Film: John Wick (2014)

Meski Keanu Reeves tampil dengan sangat menawan di The Matrix (cinta pertama saya untuk kategori film), harus saya akui kalau dia bukanlah aktor yang baik dalam berakting – bahkan untuk ukuran film aksi di mana akting tidak terlalu diperhatikan. Maka ketika melihat trailer-nya, saya merasa John Wick tidak layak mendapat uang dan waktu saya untuk ditonton di bioskop; Tampak seperti film aksi kelas B dengan anggaran rendah, sementara dalam waktu yang berdekatan di bioskop juga diputar Interstellar yang waktu itu saya persepsikan lebih ‘wah’ dan berkelas.

johnwick

Ketika akhirnya saya ada waktu luang untuk iseng menontonnya di kanal TV berbayar, saya cukup terkejut. Memang dalam satu hal saya benar: John Wick adalah film aksi kelas B dengan anggaran rendah. Tapi yang membuat saya kagum adalah orang-orang yang mengerjakan film ini seperti paham betul dengan keterbatasan mereka, dan kemudian menggunakannya sebagai kesempatan untuk menonjolkan kekuatan-kekuatan mereka yang bisa menutupi kekurangan film ini.

 Contoh yang paling utama adalah aksinya. Tidak ada adegan-adegan penuh ledakan spektakuler atau aksi kejar-kejaran yang menghancurkan banyak mobil; Mayoritas aksi adalah soal satu orang menembak orang lain (atau banyak orang), disisipi sedikit pergulatan tangan kosong di sana sini. Tapi film ini berhasil menampilkan gaya uniknya sendiri lewat aksi John Wick si pembunuh bayaran yang metodis, efisien, dan brutal; Mirip seperti The Equalizer atau Collateral, tapi dengan porsi yang lebih memuaskan serta tata kamera yang jauh lebih stabil dan tak banyak potongan.

Hal lain yang berkesan dari film ini adalah narasinya. Ceritanya sendiri memang sederhana: John Wick adalah pensiunan pembunuh bayaran yang memutuskan untuk membalas dendam setelah seorang anak mafia Rusia mencuri mobilnya dan membunuh anjing peninggalan almarhum istrinya. Sederhana, terkesan konyol bahkan. Tapi yang saya suka adalah bagaimana film ini membangun dunia para algojo bawah tanah dengan detail, seperti bagaimana mereka bekerja, mata uang yang digunakan, hingga kode etik antar mereka. Semuanya disampaikan dengan rapi sepanjang film sehingga membuat saya dengan senang hati lupa bahwa pada dasarnya John Wick menghabisi nyawa puluhan orang demi seekor anjing.

Kisah John Wick juga diperkuat oleh karakter-karakternya yang -untuk ukuran film aksi- cukup memorable. John Wick sendiri digambarkan sebagai pembunuh bayaran legendaris yang membuat semua penjahat gemetaran atau menaruh hormat ketika mendengar namanya – tapi saya suka di film ini ia digambarkan lebih manusiawi dan tidak terlalu perkasa (seperti misalnya Liam Neeson dalam Taken) sehingga perjuangannya untuk membalas dendam terasa lebih realistis, menegangkan, dan tidak membosankan. Karakter-karakter lainnya, meski tidak digarap semendalam si karakter utama, semuanya memiliki identitas unik dan punya peran penting dalam memperkenalkan detail dunia John Wick yang saya singgung dalam paragraf sebelumnya.

Lalu bagaimana dengan akting Keanu Reeves sendiri? Saya lihat sih tidak banyak kemajuan sejak masanya ia berperan sebagai Neo, tapi entah kenapa raut mukanya yang sendu serta ekspresi wajahnya yang dingin dan datar pas dengan profil John Wick sebagai pembunuh berdarah dingin yang masih berduka atas istrinya. Secara keseluruhan memang masih di bawah rata-rata aktor film aksi pada umumnya, tapi banyak hal lain yang jauh lebih menarik di film ini yang bisa menutupinya.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s