Film: Train to Busan (2016)

Saya sebenarnya agak trauma dengan film aksi/thriller Korea. Beberapa tahun yang lalu saya pernah menonton film Korea dengan genre serupa berjudul Flu. Singkat cerita, seusai menonton film itu istri dan saya merasa – dalam bahasanya istri – “seperti badannya habis digebukin.” Saya seharusnya mengingat momen itu, tapi istri sudah kadung termakan hype bahwa Train to Busan ini film Korea yang bagus banget…

traintobusan

Benar saja, selagi menonton Train to Busan saya jadi teringat lagi dengan film Flu itu. Badan saya dan istri lagi-lagi terasa “seperti habis digebukin.” Yang dimaksud istri saya dengan istilah itu adalah betapa Flu dan film ini mempersembahkan begitu banyak adegan menegangkan dari awal sampai akhir. Kalau film-film Hollywood di genre ini biasanya memberikan empat sampai enam setpiece besar yang memacu adrenalin, dalam Train to Busan mungkin ada sekitar delapan sampai sebelas setpiece dalam skala yang lebih kecil namun tak kalah depresifnya.

Film ini mungkin adalah salah satu contoh dalam perfilman di mana sesuatu yang terlalu banyak porsinya malah bisa membuat eneg. Semakin lama Train to Busan berjalan, saya bukannya semakin empatik dengan perjuangan para karakternya menyelamatkan diri dari serangan zombie; Setiap kali ada kesulitan baru yang mereka alami, saya semakin lelah secara mental mengikuti perjuangan mereka. Ketimbang tertarik untuk mengikuti bagaimana mereka menyelesaikan masalah, saya hanya ingin facepalm sambil meneriaki sutradaranya karena ia tak henti-hentinya menyiksa para karakternya seperti itu.

Belum lagi ceritanya yang memiliki unsur terburuk dari drama Korea dan subgenre zombie. Cerita, dalam artian peristiwanya, sih baik-baik saja buat saya. Yang bikin saya gregetan mengenai Train to Busan adalah karakternya yang sangat klise, simplistik, dan – terutama untuk antagonisnya – karikatural. Ada drama, tapi hampir tidak ada pengembangan karakter yang berarti sampai akhir film. Paling cuma si tokoh utama yang berubah dari ayah yang dingin dan workaholic jadi ayah yang sayang anak, tapi itu kan sederhana dan predictable banget.

Unsur terburuk dari cerita subgenre zombie yang juga terdapat di Train to Busan adalah para karakter yang melakukan kebodohan yang tidak perlu atau bertindak serampangan tanpa berpikir terlebih dahulu – dan ini dilakukan bukan karena si karakter memang digambarkan sebagai orang yang bodoh atau gegabah, melainkan sebagai plot device yang dirancang oleh penulis skenarionya agar cerita terus mengalir, ketegangan berlanjut, dan semakin banyak karakter yang mati. Tidak ada alasan ‘karena panik’ di sini, karena beberapa pilihan krusial yang salah diambil justru diputuskan ketika mereka sedang dalam ‘zona aman’ dan punya kesempatan berembug.

Saya menyimpulkan, menonton Train to Busan bagi saya seperti menonton  The Walking Dead satu musim yang dimampatkan dalam durasi film. Adegan yang dipilih mungkin adalah adegan-adegan terbaik yang menonjolkan ketegangan dan keputusasaan sebuah wabah zombie, tapi menyajikan semuanya dalam 119 menit dengan ending bahagia di 1 menit terakhir justru membuat film ini tidak terasa rewarding setelah ditonton.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s