Web Log: Juli 2016

Lelaki Kardus dan Suara Anak (Ferena Debineva/Qureta) – Pandangan alternatif yang menyegarkan (sekaligus lebih depresif) terkait heboh lagu dangdut “Lelaki Kardus” yang dinyanyikan anak-anak – dan konon berdasarkan kisah nyata. Masalah terbesarnya bukanlah satu anak yang mengumpat ayahnya dan menyanyikan lagu berlirik dewasa, melainkan ribuan kasus KDRT yang hanya menjadi angka statistik saja.

If Pokémon Go feels like a religion, that’s because it kind of is (Hannah Gould/The Guardian) – Seorang antropolog menganalisis fenomena Pokemon Go dari kaca mata antropologi agama – utamanya terkait dengan unsur animisme dari agama Shinto. Tapi selain itu, ada juga bahasan yang menarik mengenai hubungan antara agama (yang seringkali dianggap anti-kemajuan) dengan teknologi dan kapitalisme.

How do you deradicalise returning Isis fighters? (John Henley/The Guardian) – Laporan dari Denmark mengenai bagaimana pemerintah setempat memproses anak-anak muda yang pulang setelah berjihad di Suriah. Ketimbang menggunakan pendekatan legal, pemerintah memberikan mereka mentor untuk memperlengkapi mereka dengan life skill yang diperlukan untuk berintegrasi kembali dengan masyarakat.

Economy of the Manga Industry; or, Why I don’t care that Togashi does whatever he wants (things we lost at dusk) – Penjelasan yang baru saya tahu mengenai lika-liku penerbitan majalah komik di Jepang, terutama mengenai hubungan industrial yang tidak sehat antara komikus-penerbit. Komikus dianggap sebagai subkontrantor independen tanpa kontrak, tidak ada transparansi bayaran, dan akibatnya komikus sering harus nombok membayari asisten dan peralatan menggambar.

Upleasant Design & Hostile Urban Architecture (99% Invisible) – Paparan mengenai sarana di tempat publik yang secara sengaja didesain untuk tidak nyaman dipakai dalam waktu yang lama, misalnya bangku taman. Selain bangku, pewarnaan lampu toilet umum atau penyetelan musik tertentu di toko juga bisa diatur untuk menghambat perilaku yang tidak disukai. Di satu sisi ini terasa lebih efektif dan efisien, tapi di sisi lain ada rasa kurang manusiawi karena tak ada toleransi atau kompromi.

Kisah Plonco Sejak Zaman Londo (Hendri F. Isnaeni/Historia) – Sejarah singkat mengenai orientasi siswa baru. Ternyata sudah ada sejak zaman Belanda, dan kelihatannya -meski lebih tidak terstruktur- justru relatif lebih beradab ketimbang perploncoan di penghujung abad ke-20. Dulu juga katanya tidak sampai ada korban luka atau jiwa, sementara di zaman modern justru korban-korban yang lebih serius mulai bermunculan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s