Film: X-Men: Apocalypse (2016)

Di antara film-film bertema pahlawan super yang sudah atau akan berseliweran tahun ini, X-Men: Apocalypse mungkin adalah film yang paling tidak saya tunggu-tunggu. Selain film-film lain kelihatannya mempunyai premis yang lebih menarik, pengalaman saya dengan serial X-Men sebelumnya juga cenderung biasa-biasa saja. Tapi berhubung tahun ini adalah Tahun Film Superhero, mari kita coba tonton untuk melihat bagaimana film ini bersaing dengan film-film sejenis lainnya.

xmenapocalypse

Dan memang cenderung biasa-biasa saja rupanya. Sebetulnya tidak adil untuk menyalahkan Apocalypse secara khusus untuk hal ini, karena ini hal yang tidak saya sukai dengan X-Men sejak trilogi pertamanya: Daur ulang cerita yang tidak kreatif. Dari film pertama sampai keenam isunya masih berputar-putar di persoalan penerimaan kaum mutan di kalangan manusia normal. Konfliknya masih berkisar pada pertentangan ideologis antara Profesor X yang mendambakan mutan hidup berdampingan dengan manusia, Magneto yang menginginkan dominasi mutan atas manusia, dan oknum manusia brengsek yang selalu menjadi alasan pembenaran bagi Magneto untuk melakukan aksinya.

Sebenarnya, terlepas dari pelbagai kekurangannya, First Class dan Days of Future Past masih patut diacungi jempol karena mencoba melakukan sesuatu yang baru dibanding trilogi X-Men pertama. Jadi saya cukup kecewa ketika Apocalypse justru bergerak mundur dan menawarkan cerita yang sangat, sangat, stereotipikal film superhero, bahkan untuk ukuran X-Men. Untuk ‘episode minggu ini’, lawan dari Profesor X dan anak-anak didiknya adalah En-Sabah-Nur, mutan superkuat yang bangkit kembali untuk merombak ulang dunia dengan menghancurkannya. Dan salah satu tangan kanannya adalah Magneto yang lagi-lagi dikecewakan oleh ulah manusia bejat dan memanfaatkan En-Sabah-Nur untuk membalas dendam.

Seandainya cerita yang sangat standar ini dieksekusi dengan kuat, mungkin saya tidak terlalu bermasalah dengannya. Sayangnya tidak. En-Sabah-Nur, meski diperankan dengan lumayan oleh Oscar Isaac, sangat disia-siakan oleh ceritanya. Sebagai antagonis yang dikisahkan sebagai mutan terkuat, apa yang ia lakukan selama film ini tidak memberikan saya kesan itu. Yang ditampilkan lebih berbahaya buat dunia justru adalah Magneto, yang kisah tragisnya di awal film mungkin adalah momen terbaik dari Apocalypse – ini juga karena didukung oleh lakon yang sangat bagus oleh Michael Fassbender. Tapi tentu saja di akhir film Magneto lagi-lagi jatuh ke dalam klise yang sama seperti kebanyakan film X-Men sebelumnya.

Satu hal lagi yang agak mengecewakan dari Apocalypse adalah akting para pemerannya yang terasa kurang maksimal, bahkan termasuk para pemain kawakan seperti James McAvoy dan Jennifer Lawrence. Untuk para aktor/aktris/mutan baru, akting mereka yang biasa-biasa saja juga tidak dibantu oleh cerita yang hanya sebentar-sebentar menyorot kekuatan mereka, tapi tidak cukup waktu untuk mengembangkan karakter masing-masing mutan. Lagi-lagi ini bukan eksklusif salahnya Apocalypse; Memang sejak dulu saya lihat X-Men sering kesulitan menyeimbangkan antara variasi mutan yang tampil di layar dengan seberapa integral mereka dalam plot filmnya.

Dibandingkan dengan film-film bertema pahlawan super yang sudah muncul tahun ini, Apocalypse menurut saya adalah yang paling buruk. Bahkan dibandingkan dengan film-film X-Men sebelumnya, film ini terasa sia-sia karena tidak memberikan sesuatu yang baru atau berbeda. Patut disayangkan memang, karena beberapa bulan sebelumnya 20th Century Fox baru merilis Deadpool yang begitu luar biasa.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s