3 Bulan Kemudian

Singkat cerita: 9 Desember yang lalu anak pertama saya lahir. Yang terjadi setelahnya sampai sekarang adalah tiga bulan yang penuh hal-hal baru, aneh, meletihkan, mencemaskan, dan menggembirakan. Rasanya ingin menceritakan segala campur aduk emosinya, tapi agak bingung juga bagaimana menyatukan semuanya. Jadi mungkin saya akan menuliskan sebagian di antaranya secara berseri dalam beberapa post saja.

bayi

Hal pertama yang ingin saya sampaikan mengenai segala proses lahir-melahirkan ini adalah… melahirkan itu mahal! Saya dan istri memang sudah mempersiapkan diri secara finansial untuk hal ini karena sejak awal istri sudah didiagnosis mengalami placenta praevia (plasenta berada di mulut rahim, menghalangi jalan keluar bayi). Kalau sampai waktunya bayi lahir plasenta itu masih tidak bergerak juga dari bawah sana, maka jalan teraman untuk melahirkan ya dengan cara operasi caesar – yang lumayan lebih mahal beberapa kali lipat dibandingkan prosedur melahirkan biasa.

Ketika plasentanya belum pindah juga saat kira-kira sebulan sebelum waktu perkiraan melahirkan, maka ditetapkanlah: Yak, tampaknya memang harus operasi caesar. Salah satu keuntungannya sih saya dan istri bisa memastikan tanggal sendiri (subject to room and the doctor’s availability); Tak perlu histeris dan buru-buru ke rumah sakit ketika kontraksi mulai intens atau air ketuban sudah pecah, juga tak ada acara menunggu-nunggu dengan cemas si jabang bayi keluar setelah istri mengejan selama belasan jam.

Jadi tanggal sudah disepakati: 9 Desember -tanggal di mana usia kandungan sudah cukup, kamar tersedia, dokternya tak punya acara lain, libur pilkada serentak, dan… ulang tahun ibu saya (yah, mumpung semuanya bisa di-gothak-gathuk-kan di satu tanggal). Sore sehari sebelumnya istri saya melenggang masuk kamar untuk observasi sekaligus puasa sebelum operasi. Setelah semuanya dinyatakan baik-baik saja, operasi dimulai pukul 8 pagi esoknya. Kira-kira satu setengah jam setelah istri masuk ruang operasi, lahirlah anak pertama kami dengan sehat walafiat.

Mungkin karena semuanya sudah terjadwal dan berjalan sesuai rencana, saya sendiri tidak terlalu cemas atau kuatir dengan segala proses persiapan itu; Pokoknya ikuti sesuai prosedurnya lah. Setelah saya diperbolehkan masuk ke ruang observasi pasca-operasi dan melihat bayi yang tertidur di kotak inkubator, barulah kenyataan menampar saya dengan keras: Saya sudah punya anak. Saya jadi ayah sekarang.

Sejak itu pula, hal-hal berikutnya berjalan dengan lebih… chaotic, atau lebih lepas bebas kalau mau dikatakan dengan optimis. Tapi yang namanya kecemasan dan insecurity tentu tetap ada; Bagaimanapun juga, pengasuhan anak adalah dunia baru bagi saya dan istri. Meski kami berdua memiliki latar belakang pendidikan yang sangat menunjang upaya pengasuhan, tampaknya sejauh ini banyak yang kami jalani lebih berdasarkan pada eksperimentasi, improvisasi, dan kompromi.

Contoh nyatanya adalah segala komplikasi dalam soal menyusui yang langsung membikin pusing begitu anak kami lahir. Tapi ini mungkin ada baiknya saya tulis lebih mendetail dalam post tersendiri nanti…

 

Iklan

2 comments

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s