Film: 300: Rise of an Empire (2014)

Dua hal terutama yang saya cari dari sebuah film aksi adalah adegan laga yang ‘cantik’ dan pergerakannya yang gampang diikuti. Maka sudah konsekuensi logisnya bahwa saya menjadi fans Zack Snyder ketika menonton 300, film yang disutradarainya. Film itu, dan juga film-film aksi garapannya berikutnya (Watchmen, Sucker Punch, Man of Steel), memberikan saya kepuasan visual menyangkut dua elemen tersebut. Maka saya agak tertarik untuk melihat apakah Rise of an Empire, meski tidak disutradarai oleh Zack Snyder (ia hanya menjadi produsernya), masih tetap membawa DNA aksi yang sama dengan 300.

300-2

Saya bilang ‘agak tertarik’, karena nyatanya saya baru berminat menonton Rise of an Empire ketika ia lewat di saluran TV kabel saya. Waktu film ini masih tayang di bioskop, saya merasa cerita 300 sudah diselesaikan dengan tuntas sehingga sebuah sekuel rasanya tidak terlalu dibutuhkan. Lagipula, para aktor dan aktris yang bermain di film ini juga tidak ada yang saya kenal kecuali Eva Green, dan nama itu bukan nama yang menarik minat saya ketika menimbang-nimbang apakah sebuah film aksi layak ditonton segera di bioskop.

Rupanya saya sama sekali salah. Berperan sebagai tokoh antagonis, Artemisia, yang membawahi angkatan laut Persia, Eva Green justru benar-benar mengesankan dalam menampilkan karakternya yang dingin, licik, dan penuh dendam terhadap Yunani. Sebaliknya, tokoh protagonisnya malah gagal total. Sullivan Stapleton memerankan Themistocles, seorang pahlawan perang Athena. Tapi karisma yang dibawakan oleh Stapleton, dalam memerankan seseorang yang harusnya menjadi pemimpin tentara, tak ada seujung kuku dari akting Gerard Butler sebagai Leonidas sang pemimpin Sparta.

Hal lain yang mengganjal dari Rise of an Empire adalah adegan aksinya. Betul, adegan aksi slow motion nan stylish khas 300 (dan Zack Snyder) masih tampak jelas di sini. Tapi film ini dengan royal menghadiahi saya dengan adegan aksi semacam itu hampir sepanjang film sehingga saya menjadi terlalu terbiasa dengannya; Saya tidak lagi merasa begitu bersemangat ketika adegan aksi berikutnya dimulai. Dibandingkan dengan 300 yang memiliki sejumlah adegan yang ikonik, aksi Rise of an Empire juga terasa lebih monoton karena didominasi oleh pertarungan pedang Yunani versus Persia di atas kapal.

Kesimpulannya, menonton Rise of an Empire di depan TV membenarkan keputusan saya untuk tidak menontonnya di bioskop tahun lalu. Memang betul bahwa film ini mengandung DNA yang serupa dengan 300 yang tayang delapan tahun lalu. Tapi terlalu banyaknya adegan aksi monoton yang menggunakan teknik slow motion, ditambah dengan akting yang sangat hambar dari tokoh-tokoh protagonisnya, membuat saya merasa 300 adalah film yang lebih superior… kecuali dalam aspek Eva Green, tentu saja.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s