Web Log: April 2016

Bias kelas kebijakan industri digital (Beritagar.id) – Ini ada benarnya juga sih. Fokus ke ‘solusi digital’ condong untuk terlalu berpihak pada kebutuhan kelas menengah di daerah perkotaan – sementara di Indonesia masih lebih banyak lagi yang berada di luar cakupannya. Poin lain yang juga penting adalah fokus ke data kuantitatif, yang bisa membuat pemerintah mengabaikan masalah sosial yang tidak bisa tertangkap pengumpul data atau sulit dikuantifikasi.

Spotlight dan Jurnalisme Kekerasan Seksual (Hans Davidian) – Film Spotlight cuma contoh di pengantar awalnya. Bom besarnya adalah pertanyaan apakah sebuah institusi kebudayaan bernama Salihara secara sengaja menutup-nutupi aktivitas kejahatan seksual anggotanya (yang sampai saat ini belum terungkap), setelah sebelumnya tidak bersikap tegas terhadap kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh juga anggotanya: Sitok Srengenge.

Korban Internet Berikutnya: Periklanan (Kris Moerwanto) – Selalu menarik melihat artikel-artikel bertema ‘senjakala’ begini. Belum lama lalu ada senjakala media cetak; Tulisan yang ini membahas senjakala (agensi) periklanan – setidaknya menurut definisi tradisionalnya. Tapi saya sih masih merasa di Indonesia senjakalanya bakal tiba lebih belakangan; Bagaimanapun masih banyak orang di negara ini yang bergantung pada media konvensional.

Hantu dan Strategi Literer untuk Sang Liyan (Eka Kurniawan) – Novelis yang bukunya belum kesampaian saya beli, Eka Kurniawan, membandingkan sosok gaib di dunia fantasi klasik dengan mereka yang dituduh ‘setan’ di dunia nyata seperti Syiah, Ahmadiyah, Komunis, atau LGBT. Strategi literernya? Novel-novel fantasi kontemporer macam Twilight(!) memperlakukan mereka sebagai sesama ‘penghuni dunia’ yang hidup berdampingan dengan segala konflik dan drama yang serupa.

How to Hack an Election (Bloomberg) – Kisah seorang hacker yang membantu banyak kampanye hitam dengan cara-cara ilegal (penyadapan, peretasan dokumen rahasia) di sejumlah pemilu di Amerika Latin. Menariknya, tujuannya lebih soal ideologis dibanding uang (karena dia yakin bisa dapat lebih banyak uang dengan meretas sistem finansial): Menghalangi pemerintahan diktator dan sosialis berkuasa.

Parable of the Polygons (Vi Hart + Nicky Case) – Pelajaran interaktif mengenai segregasi dan desegregasi dalam hidup bermasyarakat. Berawal dari preferensi sederhana tiap individual untuk bertetangga dengan orang yang ‘sebentuk’ (dalam hal suku, ras, agama, kondisi ekonomi) dengannya, lama kelamaan masyarakat akan tersegregasi total. Menurunkan standar preferensi ‘tetangga sebentuk’ saja tidak cukup, perlu juga preferensi positif untuk bertetangga dengan orang-orang yang ‘berbeda bentuk’.

The Secret Rules of the Internet (The Verge) – Artikel longform yang membahas sisi ‘tersembunyi’ media sosial dalam menentukan apa yang boleh kita lihat atau baca: Moderasi konten. Terdengar sepele, tapi konten macam apa yang boleh ditampilkan di Facebook, Twitter, atau YouTube sangat besar pengaruhnya dalam kebebasan bersuara orang perorang, bahkan dalam pergerakan sosial politik dan revolusi sebuah negara. Dan masalahnya, sistem moderasi konten yang ada penuh dengan subyektivitas, minim transparansi, dan kurang sumber daya jika dibandingkan dengan divisi lain.

Kartini the Forgotten Nationalist (Magdalene.co) – Wawancara dengan sejarawan yang meneliti surat-surat lengkap Kartini. Rupanya buku Habis Gelap Terbitlah Terang hanya sebagian kecil diantaranya, yang dipilih dan disunting dengan agenda pendidikan bagi perempuan dalam kerangka politik etis kolonial. Tapi Kartini banyak menulis hal-hal lain yang tak banyak disentuh oleh buku sejarah, terutama mengenai nasionalisme dan keinginan agar bangsanya dapat menentukan nasibnya sendiri; Dan sentimen ini sudah ada beberapa tahun sebelum Boedi Oetomo dan ‘kebangkitan nasional’-nya hadir.

Lima Salah Kaprah tentang Indonesia Timur (Yusran Darmawan) – Tulisan yang lengkap mengenai ketimpangan persepsi publik dalam melihat Indonesia bagian barat dan timur. Cukup membuka wawasan saya, karena saya mengakui kalau saya juga termasuk yang kurang pengetahuan mendasar mengenai Indonesia timur, misalnya saja letak geografis. Saya setuju dengan penulisnya bahwa minimnya pemaparan mengenai Indonesia timur di media massa adalah faktor terbesar dalam kekurangtahuan saya.

Tuyul-Tuyul Go-Jek (Labana.id) – Tulisan investigatif mengenai sisi ‘gelap’ dari pengemudi Go-Jek: Hacking aplikasi untuk memanipulasi data pengemudi sehingga bisa lebih sigap merebut pelanggan. Diduga dilakukan oleh oknum IT di dalam Go-Jek sendiri, dan biaya keanggotaannya bisa mencapai 1 juta rupiah per minggu. Dilihat dari sudut pandang tertentu, saya selalu kagum dengan cara orang Indonesia mencari kesempatan di dalam kesempitan…

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s