Kenakalan dan Penghukuman

Saya mau mengeluarkan uneg-uneg tentang kasus guru yang dilaporkan orangtua murid ke polisi karena mencubit murid sampai lengannya biru. Sudah agak basi sih beritanya, tapi di Indonesia ini membahas yang begituan malah jadi timeless; Ke depannya pasti akan ada lagi berita-berita semacam itu, yang tentu saja juga akan diikuti dengan kontroversi dan perdebatan yang berulang-ulang (Edit: Benar saja, muncul kasus lagi yang mirip-mirip di Makassar). Berhubung saya belum bersuara soal ini, mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk meninggalkan jejak pikiran.

hukum

Seharusnya kasus ini tidak sampai ke tangan polisi. Bukan berarti semua kasus kekerasan guru terhadap murid lantas baiknya diselesaikan secara ‘kekeluargaan’. Polisi harus diikutsertakan kalau sudah menyangkut kekerasan seksual; Patut dipolisikan juga kekerasan fisik yang membuat muridnya terluka parah, meski ini mungkin ambang batasnya agak lebih kabur (Sampai keluar darah? Pingsan? Masuk rumah sakit? Cacat?).

Tapi untuk kasus cubit-sampai-biru ini, rasanya tidak perlu ujug-ujug dibawa ke ranah hukum. Mestinya dibikin prosedur standar oleh pemerintah dan organisasi profesi guru untuk kasus-kasus semacam ini: Misalnya dibicarakan dulu di tingkat sekolah atau dinas pendidikan, lalu banding ke dewan kode etik profesi kalau belum puas. Mungkin barulah lapor polisi jika sejauh itu masih belum ada titik temu.

Pada akhirnya, yang diinginkan semua pihak mestinya adalah pembelajaran, bukan balas dendam atau ekspresi kekesalan yang tidak proporsional. Untuk kasus ini, menuntut guru dengan hukuman penjara karena mencubit murid itu sama tidak mendidiknya seperti mencubit murid sampai biru karena bermain di sungai dan tidak ikut sholat.

Saya tidak setuju dengan hukuman fisik bagi anak. Ini rasanya landasan untuk poin-poin berikutnya. Akan terlalu panjang untuk menjelaskan seluruh dasar-dasar ilmiahnya, tapi beginilah yang saya pahami dari beberapa pelajaran yang saya ikuti waktu kuliah dulu: Sebaik-baiknya hukuman fisik, ia cenderung hanya bertahan sementara dan tidak menciptakan perubahan perilaku yang menetap. Dalam situasi dan kondisi yang berbeda, terutama jika otoritas pemberi hukuman fisiknya sedang/sudah tidak ada, sulit mengharapkan perilaku yang sama muncul secara konsisten.

Sementara itu, sejahat-jahatnya hukuman fisik, ia bisa melukai fisik, kognisi, dan emosi anak dengan permanen. Selain itu, hukuman fisik yang diberikan terus menerus bisa memberi pelajaran yang buruk (berbohong, tutupi kesalahan, dan salahkan orang lain atau faktor eksternal) bagi anak mengenai bagaimana sebaiknya menangani kesalahan atau pelanggaran aturan. Pelajaran buruk ini takutnya tidak hanya diterapkan untuk diri sendiri, melainkan juga ke orang lain atau (celakanya) orang-orang terdekatnya kelak ketika si anak dewasa.

“Hukuman fisik membuat anak lebih disiplin.” Dihadapkan dengan hasil penelitian ilmiah yang berkata sebaliknya, biasanya pendukung hukuman fisik akan mengeluarkan argumen ini. Kalau orang yang mengatakan ini berasal dari negara maju macam Jepang atau Eropa Barat, mungkin argumennya sedikit punya bobot. Tapi kita di Indonesia, di mana disiplin dalam kehidupan sehari-hari adalah kelangkaan sejak zaman dulu.

Bahkan institusi kepolisian dan kemiliteran – yang banyak menggunakan hukuman fisikpun – secara sistematis di rezim Orde Baru terlibat dalam banyak pelanggaran disiplin seperti penindasan dan korupsi. Jika ada yang baik dari hukuman fisik yang telah dialami para murid dari generasi 40-an hingga 90-an, jelas selama ini hukuman fisik itu tidak mampu membuat masyarakat kita memiliki kedisiplinan yang menetap.

Saya berempati dengan guru yang kesulitan dalam mendidik murid dengan benar. Terlepas dari sikap saya mengenai hukuman fisik yang terdengar tidak pro-guru (setidaknya guru yang setuju dengan hukuman fisik), sedikit banyak saya bisa memahami keputusasaan yang dialami guru ketika menghadapi anak didiknya. Memiliki istri yang bekerja di bidang pendidikan anak membuat saya sering mendengar cerita horor mengenai murid yang perilakunya melampaui batas kenakalan anak yang wajar untuk usia kami zaman dulu.

Saking ‘kebangetannya’, bahkan seorang konselor pendidikan yang sebenarnya sangat lemah lembut pun sampai bisa bersimpati dengan guru yang terlibat kasus kriminal karena menampar muridnya. Ini membuat saya merasa bahwa kekerasan fisik yang dilakukan guru sebenarnya bukan karena guru memiliki kepribadian yang beringas atau haus darah, tapi karena kombinasi dari beberapa faktor berikut:

  • Frustrasi dengan perilaku murid yang dianggap bermasalah
  • Hasrat untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin
  • Pola pikir lama mengenai bagaimana mengoreksi perilaku murid
  • Kurangnya keahlian dalam metode yang tidak melibatkan kekerasan

Bukan berarti saya menyalahkan semuanya di pundak guru secara individual. Menurut saya sebagian masalahnya juga ada di tingkat struktural. Frustrasi dan hasrat ‘pokoknya-cepat-selesai’ yang dirasakan guru bisa bersumber dari – setidaknya dari cerita beberapa teman guru – berlebihnya beban kerja guru, terutama beban di luar kelas yang lebih bersifat teknis administratif. Pun perubahan pola pikir atau upgrade keahlian mengenai ini mestinya bisa menjadi satu aspek yang perlu diperhatikan secara khusus dalam kurikulum pendidikan guru atau proses sertifikasi guru.

oh god, saya – sebagai orang luar yang tidak berkecimpung di bidang pendidikan – jadi terdengar begitu sotoy ya? Ya kalau usul-usul di atas dirasa terlalu naif atau idealis, minimal bikinlah dulu sebuah penelitian yang luas dan mendalam mengenai hukuman fisik di sekolah di Indonesia. Seberapa sering frekuensinya, apa saja jenis hukumannya, bagaimana karakteristik guru yang melakukannya, dan apa efek positif atau negatifnya terhadap murid. Seenggaknya kalau ada penelitian yang begitu, tak bisa lagi para perumus kebijakan pendidikan di negeri ini ikut-ikutan sotoy seperti saya barusan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s