Web Log: Mei 2016

Publik Heran Kasus Yuyun, Saya Tidak! (Arako/Kompasiana) – Catatan budaya menarik yang bisa menerangi latar belakang kenapa 14 remaja laki-laki bisa memperkosa seorang remaja perempuan sampai tewas, dan tidak merasa bersalah karenanya. Kalau apa yang diungkapkan ini benar, tentu solusinya tidak dengan melarang miras atau mengobral hukuman kastrasi atau hukuman mati.

Mapping Chineseness on the landscape of Christian churches in Indonesia (Chang Yau HOON) – Sebuah paper yang menurut saya agak berat; Tentang sejarah gereja-gereja Kristen Tionghoa di Indonesia yang awalnya terbagi antara yang totok dan peranakan. Satu hal yang saya baru tahu adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) itu rupanya dibentuk dari peleburan beberapa sinode gereja Kristen Tionghoa – cukup mengejutkan saya karena sekarang jemaat GKI yang saya lihat cukup beragam.

Hal-Hal yang Bisa Mempercepat Senja Kala Media Online (Kris Moerwanto) – Ini sebenarnya bagian kedua dari tulisannya tentang ‘senja kala media online’. Yet another doom-and-gloom article, tapi yang ini lebih mengena karena saya sampai sekarang masih berangan-angan untuk bisa menghidupi diri dan keluarga dari menulis secara online. Tapi sebagai konsumen berat media online, saya sudah melihat gejala-gejala yang dipaparkan di dua tulisan ini.

Social research in Indonesia: Why and what next (Inaya Rakhmani/Research to Action) – Pengantar singkat dari paper [full text pdf] yang mengulas mengenai mengapa kualitas dan kuantitas penelitian ilmu-ilmu sosial di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara Asia lain. Ada banyak faktornya, antara lain birokrasi institusi, academic inbreeding (lulusan satu universitas kemudian bekerja dan jadi dosen/peneliti di universitas itu juga), dan kurangnya penelitian dasar dibanding penelitian terapan.

Menilik Rekonsiliasi 1965 di Tanah Kaili (Neni Muhidin/Beritagar) – Salah satu kisah rekonsiliasi 1965 yang cukup sukses di Palu, Sulawesi Utara sejak 2012. Sukses karena walikotanya sendiri yang proaktif terlibat (atas nama pemerintah, bukan pribadi) dalam proses rekonsiliasinya. Selain itu, rupanya ada beberapa faktor lokal yang membuat keributan 1965 di Palu tidak segarang di wilayah-wilayah Indonesia lainnya.

NU, PKI, dan Kemungkinan Rekonsiliasi (Amin Mudzakkir/NU Online) – Satu lagi tulisan tentang gerakan 30 September 1965 dan polemik rekonsiliasinya. Agak ringan isinya dari sisi data dan fakta, tapi si penulis memberikan perspektif yang lebih ‘tengah’: Bahwa NU sebagai institusi mungkin terlibat sebagai pelaku dalam pembantaian banyak orang segera setelah 1965, tapi institusi NU juga adalah korban dari para perebut kekuasaan (Soeharto) karena hak-hak politiknya diberangus ketika Orde yang baru dimulai.

Kesantunan Bersurat (Dee Lestari) – Satu lagi orang yang menyerukan tentang pentingnya adab ketika berkomunikasi secara formal atau profesional dalam bentuk tulisan. Memang sudah ada beberapa orang yang mengeluhkan soal ini, tapi kebanyakan yang saya tahu adalah dari kalangan akademisi. Berhubung yang ini ditulis oleh seorang penulis dan seleb beken, semoga seruannya lebih diperhatikan oleh lebih banyak orang.

Sistem hukum harus berpihak pada korban pemerkosaan (Beritagar) – Satu aspek yang kerap tertutupi oleh riuhnya tuntutan hukuman yang lebih jeri pada pemerkosa.  Ada defini perkosaan yang dirasa sangat terbatas, sehingga yang dipakai akhirnya istilah pencabulan yang hukumannya lebih ringan. Proses hukum pun sering dirasa tidak sensitif dengan korban, bahkan kadang melakukan victim blaming.

Rayuan Genit Bioskop di Perempatan Senen (Fadli Adzani, CNN Indonesia) – Catatan singkat mengenai pengalaman menonton di bioskop di perempatan Senen. Setiap pagi saya melewati bioskop ini dalam perjalanan menuju tempat kerja, dan saya kerap bertanya-tanya seperti apa sesungguhnya isi bioskop ini. Menarik juga melihat penggunaan bioskop yang berbeda dari apa yang biasanya ada di mall-mall.

A Naïf In Neverwinter Nights: Exploring Roleplay In An Erotic Fantasy Server (Steven Messner, Rock Paper Shotgun) – Catatan perjalanan seseorang yang mencoba memainkan sebuah game RPG online di server komunitas bertema fantasi erotika. Bayangkan seperti berkunjung ke Narnia, tapi dengan rating 17+. Saya suka penuturannya karena ia berpikiran terbuka untuk meralat prasangka awalnya mengenai komunitas tersebut dan tak terjebak untuk ‘menertawakan’ orang-orang ‘aneh’ yang ia lihat.

13, right now (Jessica Contrera, The Washington Post) – Siapa sangka kisah hidup sehari-hari seorang ABG menengah ke atas di perkotaan bisa begitu memikat? Penulisnya sukses memotret ‘rumitnya’ aktivitas (media) sosial ABG zaman sekarang tanpa nada merendahkan atau menghakimi. Saya juga suka bagaimana penulisnya menyelipkan latar belakang keluarga si ABG yang membuat kisah ini begitu manusiawi.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s