Lika-Liku Menyusui

Seperti yang pernah dijanjikan dalam tulisan sebelumnya, saya ingin bercerita singkat mengenai proses menyusui anak pertama kami yang penuh dengan… gonjang-ganjing. Meski sejak awal kami menginginkan ASI eksklusif 6 bulan (plus tambahan ASI sampai 2 tahunan), kami juga tidak terlalu kaku dalam hal itu.

Istri sendiri dulu tidak disusui oleh ibunya karena ASI ibu mertua saya tidak keluar, jadi ada bias subyektif yang membuat kami merasa bahwa ASI -atau ketiadaan ASI- dengan sendirinya tidak serta-merta membuat anak kami jadi anak paling pintar atau paling bodoh sedunia.

Yang jelas waktu itu kami berpikir ASI adalah susu gratis yang membuat kami tak perlu mengeluarkan sejuta rupiah lebih tiap bulannya hanya untuk memberi makan anak kami.

asi
Disclaimer: Gambar ilustrasi; Bukan anak saya, dan bukan payudara istri saya.

Tadinya saya kira menyusui itu gampang: Tinggal buka payudara, sodorkan di depan mulut bayi, dan si bayi dengan instingnya bisa segera minum lahap sampai kenyang.

Oh betapa saya berharap kenyataannya bisa semudah itu.

Masalah pertama adalah efek samping dari operasi caesar. Perut yang nyeri sehabis diiris pisau bedah membuat istri saya tidak bisa duduk tegak dengan benar selama beberapa hari setelah melahirkan. Dan posisi yang benar inilah, saya baru tahu kemudian, adalah salah satu faktor yang mempengaruhi apakah bayi yang baru lahir bisa menyedot puting susu dengan benar pula hingga keluar ASI-nya.

Itu baru satu faktor yang bermasalah. Faktor kedua yang tidak bisa kami kontrol adalah bentuk payudara dan puting yang tidak begitu ideal dalam menyusui; Akibatnya anak kami kesulitan dalam mempertahankan mulutnya agar tetap bisa menempel di payudara ibunya untuk waktu lama (istilah umumnya adalah latch on). Kalau dikira-kira, mungkin dari 100% waktu menyusui di awal-awal kelahiran anak kami, 70% waktunya dihabiskan untuk mengatur posisi ibu dan bayinya sebelum keduanya bisa merasa nyaman dalam memberi dan menerima ASI.

Masalah ketiga adalah anak kami ternyata tingkat bilirubinnya agak tinggi sehingga harus secara berkala harus dipapar sinar ultraviolet di inkubator – yang terletak di ruang perawatan bayi yang berjarak dua gedung dari kamar istri saya. Maka diputuskanlah anak kami menginap saja di sana dan istri akan ke sana tiap dua jam sekali untuk menyusui.

Dua jam sekali di pagi dan siang hari mungkin tidak merepotkan, tapi dua jam sekali di malam hari jadi masalah: Ada orang tua baru yang penuh dengan stres karena semua komplikasi yang terjadi, dan pola tidur yang buruk hanya akan memperparah keadaannya. Maka solusi yang jelas adalah memerah ASI agak banyak sebelum tidur supaya bisa dititipkan di ruang rawat inap bayi dan bayi kami nantinya bisa diberikan ASI perah oleh perawat yang berjaga.

Solusi ini rupanya mengungkap masalah lain: Produksi ASI istri saya tergolong cukup sedikit; Masih nyata di ingatan saya rutinitas bangun jam 2 pagi membantu istri menampung ASI yang diperah dengan tangan – dan selama setengah jam memerah tanpa henti mungkin kami hanya mendapat kurang dari 10 mililiter dari satu payudara, sementara kata dokter dan perawat waktu itu bayi kami membutuhkan kira-kira 30-40 mililiter dalam sekali minum.

Oh iya, soal bangun jam 2 pagi itu. Meski ASI diperah supaya kami tak perlu bangun setiap dua jam, bukan berarti kami bisa tidur nyenyak semalaman tanpa beban. ASI secara berkala harus tetap dikeluarkan juga untuk memacu produksi ASI; Kalau tidak rutin diperah, lama-lama bisa terjadi penyumbatan saluran ASI di payudara yang bisa berujung pada mastitis (peradangan).

Tebak apa yang terjadi beberapa minggu kemudian?

Anyway, tulisan yang direncanakan singkat ini rupanya jadi lebih panjang dari yang saya perkirakan. Maka ini tampaknya akan jadi bagian pertama dulu saja.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s