Web Log 19 – 31 Oktober 2015

Chen De Xiu (Wikipedia) – Rasanya kita patut berbangga karena ada perwakilan anak bangsa di dalam pantheon dewa-dewi Taoisme. Juga dikenal sebagai Tan Tik Siu, ia lahir di Surabaya di akhir abad ke-19. Menjadi terkenal di Jawa karena menyembuhkan orang-orang sakit tanpa memungut biaya, sebelum akhirnya wafat di Penang pada tahun 1929.

Why trying to help poor countries might actually hurt them (The Washington Post) – Angus Deaton, pemenang Nobel Ekonomi tahun ini, punya beberapa kritik mengenai cara negara-negara maju berusaha membantu negara-negara berkembang. Satu poinnya yang patut direnungkan: Bantuan asing yang besar memperlemah kontrol rakyat atas pemerintahnya, karena pemerintah tak lagi terlalu bergantung pada pajak (yang dipungut dari rakyat) untuk menjalankan negara.

“Indonesia Merdeka? Apa Gunanya” Kata Tuan Vermijs (Narakata) – Sebuah petikan sejarah Indonesia di tahun 1942 dari Asmara Hadi, seorang wartawan yang tak pernah saya dengar namanya dari terbitan yang tak pernah saya dengar namanya pula. Blog Narakata ini punya segudang cerita sejarah Indonesia lainnya yang ditulis dengan sangat memikat, mengingatkan saya akan novel-novelnya Pram.

How School Shootings Spread? (New Yorker) – Artikel dari Malcolm Gladwell mengenai fenomena penembakan massal di Amerika yang kelihatannya makin marak sekarang. Ia menggunakan model behavioral threshold untuk menjelaskan bagaimana penembakan berikutnya dipengaruhi oleh penembakan-penembakan sebelumnya. Mungkin saya akan bikin pos khusus terkait hal ini.

How Ibn Khaldun Explains Walmart Share Slide (The Atlantic) – Mungkin saya hipster karena menyukai artikel-artikel semacam ini: Fenomena yang mainstream dibahas lewat kerangka pandang yang tidak biasa. Kali ini membahas mengenai menurunnya pertumbuhan Walmart, jaringan hipermarket besar di Amerika, melalui teori Ibnu Kaldun bahwa kerajaan-kerajaan besar bangkit dan runtuh dalam hitungan tiga generasi.

Why It’s OK to Block Ads (Practical Ethics) – Perspektif lain mengenai mengapa memblokade iklan situs yang mengganggu bisa menjadi etis dan bukannya ‘perampokan’. Ini berkaitan dengan sumber daya kita yang makin terbatas (dus, makin berharga) seiring dengan membludaknya informasi: Perhatian (atensi) kita – dan ini yang disasar oleh para pengiklan.

Kita Tak Butuh Nasionalisme Maskulin (Selasar) – Tanggapan bersudut pandang feminisme atas artikel sebelumnya yang cukup seksis: Bela Negara dan Maskulinitas Bangsa. Menarik melihat bagaimana nasionalisme dilabeli dengan peran gender; Satu komentar di artikelnya berpendapat bahwa label maskulinlah yang disematkan karena wujud patriotisme paling dasariah adalah berperang.

The Difference Between Good Worldbuilding and Great Worldbuilding (io9) – Tips mengenai membangun setting fiksi ilmiah atau fantasi yang hebat. Setuju dengan intinya: Hal-hal yang sengaja dilewatkan atau disampaikan sepintas lalu justru bisa lebih berkesan dibandingkan blok paragraf panjang berisi penjelasan deskriptif.

The Tale of Richland (dikamarmandi.in) – Olahraga pikiran dan imajinasi tentang bagaimana menciptakan negara yang paling kaya -paling berjaya dalam sistem kapitalisme- di dunia. Yang menarik adalah fokusnya pada sikap hidup yang perlu dimiliki masyarakatnya untuk mencapai itu. Cukup ‘tertabok’ jika bisa melihat paralelnya dalam dunia nyata.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s