Film: As Above, So Below (2014)

Tampaknya saya memang punya hubungan benci-tapi-rindu dengan film-film yang menggunakan teknik found footage. Secara prinsip saya tidak begitu menyukainya karena pangambilan gambar yang seringkali bergoyang-goyang, tapi toh dua film found footage yang saya bahas bisa mengatasinya dan membuat saya cukup menyukai mereka. As Above, So Below, seperti biasa lewat di kanal TV berbayar saya, dan ternyata juga memakai pendekatan found footage. Lagi-lagi juga tidak pernah saya dengar filmnya seperti apa. Tapi mari kita coba tonton…

asabove

Yang menarik perhatian saya pertama kalinya adalah latar belakang cerita As Above yang tidak lumrah untuk ukuran film horor: Kisah mengenai Nicholas Flamel si ahli alkimia kuno, dan pencarian Philosopher’s Stone yang legendaris di katakomba Paris. Meskipun tidak seaneh alien, setidaknya ini cukup menyegarkan dibanding menghadapi satu lagi rumah tua dengan setan dan arwah penasaran.

Namun ini berarti sekitar separuh pertama As Above cukup gersang dari unsur-unsur teror, kecuali mungkin ada yang mengidap klaustrofobia karena 90 persen film ini berlangsung di jaringan kuburan bawah tanah serta gua yang sempit dan gelap. Separuh pertama film berfokus pada interaksi karakter dalam perjalanan menjelajahi gua yang angker dan penuh perangkap serta teka-teki misterius, dan film ini cukup berhasil menggambarkan kengerian dan keputusasaan para karakternya ketika mereka mau tak mau harus terus menjelajahi gua semakin dalam untuk bisa menemukan jalan keluar.

Separuh kedua As Above, menurut saya, adalah kelemahannya. Di situlah mulai bermunculan segala langganan film horor: Wanita bergaun putih, sosok berjubah hitam, dan zombie (setidaknya, mirip seperti itu) yang meneror dan membunuhi satu persatu para penjelajah. Mencekam memang, tapi semuanya sudah pernah saya lihat di film-film horor yang lain, dan film ini tidak lebih menyeramkan dalam penyajiannya. Ending-nya juga mengecewakan saya; Ending yang bahagia sebenarnya tidak apa-apa bagi saya, cuma penyelesaian ‘konflik’ di film ini menurut saya terlalu klise dan cheesy.

Hal lain yang menurut saya menarik dari As Above adalah penggunaan multi-kameranya. Di film-film found footage lainnya, biasanya hanya ada satu kamera yang ditenteng. Di film ini setiap karakter menenteng kameranya sendiri (‘untuk pembuatan film dokumenter’ sebagai dalih dalam film), sehingga sutradaranya bisa memperlihatkan sudut pandang pengambilan gambar yang lebih variatif seperti film biasa lainnya. Selain itu, multi-kamera juga membuat fokus pada elemen tertentu bisa dilakukan cukup dengan mengganti sudut pandang kamera, alih-alih menggerakkan satu kamera ke sana kemari yang biasanya membuat saya pusing dan mual.

Setelah selesai menonton As Above, saya menyimpulkan bahwa film ini…yaah, tergolong lumayan lah. Saya tertarik dengan latar belakang dan setting-nya yang cukup khas untuk ukuran film-film seperti ini, juga teknik pengambilan gambarnya yang ramah mata. Sayangnya As Above tidak berhasil mengeksplorasi keunikannya, malah bermain aman dan kembali mengandalkan elemen-elemen horor yang sudah basi.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s