Film: Batman v Superman (2016)

Beberapa tahun terakhir ini, saya merasa film hasil adaptasi komik sudah mencapai taraf peristiwa budaya; Kecuali anda alergi secara fisik ketika melihat manusia berjubah, maka menonton film superhero adalah tanda kekinian yang kudu wajib musti diikuti – sepasti nonton gerhana matahari total atau debat calon presiden. Maka meskipun trailer dan informasi pra-rilisnya tidak begitu menarik minat saya, dorongan untuk menonton Batman v Superman cukup kuat untuk membuat saya dan istri menontonnya di minggu pertama tayang di Indonesia.

batmanvsuperman

Untuk ukuran sekuel langsung dari film Superman sebelumnya, Man of Steel, yang justru menjadi pusat perhatian saya sepanjang Batman v Superman justru adalah Batman. Ben Affleck dengan baik memerankan Bruce Wayne yang getir, dan aksi-aksi Batman yang lebih brutal nan ganas adalah momen-momen paling memukau di film ini; Secara keseluruhan, Zack Snyder tampaknya berhasil menciptakan ikon Batman baru yang lepas dari bayang-bayang trilogi Batman-nya Christopher Nolan.

Cemerlangnya penampilan Batman secara njomplang membuat saya agak kecewa dengan elemen cerita lainnya. Konflik filosofis Clark Kent/Superman yang diharapkan menjadi dewa penyelamat umat manusia mestinya bisa diperdalam menjadi tema satu film tersendiri. Sayangnya, si penulis naskahnya merasa ada banyak unsur cerita yang harus disampaikan dalam waktu dua setengah jam sehingga saya jauh dari puas melihat bagaimana subplot itu diselesaikan.

Unsur cerita yang saya maksud barusan itupun terkesan dipaksakan masuk ke dalam film ini. Yang pertama adalah Wonder Woman yang minim latar belakang dan karakterisasi; Akibatnya kemunculannya di klimaks film terasa seperti tempelan yang tidak perlu-perlu amat. Hal lain yang lebih dipaksakan adalah segala fragmen-fragmen kecil yang tersebar di sepanjang film untuk membangun Justice League sebagai ansambel superhero-nya DC; Menurut saya ini langkah yang terkesan terlalu terburu-buru dan justru membuat para penonton yang kurang familiar dengan komiknya malah merasa kebingungan.

Sepanjang film saya memang tidak begitu terkesan dengan cerita Batman v Superman, tapi saya masih berharap banyak pada tangan dingin Zack Snyder sebagai sutradara film aksi, karena saya suka gayanya di 300, Sucker Punch, dan Man of Steel. Sayangnya lagi-lagi saya dikecewakan; Selain aksi solo Batman yang saya puja-puji di awal, adegan aksi lainnya punya kekurangannya sendiri-sendiri: Aksi Batman melawan Superman yang menjadi daya tarik utama film ini hanya sebentar dan berakhir prematur, sementara aksi mereka berdua plus Wonder Woman (melawan [spoiler alert]) berikutnya terlalu diwarnai oleh CGI dan efek khusus yang berlebihan sehingga terasa kurang ‘nendang’.

Sebagai film yang mempertemukan dua atau lebih tokoh besar komik dalam satu film, menonton film ini membuat saya mau tak mau harus membandingkannya dengan film ansambel superhero lain dari sisi Marvel: The Avengers. Dan menonton Batman v Superman rasanya seperti menonton separuh pertama The Avengers 1 yang direnggangkan menjadi satu film penuh yang diselipkan beberapa kilas balik yang dipotong dari Iron Man 1.

Iklan

4 comments

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s