Film: Mr. Holmes (2015)

Saya sebenarnya bukan penggemar fanatik Sherlock Holmes; pengalaman saya dengan kisah Holmes klasik hanya sebatas A Study in Scarlet dan setengah volume cerita-cerita pendek yang belum saya selesaikan sampai sekarang. Namun bisa dibilang saya cukup menikmati adaptasi Holmes modern, mulai dari Sherlock Holmes-nya Robert Downey Jr. hingga Sherlock-nya Benedict Cumberbatch. Maka ketika muncul satu lagi film mengenai Sherlock Holmes yang dibintangi Sir Ian McKellen, sayapun penasaran bagaimana film ini akan memberi interpretasi yang berbeda dibanding film-film sebelumnya.

holmes

Mungkin saya salah karena tidak riset sebelumnya atau merasa punya gambaran tersendiri mengenai film ini di kepala saya, tapi…wow, Mr. Holmes benar-benar di luar perkiraan. Tidak ada kasus penuh misteri, intrik, dan twist yang harus dipecahkan oleh Sherlock Holmes dengan kemampuan deteksinya yang brilian dan tak terduga; Beberapa kali memang saya disuguhkan ‘pameran’ keahlian Holmes seperti biasanya, tapi itu hanya selingan super-tidak-penting yang jauh dari poin utama film drama ini.

Ya, drama. Mr. Holmes tampaknya tidak main-main dengan tagline di posternya: The man behind the myth. Yang saya dapati dalam film ini adalah seorang kakek-kakek yang mengalami krisis eksistensial; Meski kemampuan deduksinya masih bisa diandalkan, usia senja membuatnya makin sering melupakan banyak hal – mulai dari yang remeh seperti nama orang, hingga ke yang serius seperti kasus apa yang membuatnya memutuskan pensiun menjadi detektif dan menyepi ke pedesaan Inggris. Bahkan, itulah ‘kasus’ utama film ini: Usaha Holmes untuk mengingat dan menuliskan kembali kasus terakhirnya yang traumatis sebelum ingatannya benar-benar dimakan usia.

Meski genre film ini tidak sesuai seperti yang saya harapkan, harus saya akui bahwa plot drama Mr. Holmes cukup memikat saya. Kasus terakhir yang ditangani Holmes dibuka pelan-pelan sepanjang film sehingga aura misterinya terjaga dan dampak emosionalnya lebih terasa ketika semuanya dibeberkan saat klimaks film. Sayangnya cerita film ini diperberat dengan subplot mengenai perjalanan Holmes ke Jepang untuk mencari tumbuhan langka yang dipercaya bisa menunda dampak kepikunan. Subplot ini mungkin ditambahkan untuk membangun karakterisasi Holmes tua, tapi kurangnya kaitan subplot ini dengan cerita utama membuatnya jadi terasa tidak terlalu diperlukan.

Selesai menonton Mr. Holmes, saya merasa agak ambivalen mengenai film ini. Ya, dramanya memang sungguh menarik dan akting McKellen -seperti biasa- selalu memukau. Tapi film ini seolah dibuat hanya untuk fans garis keras Sherlock Holmes yang sudah hapal seluk beluk karakternya luar dalam, sementara di saat yang sama hampir tidak menyajikan elemen utama yang membuat cerita-cerita Sherlock Holmes digemari di seluruh dunia: Kasus kejahatan yang mengundang rasa penasaran, dan bagaimana seorang detektif yang brilian memecahkannya.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s