Film: The Conjuring 2 (2016)

The Conjuring adalah salah satu film favorit saya di tahun 2013. Alasannya pernah saya tulis waktu membahas Insidious Chapter 2, salah satu film horor yang juga disutradari oleh James Wan. Tapi untuk sekuelnya ini saya sebenarnya agak ragu menempatkan harapan yang tinggi. Takutnya entah terlalu serupa dengan pendahulunya dan jadi tidak seram, atau justru berusaha terlalu keras untuk tampil beda dan malah jadi kehilangan benang merahnya. Berhubung agregat skor resensinya bagus dan saya masih menaruh harapan pada James Wan, sayapun tetap menonton bersama istri.

conjuring2

Dalam hal skala kebaruan versus tradisi, bagi saya The Conjuring 2 berhasil menemukan titik yang pas. Film ini masih berkisah seputar rumah berhantu yang meneror keluarga penghuninya serta petualangan suami-istri pengusir setan yang membantu mereka. Tapi alih-alih berlokasi di suburban Amerikana, The Conjuring 2 mengambil tempat di daerah perumnas di Enfield, Inggris. Ini setidaknya memberikan unsur visual yang berbeda dari film pertama maupun film horor sejenis lainnya.

Selain setting yang lebih segar, keseimbangan lain yang cukup sukses dieksekusi The Conjuring 2 adalah tokoh antagonisnya. Lebih banyak ketimbang film pertama, dan kadar terornya agak bervariasi; Ada yang membuat saya hampir menutup mata, tapi ada juga yang tidak terasa seram karena seperti ditampilkan dengan CGI murahan. Tapi secara keseluruhan, para antagonis film ini membuat The Conjuring 2 lebih mengerikan dibanding yang pertama.

Kengerian The Conjuring 2 ini diperkuat oleh pengambilan gambar khas James Wan yang penuh ketegangan dan membuat anti-penasaran (Ini istilah ciptaan saya sendiri: Maksudnya saking menyeramkannya, penonton sampai tidak berani untuk melihat apa yang terjadi berikutnya). Selain itu, meski alur kisahnya secara garis besar serupa dengan yang pertama, The Conjuring 2 memiliki percabangan dan twist yang tak ada di film sebelumnya sehingga tetap menarik minat saya untuk mengikuti ceritanya.

Tapi jika ada satu hal baru yang menurut saya meningkatkan kualitas film ini jauh di atas pendahulunya, itu malah bukan unsur horornya. Yang berkesan justru adalah interaksi antara suami-istri pengusir setan, Ed dan Lorraine Warren, yang digambarkan dengan begitu romantisnya. Tidak sampai mendominasi film, tapi kehangatan mereka bagi saya menjadi semacam selingan yang melegakan di sela-sela ketakutan. Ini didukung oleh akting dan chemistry para pemerannya, Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Mereka dengan begitu meyakinkan tampil sebagai sepasang suami-istri yang paham risiko pekerjaannya, namun cemas karena takut kehilangan satu sama lain.

Seusai menonton film, saya merasa puas. ketakutan saya akan ‘kutukan film sekuel’ tidak terbukti untuk The Conjuring 2. Film ini berhasil mempertahankan resep yang membuat The Conjuring menjadi salah satu film horor modern terfavorit saya. Tak hanya itu, The Conjuring 2 juga menambahkan bumbu-bumbu baru dengan takaran yang pas sehingga membuatnya makin sedap tanpa merusak rasa aslinya.

Oke, mungkin cukup sudah dengan analogi makanannya.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s