Web Log 16 – 29 November 2015

Unfollow: How a prized daughter of the Westboro Baptist Church came to question its beliefs (New Yorker) – Judul esainya bisa dijawab dengan satu hal: Twitter. Menarik melihat bagaimana interaksi santai dengan orang-orang yang berseberangan pandangan akhirnya bisa membuka pikiran seorang rasis/homofobik untuk melihat mereka sebagaimana adanya: Sesama manusia.

Persepsi Monoton tentang Penonton (Cinema Poetica) – Kritik terhadap riset salah satu lembaga survei mengenai “pola menonton kelas menengah kaum urban Jakarta”. Terlepas dari kritiknya, saya tertarik dengan hasil surveinya sendiri; Genre favorit/paling tidak disukai, perlunya informasi pendahuluan (seperti label ‘adaptasi novel’ atau ‘biografi’) sebelum memutuskan menonton apa, juga persepsi mengenai film Indonesia.

Getting to Si, Ja, Oui, Hai, and Da (Harvard Business Review) – Tips-tips praktis mengenai bagaimana melakukan negosiasi tingkat internasional. Intinya adalah memperhatikan bagaimana tiap budaya mengungkapkan pendapat dan emosinya dengan cara berbeda. Agak sedikit stereotipikal, terutama ketika saya membaca contoh kasus di Indonesia. Do we really do that?

The Imam Who Wants to Purge France’s Mosques (Bloomberg) – Kondisi institusi mesjid di Prancis menurut seorang imam moderat (yang sering dituduh liberal di sana). Satu fakta menarik yang saya baca adalah sekitar 1800 dari 2500 mesjid di Prancis disokong oleh Maroko, Aljazair, dan Turki; Maka imamnya pun sering ‘diimpor’ dari negara penyokongnya dan dianggap kurang memahami budaya umat muslim yang, meski banyak yang keturunan dari tiga negara itu, tapi lahir dan besar di Prancis.

Evangelical Groups Tell Political Leaders: ‘Jesus Was A Refugee’ (NPR) – Agak melegakan ketika basis massa partai Republikan -partai yang calon-calon presidennya sangat anti-imigran- masih punya hati nurani untuk mengingatkan calon pemimpinnya mengenai nilai moral paling mendasar dari Kekristenan.

Jesus himself was a refugee. He fled as a small child to Egypt when there was a tyrannical government threatening his life. So as Christians we don’t really have a choice but to welcome refugees.

 

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s