Film: Spectre (2015)

Serial James Bond -setidaknya sejak era Daniel Craig- sudah menjadi tontonan bioskop wajib bagi saya. Meski tidak termasuk kategori masterpiece sinema, film-film James Bond sejauh ini memberikan paket hiburan aksi Hollywood yang lengkap dan berkualitas. Apalagi tiga tahun yang lalu, Sam Mendes berhasil menyutradarai Skyfall yang berhasil mempertahankan -dan bahkan meninggikan- standar itu, sehingga saya berharap banyak pada Spectre yang juga disutradarai oleh orang yang sama.

spectre

Sejak awal hingga akhir film, penyutradaraan Sam Mendes yang piawai memang menjadi kekuatan utama Spectre. Dari Meksiko, Roma, Austria, Maroko, hingga kembali ke London, Mendes mampu menyajikan adegan-adegan aksi yang benar-benar memanfaatkan keunikan dan keindahan setiap tempat itu: Dan sama seperti Skyfall, adegan-adegan aksi di film ini juga digambarkan dengan rapih sehingga gampang diikuti dan dinikmati.

Sayangnya, mungkin ‘kecantikan’ film ini hanya sebatas kulitnya saja. Selain aspek visual, menurut saya tidak ada aspek-aspek lain dari Spectre yang berhasil menyamai, apalagi melampaui standar yang ditetapkan Skyfall. Ceritanya, meski mencoba untuk me-reboot organisasi jahat SPECTRE yang menjadi elemen penting film-film James Bond lama, justru terlalu keras berusaha untuk menyatukan tiga film James Bond sebelumnya sampai lupa untuk membawa sesuatu yang baru dan segar.

Miskinnya kreativitas Spectre tidak hanya sebatas cerita, tapi juga pada elemen aksinya. Ya, dua paragraf sebelumnya saya memang mengakui adegan aksinya bersih dan enak dipandang, tapi lagi-lagi tidak ada adegan aksi yang benar-benar ‘gila’ atau ikonik seperti penyerbuan Skyfall Manor di film sebelumnya; Yang saya temui hanyalah adegan-adegan yang rata-rata sudah dieksekusi dengan lebih baik dan lebih orisinal di belasan film aksi mata-mata lainnya.

Yang lebih mengecewakan saya dari film ini adalah karakterisasi dan aktingnya. Saya tidak membicarakan Daniel Craig yang aktingnya memang…yaah, cuma sebatas itu saja; Yang saya tunggu-tunggu biasanya adalah seberapa karismatik atau menakutkannya musuh James Bond kali ini. Tapi Christoph Waltz, pemenang dua Oscar sebagai pemeran pembantu terbaik, justru tampil biasa-biasa saja sebagai Franz Oberhauser, bos besarnya SPECTRE; Senada dengan elemen film lainnya, akting Waltz tidak banyak berbeda, bahkan cenderung kurang mengesankan, dibanding peran-peran sebelumnya di Inglourious Basterds dan Django Unchained.

Jadi, setelah pelbagai keluhan di atas, apakah Spectre adalah film yang buruk? Saya masih merasa bahwa film ini cukup baik untuk genre aksi mata-mata, tapi sulit untuk tidak merasa kecewa ketika segala kelebihan pendahulunya, Skyfall, masih lekat di ingatan. Untuk ini saya setuju dengan penilaian istri saya yang merasa film ini justru ‘turun derajat’ sehingga jadi terlalu mirip dengan Mission Impossible: Rogue Nation yang tayang beberapa bulan lalu.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s