Film: Whiplash (2014)

Nama film Whiplash pertama kali saya dengar sewaktu pengumuman nominasi piala Oscar di akhir 2014; Film ini kemudian mendapatkan 3 penghargaan dari 5 nominasi, dan kemenangan J.K. Simmons sebagai pemeran pembantu terbaik untuk film ini membuat saya tertarik untuk menontonnya… kalau saja film ini muncul di bioskop. Sayangnya tidak, makanya saya baru sekarang menonton film ini ketika -seperti biasa- muncul di kanal televisi berbayar.

whiplash

Satu hal yang menarik dari Whiplash adalah ceritanya yang ‘kejam’, terutama untuk ukuran film drama dengan setting sekolah musik. Pusatnya adalah perjuangan dua orang: Andrew Neiman (diperankan Miles Teller) dan Terence Fletcher (diperankan J.K. Simmons) yang masing-masing berusaha mencari kesempurnaan dalam bermusik dengan cara apapun.

Bagi Neiman si mahasiswa yang ingin menjadi pemain drum terhebat di dunia, itu berarti berlatih keras hingga tangannya berdarah-darah dan mencampakkan pacarnya dengan dingin karena bisa mengganggu konsentrasinya dalam berlatih drum. Sebaliknya bagi Fletcher si guru musik, itu berarti memarahi, memaki-maki, dan bila perlu melempari para mahasiswa bimbingannya karena ia merasa tekanan semacam itu perlu untuk sepenuhnya mengeluarkan bakat dan potensi mereka.

Keseluruhan film berkisah tentang konflik yang destruktif antara kedua karakter tersebut -mayoritas di ruang kelas dan panggung- dan semuanya diceritakan dengan alami serta apa adanya layaknya film-film festival anti-mainstream; Tak ada ‘paksaan’ bagi para penonton atau para karakter di dalam filmnya sendiri untuk mengambil pesan moral atau pelajaran hidup seperti film-film drama blockbuster Hollywood pada umumnya.

Cerita Whiplash yang cukup intens secara emosional ini diperkuat oleh akting Miles Teller dan J.K. Simmons yang cemerlang. Teller bisa dengan bagus memerankan sesosok pemuda yang pendiam dan tertutup tapi ambisi dan cita-citanya setinggi langit. Simmons juga mampu memerankan seorang guru yang, meski sekilas tampak kerjanya cuma marah-marah, tapi melakukannya dengan penuh perhitungan dan mampu menunjukkan rentang emosi lainnya dengan sama meyakinkannya.

Dibandingkan dengan film Oscar-bait lain yang pernah saya tonton seperti Silver Linings Playbook dan American Hustle, mungkin Whiplash adalah film terfavorit saya; Dua film itu membuat saya lelah seusai menontonnya, tapi film ini -dengan ceritanya yang sangat fokus dan akting yang memukau- membuat saya ingin menontonnya lagi hanya sekedar untuk ‘menikmati’ interaksi antara Teller dan Simmons yang brutal.

Iklan

2 comments

  1. […] Harus saya akui, film musikal bukanlah genre film favorit saya. Saya masih bisa tetap menikmati lagu dan tariannya sih, hanya saja mungkin saya tidak akan berusaha keras untuk menonton film musikal di bioskop. Dengan subyektivitas yang demikian, pesona La La Land tetap terlalu menggoda untuk ditolak. Ia mendapat resensi positif dan banyak penghargaan di mana-mana. Dan sutradaranya, Damien Chazelle, memiliki rekam jejak yang bagus di mata saya dengan film sebelumnya, Whiplash. […]

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s