Mengapa Ingin Punya Anak

Sewaktu saya mempersiapkan pernikahan dengan istri beberapa tahun yang lalu, kami bersepakat untuk menunda memiliki anak selama setahun pertama pernikahan. Waktu itu pertimbangannya ada dua: Yang pertama adalah karena kami merasa membutuhkan waktu ‘eksklusif’ berdua yang agak lebih lama; Masa berpacaran kami tergolong cukup singkat (sekitar 11 bulan), jadi kami merasa ‘berhak’ memperpanjang masa pacaran sampai ke tahun pertama pernikahan.

bayi

Pertimbangan yang kedua adalah untuk mempermudah proses adaptasi. Menikah dan hidup berdua di bawah satu atap saja sudah merupakan perubahan hidup yang besar dan tiba-tiba. Kami merasa tidak perlu harus membuatnya semakin rumit dengan menambah satu tanggungan lagi segera setelah menikah.

Tak terasa sudah tiga tahun berlalu, dan kini mungkin tinggal sekitar satu bulan lagi sebelum saya menjadi ayah. Momen ini membuat saya merefleksikan kembali motivasi awal saya:

Why do we even want to have kids?

Orang lain punya alasannya sendiri-sendiri. Di luar tekanan normatif dari keluarga-sosial-agama, ada yang ingin punya anak agar bisa menurunkan gen atau nama keluarganya. Ada yang ingin punya anak agar ada yang bisa merawatnya saat dia sudah sepuh. Ada pula yang memang suka dengan kelucuan anak-anak dan merasa ada bagusnya punya satu (atau lebih) yang seperti itu di rumah.

Saya sendiri? Saya ingin menambah satu lagi orang baik di dunia ini. Bukan berarti saya ingin punya anak yang seperti malaikat; ‘Baik’ bisa dalam artian sesederhana membuat hari seseorang lebih cerah, lebih tidak muram. Dan di tengah dunia yang blangsak ini, hal yang sederhana itu bisa berarti banyak.

Ya, mungkin terdengar konyol. Atau terlalu idealis. Tak ada jaminan bahwa anak saya bakal jadi orang baik-baik. Bahkan sayapun akan tersipu-sipu malu sambil introspeksi dengan serius jika ada yang menyebut saya ‘orang baik’. (Lalu saya jadi teringat isu parenting yang mengkritik para orang tua yang menuntut agar anaknya mewujudkan cita-cita ayah-ibunya yang tidak kesampaian…)

Tapi ya tetap saja: Seburuk-buruknya, senaif-naifnya alasan itu, saya tidak bisa menyangkal bahwa itu yang saya inginkan. Di tengah doa klise para kerabat yang ingin agar anak saya menjadi anak yang berbakti pada orangtua serta berguna bagi bangsa, negara, dan agama, satu lagi orang yang bisa membawa kebaikan mestinya bukanlah harapan yang berlebihan… kan?

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s