Film: Star Trek: Beyond (2016)

Saya bukan seorang trekkie. Sebelum film layar lebarnya di-reboot ulang pada tahun 2009, pengalaman saya dengan Star Trek hanyalah sebatas menonton Star Trek: The Next Generation secara sporadis ketika ia ditayangkan malam-malam di RCTI sekitar… entahlah, pokoknya waktu saya masih kanak-kanak. Tak ada nostalgia saya untuk Star Trek dari waktu itu, tapi sejauh ini dua film layar lebarnya (2009 dan Into Darkness) cukup menghibur untuk membuat ‘menonton Star Trek terbaru di bioskop’ menjadi salah satu kewajiban menonton saya.

stbeyond

Kesan pertama saya setelah menonton Beyond: Wow, ini hampir seperti menonton satu episode televisi Star Trek. Terasa beda atmosfernya dengan 2009 dan Into Darkness; Keduanya sangat bernada ‘film aksi musim panas Hollywood’ dengan alur berkecepatan tinggi serta berkubang dalam ledakan spektakuler dan aksi tanpa henti. Sementara itu, Beyond – meski ada adegan yang cukup intens di awal dan akhir film – cenderung lebih selo dan kontemplatif dengan aksi yang diirit-irit dan lebih ‘membumi’.

Jadi kalau mengharapkan sesuatu yang sama ‘wah’-nya seperti Into Darkness, mungkin penonton akan kecewa. Saya juga kecewa pada awalnya. Kecuali di awal dan akhir cerita, sebagian besar aksi Beyond terbatas pada planet di mana para kru Enterprise terdampar. Masih mending kalau planetnya cukup eksotis, namun planet ini sungguh sangat biasa sehingga tak ada bedanya jika mereka terdampar di sebuah bekas tambang di pedalaman Papua. Monolog Star Trek yang ikonik itu, “Space, the final frontier…” jadi kurang kerasa gregetnya jika yang paling aneh yang saya lihat hanyalah manusia yang didandani dengan gincu dan lateks tebal untuk membuat mereka terlihat alien.

Tapi semakin jauh saya dalam menonton Beyond, semakin saya melihat keistimewaan film ini: Karakterisasi. Porsi aksi yang lebih sedikit memberikan ruang yang luas bagi Beyond untuk mengembangkan karakter-karakternya, dan para penulis skenario film ini betul-betul memanfaatkan kesempatan itu. Kirk dan Spock punya konflik batinnya sendiri-sendiri (namun saling bertautan) yang berevolusi sepanjang film, tapi Beyond dengan cerdas justru ‘memisahkan’ mereka berdua dan memasangkan masing-masing dengan karakter lain (Bones, Chekov, dan Scotty). Jadinya hampir semua karakter di film ini bisa tampil dalam durasi yang bermakna dan Beyond tidak sekedar menjadi ‘petualangan Kirk dan Spock di luar angkasa’.

Selain para penghuni Enterprise, dua tokoh baru di Beyond adalah Jaylah (Sofia Boutella), seorang alien yang sudah terdampar lebih dulu, dan Krall (Idris Elba), tokoh antagonis utama di film ini. Karakter Jaylah saya rasa cukup baik sebagai tambahan sementara kru Enterprise, tapi keahlian akting Idris Elba sebagai Krall menurut saya sangat disia-siakan oleh ceritanya. Pertama, ia dilapisi oleh lateks tebal sehingga sebagian besar akting visualnya tidak tampak sama sekali. Kedua, Beyond mungkin terlalu banyak berfokus pada pengembangan karakter protagonisnya, sehingga sampai menjelang akhir film ini saya masih belum jelas apa maksud dan tujuannya Krall melakukan apa yang ia lakukan. Twist yang dipaparkan di klimaks Beyond bagi saya masih belum cukup (pun terburu-buru) untuk melengkapi karakter Krall.

Seusai menonton Beyond, saya agak ambivalen mengenai film ini. Secara keseluruhan agak sedikit kurang dari harapan saya jika menggunakan standar yang dicapai 2009 dan Into Darkness. Tapi saya suka dengan fokus pada drama dan pengembangan karakter setelah dua film sebelumnya lebih menitikberatkan pada aksi dan visual yang memukau.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s