tak bernama, dan dibagikan dengan gratis di situs-situs video khusus.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s